| |
|||||||
Perubahan Iklim
Membahayakan Kelangsungan Spesies Wilayah Tropis Keadaan Rapuh dari Tanaman Obat Membahayakan Kesehatan Publik Suatu penelitian
internasional yang dilakukan oleh Perlindungan Kebun Raya Internasional
menunjukkan bahwa kira-kira 400 tanaman obat menghadapi resiko punah karena
efek perubahan iklim pada ekosistem dan juga praktik-praktik seperti
pemungutan hasil panen dan penebangan hutan yang berlebihan. Spesies-spesies
tanaman obat yang terancam saat ini termasuk magnolia, Pemanasan Global Mengakibatkan Migrasi Hewan Penelitian telah
menunjukkan bahwa 30 spesies reptil dan amfibi berpindah menuju tempat yang
lebih tinggi ke ekosistem yang lebih dingin. Ahli biologi Christopher
Raxworthy dari Museum Amerika untuk Sejarah Alam mengatakan bahwa pada
akhirnya tidak ada lahan yang lebih tinggi yang tersedia. Dua spesies katak
dan tokek sekarang berada dalam bahaya kepunahan. Perubahan Iklim dapat Membuat Spesies Burung Australia di Tepi Jurang Kepunahan Dengan 10 spesies
burung yang sudah punah dan 60 lainnya yang berada di ambang nasib yang
sama. Profesor David Paton dari Unversitas Adelaide di Australia mengatakan,
“Ada risiko nyata bahwa Anda akan kehilangan setengah spesies burung dari
wilayah ini. Saya pikir itu adalah sesuatu yang tidak boleh ditolerir oleh
masyarakat mana pun.” Profesor Paton merencanakan sebuah proyek berskala
besar untuk menumbuhkan tanaman hingga 150.000 hektar di Gunung Lofty Ranges
di Australia selatan yang akan melindungi flora dan fauna asli dari
kepunahan. Diperkirakan bahwa pekerjaan ini membutuhkan minimum hampir US$19
juta untuk meluncurkan Inisiatif Pemulihan Hutan. Dr. Paton optimis bahwa
kehilangan spesies yang bertambah dapat dihindari jika habitat yang cocok
dan subur dipulihkan kembali. Ikan-ikan Hiu Terancam Punah Akibat Perubahan Iklim Studi baru-baru ini yang
dimuat dalam jurnal Pelestarian Biologi menyatakan bahwa populasi dari
banyak spesies ikan hiu yang berkurang dengan cepat membuat para ilmuwan
prihatin tentang dampaknya terhadap ekosistem laut secara keseluruhan.
Kelompok-kelompok pelestarian menyerukan agar dilakukan langkah-langkah
global untuk melindungi ikan hiu itu, bahkan beberapa jenis hampir lenyap
sama sekali.
Spesies Anjing Laut Pertama Kali Dideklarasikan Punah Akibat dari Kegiatan Manusia Setelah tidak terlihat
selama lebih dari 50 tahun, anjing laut di Karibia atau India Barat sekarang
dinyatakan punah. Anjing laut subtropis yang pernah ditemukan secara
berlimpah di Laut Karibia, Teluk Meksiko, dan sebelah barat Samudera
Atlantik, pada dasarnya diburu sampai punah. Dua spesies berhubungan
lainnya, anjing laut Mediteranian dan Hawai baru-baru ini terdaftar sebagai
satwa yang terancam punah, dengan perlindungan intensif yang diperlukan
untuk menghindari kepunahan mereka juga. Hewan primata lebih terancam daripada yang diperkirakan Dr. Russell Mittermeier, Ketua dari Konservasi Internasional dan ketua dari Persatuan Internasional untuk Pelestarian Alam, telah melaporkan bahwa hampir separuh dari semua spesies monyet dan kera berada dalam ancaman kepunahan akibat kegiatan penebangan hutan dan perburuan untuk daging. Hal ini menunjukkan pengurangan hampir 10% dari sebuah penelitian yang dilaksanakan 5 tahun lalu. Dr. Mittermeier menyatakan, “Kami memiliki data yang kuat untuk menunjukkan bahwa situasi tersebut lebih parah daripada yang kita bayangkan.” Ia melanjutkan dengan berkata bahwa 304 spesies dari simpanse, orang hutan, kera berlengan panjang, dan kukang mungkin akan lenyap kecuali jika dilakukan tindakan yang cukup untuk melestarikan habitat mereka serta melindungi mereka.
http://www.enn.com/wildlife/spotlight/37847 Naiknya Kandungan CO2 di Atmosfer Mengganggu Kehidupan Laut Para ilmuwan dari
Universitas Plymouth di Inggris melakukan evaluasi dampak karbon dioksida
yang diserap laut melalui sebuah studi di lubang CO2 alamiah yang ditemukan
di Laut Mediterania. Studi tersebut menunjukkan bahwa di dekat lubang dasar
laut ini, CO2 membuat air menjadi lebih asam dan mengakibatkan hilangnya
keanekaragaman laut dalam perbandingan yang sama dengan pengasaman. Karena
berkurangnya kalsium di air yang asam, kerangka keong menjadi hancur dan
terumbu karang tidak dapat terbentuk. Dr. Carol Turley dari Laboratorium
Laut Plymouth mengatakan, “Ini berarti satu-satunya cara untuk mengurangi
pengasaman laut adalah dengan pengurangan emisi CO2 dalam jumlah yang
besar."
Hari Lautan Sedunia Menawarkan Kesempatan untuk Melindungi Lautan Untuk menghormati
hari tersebut yang dirayakan secara informal oleh PBB dan
organisasi-organisasi lain pada tanggal 8 Juni, Badan Pelestarian Alam yang
berbasis di AS telah mengeluarkan daftar perubahan sederhana yang bisa
dilakukan orang untuk merawat lautan dunia yang rapuh dengan lebih baik.
Daftar paling atas adalah meminimalkan pemakaian plastik dengan beralih ke Populasi Ikan Dunia Menyusut Organisasi Pangan dan
Pertanian PBB menyatakan bahwa 75% dari semua spesies ikan komersial telah
ditangkap secara berlebihan. Callum Roberts, profesor konservasi laut di
Universitas York, Inggris, serta para ilmuwan lainnya, mengatakan bahwa
penangkapan ikan berskala industri sejak 90 tahun yang lalu telah
menyebabkan bukan hanya hilangnya ikan, tetapi seluruh rantai makanan
biologis. Dr. Roberts menyarankan penetapan segera area perlindungan
permanen Perubahan Perilaku Burung Berhubungan dengan Perubahan Iklim Para peneliti
Universitas Oxford di Inggris menemukan bahwa burung gelatik batu sekarang
bertelur kira-kira 2 minggu lebih awal daripada setengah abad yang lalu,
sebagai penyesuaian terhadap pemanasan global. Sementara itu, terlihatnya
dua burung tropis di dekat Pulau Po Toi di bagian paling selatan Hong Kong,
untuk yang pertama kalinya, juga disebabkan oleh temperatur yang lebih
hangat. Ketua Lembaga Pemantau Burung Hong Kong, Cheung Ho-fai mengatakan,
“Burung-burung sangat sensitif terhadap perubahan iklim dan mengamati mereka
adalah cara yang baik untuk memahami perubahan-perubahan.” Perubahan Iklim dan Polusi Mempengaruhi Burung-burung di Seluruh Dunia Program Lingkungan
Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) berkata pada hari Selasa bahwa penurunan
secara keseluruhan jumlah burung yang bermigrasi adalah tanda bahaya adanya
perubahan dalam keanekaragaman hayati di seluruh dunia. Burung-burung amat
sensitif terhadap perubahan iklim dan karena itu bisa menjadi indikator yang
tepat akan perubahan pola iklim. Burung-burung air seperti pinguin secara
khusus rentan terharap efek perubahan iklim. Heidi Geisz, ahli biologi laut
di Institut Ilmu Laut Virginia di AS, telah menemukan pestisida terlarang
DDT dalam badan pinguin Adélie. Diperkirakan bahwa zat tersebut terperangkap
dalam lapisan es pada tahun 1960 ketika DDT diproduksi dan sekarang terlepas
karena perubahan iklim. Para pembuat Undang-Undang AS mulai memperhatikan lautan dan perubahan iklim Sebuah simposium 3-hari
di Washington, DC, berakhir tanggal 5 Juni, dimana ilmuwan-ilmuwan
terkemuka, konsultan-konsultan pelestarian lingkungan, dan para pembuat
kebijakan AS membicarakan keprihatiaan mengenai dampak pemanasan global
terhadap lautan.
Dr. Paul Sandifer, Senior
Scientist, National Oceanic and Atmospheric Administration, USA:
Senator John Kerry,
Democratic Party – Massachusetts, USA:
|
|||||||