| |
||||
| Melihat Wilayah Kutub Dr. Veijo Pohjola adalah seorang ahli glasiologi, klimatologi, dan geologi dari Institut Geosains di Universitas Uppsala, Swedia. Ia adalah kepala proyek Tahun Polar Internasional yang memprakarsai Kinnvika, sebuah studi terhadap perubahan iklim dan dampaknya bagi wilayah kutub. Tahun Polar Internasional merupakan sebuah kerja sama lebih dari 50 ilmuwan dan lebih dari sepuluh negara yang diorganisasi oleh Dewan Internasional untuk Ilmu Pengetahuan dan Organisasi Meteorologi Dunia. Mereka mencari pemahaman yang lebih baik tentang kerja sistem iklim. Prakarsa ini memfokuskan diri pada Wilayah Kutub Utara dan Wilayah Kutub Selatan sebagai wilayah-wilayah yang mengalami perubahan tercepat. SUPREME MASTER TV: Selama musim semi kedua Tahun Polar Internasional, Anda akan memimpin sebuah penelitian di Arktik lagi. Mengapa Arktik? Dr. Pohjola: Alasan mengapa kami di lembaga penelitian Kinnvika tertarik untuk mempelajari Arktik, karena kami sebagai manusia khawatir jika kita menyumbang sesuatu yang disebut dampak rumah kaca yang berarti meningkatkan panas global. Dan wilayah-wilayah yang akan mengalami perubahan terbesar adalah wilayah yang paling dingin sekarang ini dan mempunyai perubahan energi terbesar, dimana banyak udara panas dari badai, udara, dan juga dari samudra, yang berjalan bersama arus lautan, sebagai contoh, Arus Teluk ke Svalbard. Svalbard adalah sebuah wilayah yang telah dipelajari selama 150 tahun sejarahnya, jadi ada banyak latar belakangnya. SUPREME MASTER TV: Dr. Pohjola: Kami bukan saja sudah mengundang ahli glasiologi, tapi kami juga sudah mengundang semua jenis ilmuwan yang mempelajari semuanya mulai dari batu-batuan, geologi, sampai biologi yang mengamati kehidupan dan bagaimana ia berubah di sana. Kami bahkan sudah mengundang ahli sejarah bidang ilmu pengetahuan, sesungguhnya juga sudah melakukan diskusi dengan para ilmuwan yang mengamati bagaimana gedung-gedung sedang berubah di daerah Arktik. Dr. Pohjola: Ada perubahan yang dramatis pada es lautan di Samudra Arktik yang terletak di atas atau sekitar Kutub Utara. Terdapat perubahan yang lebih besar daripada yang bisa kita bayangkan dan kami mengaitkan mereka dengan pelepasan gas rumah kaca oleh manusia. Kami sudah melakukan percontohan ini beberapa tahun yang lalu, dan sudah melihat bahwa ia terus bergerak lebih cepat daripada yang kami perkirakan. Dan ini membuat kita sungguh-sungguh khawatir tentang apa yang akan terjadi. Jika kita membuat interpolasi linear secara praktis, kita bisa melihat penurunan eksponen dari permukaan es lautan. Dan seandainya kita membuat satu perkiraan sederhana, maka mungkin kita bisa menyimpulkan bahwa ia tidak akan berakhir untuk beberapa tahun yang akan datang. Dr. Pohjola: Itu merupakan proses yang memerlukan waktu yang cukup lama. Iklim merupakan rata-rata 30 tahun dari sejarah cuaca. Dan mungkin kita membutuhkan data selama 100 tahun, mungkin juga data selama 150 tahun untuk mendapatkan gambaran kesimpulan dan kita tidak mempunyai cukup waktu jika kita berpikir bahwa kita mempengaruhi iklim dengan cara tersebut. Hal itu berarti jika kita dipaksa untuk berpikir tentang kehidupan dengan cara yang lain; saya rasa, khususnya di dunia Barat, kita harus mengurangi konsumsi agar sesuai dengan kebutuhan Bumi kita. SUPREME MASTER TV: Dr. Pohjola: Sebagai contoh, saya berencana untuk melakukan sebuah ekspedisi ke Svalbard saat ini dan pada tahun-tahun sebelumnya tidak ada masalah pergi dengan menggunakan perahu pada bulan Juni di sana karena esnya menipis atau tidak ada. Tetapi tahun ini kami tidak dapat ke sana. Sepertinya terlalu banyak es di atas sana. Sama halnya dengan es di Greenland, dan Greenland sebelah Timur. Begitu banyaknya es di sana sehingga beruang kutub harus datang ke Iceland dan di sana secara alami tidak ada beruang kutub. SUPREME MASTER TV: Dr. Pohjola: Sebagai seorang ahli geologi, saya melihat segala sesuatu berubah sangat cepat dari waktu ke waktu dan juga sebelum manusia ada. Dan saat seseorang meneliti contoh es dari Greenland maka mereka dapat melihat perbedaan antara zaman es dan bukan-zaman es yang ada hanya sekitar 10 tahun. Jadi perubahan secara alami sedang terjadi secepat kilat dan karena itu saya tidak mau mengatakan bahwa perubahan lautan es yang kita lihat saat ini adalah unik. Itu dapat terjadi sama persis seperti kejadian sebelumnya, akan tetapi saat ini akan lebih dibanding sebelumnya, saat dimana belum ada jutaan manusia di Bumi. Kita tidak mempunyai masyarakat yang maju dan satwa-satwa yang ada mungkin dapat beradaptasi terhadap perubahan yang besar dalam periode yang singkat, setidaknya beberapa spesies dan lainnya akan beradaptasi atau pindah. Tetapi lima sampai enam juta manusia tidak dapat pindah, kota-kota kita tidak bisa pindah. Inilah masalah kita yang kompleks / rumit. SUPREME MASTER TV: Seberapa pentingnya ketiga negara kerajaan tersebut: Swedia, Norwegia, dan Denmark berpartisipasi dalam kegiatan Anda? Dr. Pohjola: Mereka tidak perlu dipilih. Mereka sudah terpilih saat dilahirkan, Anda dapat melakukan hal tersebut. Sebagai sebuah negara kecil tidak dapat melakukannya sendiri dan saya rasa ini patut dipuji. Kami juga mempunyai sebuah kolaborasi Nordik yang sangat besar. Di dalamnya ada banyak orang Finlandia, beberapa orang Norwegia, dan beberapa orang Denmark yang terlibat dalam penelitian kami. Jadi saya berpikir hal tersebut sangat baik. Dari semua yang memiliki perasaan simbolik adalah negara-negara kerajaan tersebut memperlihatkan bahwa ini adalah prioritas, bahwa penelitian iklim dan penelitian kutub sangatlah penting. Hal itu mengirimkan sinyal kepada komunitas bisnis, untuk masyarakat yang ingin mendonasikan uangnya untuk penelitian. Saya dapat mengambil kesimpulan berkenan dengan penelitian iklim, itu bukan lagi pertanyaan akademik. Dr. Pohjola:
|
||||