| |
||||
| Pulau-pulau yang Tenggelam di Pasifik Selatan Program Lingkungan PBB (UNEP) telah terlibat dalam berbagai usaha untuk mengurangi perubahan iklim. UNEP mendukung penelitian kebijakan sosial dari Panel Antarpemerintah Tentang Perubahan Iklim (IPCC) dan menolong negara berkembang di Afrika untuk memaksimalkan efisiensi energi. Anggota di organisasi itu juga meningkatkan kepeduliannya tentang negara-negara kepulauan yang tenggelam di tengah samudra akibat naiknya permukaan laut. Direktur Regional UNEP Asia dan Pasifik, Bapak Surendra Shrestha adalah orang Nepal asli yang juga dikenal sangat efektif dalam mendukung keuangan dan politik mobilisasi program UNEP. Surendra Shrestha, dari Kantor Wilayah Program Lingkungan PBB untuk Asia dan Pasifik: Jika kita melihat pulau kecil seperti Maladewa, sebagai contoh; Maladewa dalam kurun waktu 4 tahun telah kehilangan 6 pulaunya. Di Indonesia, para menteri telah memberitahu kami bahwa mereka telah kehilangan 30 pulaunya, semuanya di bawah laut. Jadi jika permukaan air laut naik satu meter atau di atasnya maka negara seperti maladewa tidak akan ada lagi. Seluruh negara tersebut akan hilang. Jadi ini benar-benar masalah yang serius. SUARA: Lebih dari separuh populasi dunia tinggal di daerah-daerah pantai. Naiknya permukaan air laut tidak dapat dihindari dan akan menimbulkan migrasi besar-besaran yang disebut dengan pengungsi lingkungan. UNEP telah bekerja untuk membuat program lokasi bebas, tapi di masa depan ini tidak akan cukup. Surendra Shrestha: PBB telah membantu program tersebut, membantu pemerintah tentang hal ini. Tapi ini hanya satu atau dua pulau. Tapi jika kita memiliki populasi yang besar, seluruh negara Maladewa, atau jika kita melihat ke Pasifik Selatan seperti Tuvalu maka negara yang ada di pulau kecil itu akan tenggelam seluruhnya. Peningkatan permukaan laut akan lebih tinggi daripada yang diperkirakan sebelumnya
Selama konferensi Perserikatan Ilmu Bumi Eropa bulan lalu, ilmuwan memperkirakan bahwa mencairnya selubung es dan pemanasan air laut dapat meningkatkan permukaan laut setinggi 1,5 meter pada akhir abad ini. Perkiraan ini tiga kali lebih tinggi dari yang dilaporkan oleh Panel Antarpemerintah Tentang Perubahan Iklim (IPCC) tahun lalu. Penemuan ini telah meningkatkan kekhawatiran baik para ilmuwan maupun pemerintah negara kepulauan yang sangat rentan akan ancaman ini. Dr. Benjamin Fong Chao, Dekan Institut Ilmu Bumi, Universitas Nasional Pusat Formosa (Taiwan), Mantan Ilmuwan Nasa: Salah satu dampak dari Pemanasan Global adalah naiknya permukaan air laut. Ini benar-benar masalah global karena sebagian besar dari peradaban kita terletak hanya beberapa meter di atas permukaan laut. Jadi peningkatan permukaan air laut dalam beberapa waktu akan berdampak pada perekonomian dunia dan kehidupan manusia. Sebagai negara kepulauan, Taiwan seharusnya dan tentu saja sangat berhati-hati terhadap masalah ini. SUARA: Berdasarkan analisa terakhir yang dilakukan olen tim gabungan Inggris-Finlandia, permukaan air laut selama 2000 tahun terakhir stabil, pengukuran hanya mencatat kenaikan 2 cm pada abad ke-18 dan 6 cm pada abad ke-19, tapi kemudian terjadi kenaikan 19 cm yang tiba-tiba dan membahayakan di akhir abad ini. Ini disebabkan oleh mencairnya permukaan es. Bagi ahli iklim, angka sekecil ini sangatlah signifikan, dengan kemungkinan dampak yang lebih kompleks dari yang kita mengerti selama ini. Dr. Benjamin Fong Chao: Ini sangat serius, karena kita tidak dapat memperkirakan masa depan. Apakah kenaikan permukaan air laut akan menjadi bencana, ini berada di luar kemampuan kita untuk memperkirakannya. Selain itu, permukaan air laut sebenarnya menjadi alat ukur yang mencerminkan keseriusan dari pemanasan global. Berkenaan dengan hal itu, kenaikan air laut harus dimonitor dari dekat. http://news.bbc.co.uk/1/hi/sci/tech/7349236.stm http://environment.newscientist.com/article/dn13721-sea-levels-will-rise-15-metres-by-2100.html
|
||||