| |
||||
| Hemat Energi Mulai dari Pola Makan Kita (Oleh Prasasto Satwiko) Selera akan kenikmatan (kelezatan)
membutakan mata pikiran dan mata hati manusia, menjadikan manusia boros
energi dan merusak alam. Manusia terus sibuk mencari pembenaran bagi
tindakan mereka yang tak masuk akal dalam memakai energi dan merusak alam.
Demi melanggengkan selera akan kenikmatan mereka, manusia rela mengkhianati
logika mereka sendiri. Kemampuan berlogika yang dengan congkak mereka yakini
membedakan spesies manusia dengan spesies lain.
Pemakaian energi untuk
menghasilkan sepotong daging dapat dilacak dari kebutuhan energi dalam:
Perkiraan Konsumsi Energi untuk Pemrosesan
Makanan R Sainz, “Framework for Calculating Fossil Fuel Use in Livestock System”, Livestock, Environment and Developmenet initiative report (LEAD) Intergovernmental Panel on Climate Change pada tahun 2007 telah menyatakan bahwa 90% penyebab pemanasan global adalah ulah manusia membakar bahan bakan fosil. Karbon dioksida (CO2) dianggap paling menyebabkan pemanasan global yaitu 29,5% dari sektor pembangkit daya, 20,6% dari sektor industri dan 19,2% dari sektor transportasi. Sebenarnya selain karbon dioksida, metana (CH4) dan nitrogen oksida (N2O) juga termasuk Gas Rumah Kaca (GRK). 3 Pada publikasi Maret 2006 U.S. Environmental Protection Agency melaporkan
bahwa metana 23 kali lebih efektif dalam menjebak panas di bumi dibandingkan
karbon dioksida. Sedangkan nitrogen oksida 296 kali lebih berpotensi menjadi
GRK daripada karbon dioksida. Jadi sangatlah keliru jika kita hanya
berkonsentrasi pada pengurangan karbon dioksida. Masalahnya, siapa yang
memproduksi metana dan nitrogen oksida? Ternyata peternakan menjadi sumber
terbesar metana (sekitar 40%). Sementara PBB melaporkan bahwa industri
daging, telur dan produk hewani lain melepaskan 60% N2O di bumi. Jadilah
industri daging salah satu penyebab besar masalah lingkungan yang serius.
Sumbangan gas rumah kaca industri peternakan (CO2, NH4, N2O) sebesar 18%
adalah lebih besar dari emisi yang dikeluarkan oleh seluruh moda
transportasi di dunia (13%). Menurut U.N. News Centre beternak menghasilkan
lebih banyak GRK daripada mengendarai mobil. Peternakan menghabiskan makanan
setara dengan kalori yang dibutuhkan oleh 8,7 miliar manusia, lebih banyak
daripada penduduk bumi saat ini sebanyak 6,6 miliar. Sesungguhnya 20% (1,4
milyar) penduduk dunia dapat diberi makan dari bahan makanan yang dikonsumsi
peternakan di Amerika saja. Dibutuhkan 16 pon bijian untuk menghasilkan 1
pon daging dan 5 pon ikan liar untuk 1 pon daging ikan budidaya. Sebagai hewan, manusia juga menghasilkan CO2 yang saat ini rata-rata 4.060 kg pertahun. Agar kenaikan suhu global bisa ditahan di bawah 2oC, manusia harus menekan emisi CO2 mereka hingga 2.000 kg pertahun pada tahun 2060. Indonesia adalah negara penghasil CO2 nomor 11 di dunia. Jika penduduk Indonesia 230 juta jiwa, maka setiap tahun menyumbang 933,8 milyar kg CO2 ke atmosfer. Pemakan nabati dapat mengurangi emisi CO2 sebesar 1.500 kg pertahun. Jika 230 juta jiwa beralih ke menu nabati maka setahun hanya akan dilepas 588,8 milyar kg CO2. Sebagai tambahan, saat ini ada sekitar 11 juta sapi di Indonesia. Bila seekor sapi melepas 1.270 kg CO2 maka sumbangan seluruh sapi adalah 13,97 milyar kg CO2 per tahun. (Catatan: ada pendapat yang menyatakan bahwa CO2 yang dihasilkan sapi adalah CO2 yang tadinya diambil tumbuhan pangan dari atmosfer, sehingga tidak perlu dipusingkan.) 5 Pemahaman energi sebagai suatu sistem harus terus disebarkan kepada masyarakat secara luas. Waktu sudah semakin sempit untuk menyelamatkan bumi kalau tidak mau dikatakan terlambat. Tidak boleh lagi ada pihak-pihak yang menutupi (membungkam) angka-angka dibalik semua krisis ini di bumi. Angka-angka yang muncul sebagai penjelas masalah energi, pangan dan kemanusiaan (ledakkan penduduk) di media harus dianggap sebagai bagian dari ekspresi suatu sistem besar, bukan angka-angka terpisah. Kehancuran pertanian di negara berkembang oleh rezim perdagangan global, tantangan penyediaan pangan akibat ledakan penduduk, tuntutan mengubah gaya hidup untuk menyelamatkan bumi, gangguan kepanikan dan spekulasi yang mengganggu supply and demand50, menjadi bagianbagian kecil dari masalah kelangsungan sistem energi bumi untuk mendukung kelestarian hayati dan non-hayati. Bagi Indonesia, memang sudah ada kesadaran bahwa kita telah masuk ‘perangkap pangan’ negara maju dan kapitalisme global. Namun, belum sampai pada tahap (mau atau rela) menyadari bahwa perangkap pangan tersebut sebenarnya akibat dari perangkap menu berbasis daging. Referensi:
|
||||