|
BAB LIMA BELAS
MENJALANI REVOLUSI
“Tujuan saya adalah tidak sederhana. Saya melihat bahwa transformasi kemanusiaan
benar-benar diperlukan pada saat ini.”
—Jill Purce
"Setiap hari empat puluh ribu anak meninggal karena kelaparan di seluruh dunia.
Kita yang makan berlebihan di Barat, yang memberi makan padi-padian kepada hewan
untuk menghasilkan daging, adalah sedang memakan daging dari anak-anak ini.”
—Thich Nhat Hanh
“Kebaikan manusia sejati, dengan segala kemurnian dan kebebasannya, bisa sampai
ke depan hanya ketika penerimanya tidak punya kekuatan. Ujian moral sejati
kemanusiaan, ujian fundamentalnya, terdiri atas sikapnya kepada mereka yang
berada di dalam kekuasaannya: hewan. Dan dalam hal ini umat manusia telah
menderita bencana yang fundamental, suatu bencana yang begitu fundamental hingga
semua yang lain bercabang dari sana.”
—Milan Kundera, pengarang, The Unbearable Lightness of Being
Holografi
Riak-riak yang dipancarkan dari pilihan kita untuk memakan makanan bersumber
dari hewan adalah sangat berpengaruh luas dan kompleks. Riak-riak itu meluas
secara mendalam hingga ke sistem orientasi dan kepercayaan pokok kita, dan ke
dalam hubungan kita dengan sesama dan dengan golongan yang terbentuk. Dari
setiap perspektif yang mungkin bisa kita ambil, kita menemukan bahwa kebiasaan
makan kita yang sudah membudaya sudah mematikan rasa, membutakan, dan mengurung
diri kita. Memperbudak dan memakan hewan secara kejam mencemari lingkungan
mental dan tubuh kita, mengeraskan hati kita, dan memblokir perasaan dan
kesadaran, memancing rasa takut, kekerasan, dan penindasan dalam hubungan kita,
membuat sampah di planet berharga kita, secara mengerikan menyiksa dan membunuh
miliaran makhluk yang terteror, mematikan spiritual kita, dan sangat memperlemah
diri kita dengan merintangi kecerdasan bawaan kita dan kemampuan kita untuk
membuat hubungan penting.
Menjadi sadar dengan berbagai segi dilema manusia adalah menjadi sadar dengan
mentalitas penindasan yang dibutuhkan hidangan kita. Dengan memalingkan muka,
seperti yang kita sering lakukan, eksistensi dan proyek kita menjadi terasa
ironis, menipu diri sendiri, merusak, dan membunuh diri. Melihat kebiasaan makan
kita apa adanya, dan menjawab panggilan jiwa kita untuk mengerti konsekuensi
dari perbuatan kita, kita menjadi terbuka bagi welas asih, inteligensi,
kebebasan dan menjalani kebenaran dari saling keterhubungan kita dengan semua
kehidupan. Ada sebuah revolusi positif yang besar yang harus dipatuhi di sini,
sebuah transformasi spiritual yang secara potensial bisa melontarkan budaya kita
ke dalam sebuah lompatan kuantum yang evolusioner, dari menekankan konsumsi,
dominasi, dan keasyikan sendiri ke memelihara kreativitas, pembebasan,
penyertaan, dan kerja sama. Apakah kita siap untuk revolusi spiritual seperti
itu? Jika kita menolak, maka perselisihan, stres, dan perusakan hampir pasti
akan menguat karena jumlah kita yang terus naik dan teknologi yang eksploitatif.
Kapan seekor ulat siap untuk berubah? Tanda yang paling jelas adalah dengan
mengatasi nafsu makan yang rakus karena dorongan batin akan menarik perhatian ke
arah yang baru.
Revolusi spiritual dan budaya yang memanggil kita harus dimulai dari makanan
kita. Makanan adalah hubungan utama kita dengan bumi dan segala misterinya, dan
dengan budaya kita. Makanan merupakan fondasi ekonomi dan merupakan pusat
metafora spiritual batin dari hidup kita. Tidak ada cara untuk secara berlebihan
menggambarkan besarnya transformasi spiritual kolektif yang akan terjadi ketika
kita berpindah dari makanan hasil penindasan menuju ke makanan hasil welas asih
dan kebaikan. Kunci ke veganisme adalah bahwa itu dijalani. Tak seorang pun bisa
menjadi vegetarian secara teori saja! Tidak seperti banyak ajaran agama yang
secara utama bersifat teori dan internal, veganisme adalah sepenuhnya bersifat
praktis. Motivasi veganisme adalah welas asih. Ini sama sekali bukan tentang
kemurnian secara pribadi, kesehatan individu atau penyelamatan, melainkan karena
ini memberkati yang lain. Ini adalah cara hidup yang konkret dan nyata yang
mengalir dari, dan menguatkan, rasa peduli dan keterhubungan.
Sekalipun kita kebas pada tingkatan di mana kita tidak lagi peduli tentang
penderitaan hewan-hewan, dan kita hanya bisa peduli pada manusia lain, kita
segera menyadari bahwa penderitaan berat manusia yang disebabkan memakan makanan
hewani menghendaki kita memilih pola makan berbasis tumbuhan. Kelaparan manusia,
penghancuran emosional yang diperlukan untuk membunuh dan mengurung hewan-hewan,
polusi dan limbah air, tanah, minyak, dan sumber daya vital lainnya, dan
ketidakadilan dan kekerasan yang mendasari kompleks produksi makanan hewan,
semuanya memaksa kita untuk segera meninggalkan kebiasaan makan kita yang tidak
berbudaya ini. Dengan kita membuat hubungan dan menjadi terbuka akan tanggapan
balik, akan semakin jelas bahwa salah satu hadiah terbesar yang siapa pun dari
kita bisa berikan kepada dunia, keluarga manusia, generasi mendatang, hewan,
diri sendiri, dan kepada orang-orang terkasih kita adalah dengan menjadi vegan
dan mendedikasikan hidup kita untuk mendorong orang lain melakukan hal yang
sama.
Hal ini perlu mempertanyakan asumsi dan sikap yang pokok dari budaya kita dan
membebaskan diri kita dari mereka bukan hanya secara teori, tapi secara praktek.
Tindakan meninggalkan rumah di dalam batin ini dalam banyak cara memerlukan
sebuah terobosan spiritual. Tindakan yang utama adalah menghentikan pengalihan
dan pemutusan hubungan dari penderitaan yang kita sebabkan pada yang lain
melalui pilihan makanan kita. Berkemauan untuk melihat, menanggapi, dan
menghubungkan kembali dengan semua tetangga kita dan hidup dengan saling
berhubungan, menginspirasi kita secara alami untuk memilih makanan, hiburan,
pakaian, dan produk yang sedikit menyebabkan kekejaman yang tidak perlu pada
makhluk lemah. Selagi kita melakukan ini, kita menjadi lebih tanggap akan riak
yang dihasilkan perbuatan kita di dunia ini. Transformasi spiritual kita menjadi
lebih dalam, dan karena sensitivitas meningkat, kita menjadi semakin ingin
memberkati orang lain dan menjadi suara bagi mereka yang tidak bersuara. Sekali
vegan, kita selalu menjadi vegan, karena motivasi kita tidak bersifat personal
dan egois, tapi itu berdasarkan pada kepedulian pada orang lain dan pada saling
keterhubungan dengan makhluk lain yang tidak bisa kita ingkari.
Dorongan untuk menunjukkan kemurahan hati dan untuk melindungi mereka yang
rentan ini menjadi mengakar kuat dalam diri kita, dan meskipun itu sudah
tertekan oleh budaya menggembala, terdapat banyak bukti yang telah lama ingin
diekspresikan oleh hampir semua dari kita. Kita secara kolektif menyumbangkan
jutaan dollar, misalnya, untuk membantu satu hewan jika kita mengetahui cerita
hewan tersebut dan kepintaran dan welas asih kita menjadi terbangunkan dengan
terhubungnya kita ke hewan ini. Semakin banyak kita terhubung, semakin banyak
kita mengerti dan semakin banyak kita mengasihi, dan kasih ini memotivasi kita
untuk tak hanya meninggalkan rumah, mempertanyakan sikap dominasi dan eksklusif
budaya kita, tapi juga kembali ke rumah, berbicara atas nama mereka yang rentan.
Lawan kata dari kasih bukanlah benci namun ketidakpedulian. Saat kita menyingkap
tabir dan melihat penderitaan yang diakibatkan oleh kebiasaan makan kita, saat
kita terhubungkan dengan realitas tentang makhluk-makhluk tak berdaya yang
sangat menderita karena pilihan makanan kita, ketidakpedulian kita lenyap dan
rasa welas asih–kebalikannya–timbul, mendorong kita untuk bertindak atas nama
mereka yang menderita. Bahaya utamanya adalah bahwa kita bisa saja meninggalkan
rumah dan tidak kembali; yaitu, kita bisa tersadarkan akan bahaya yang
terkandung di dalam pengomoditasan makhluk-makhluk hidup di dalam budaya kita
tetapi gagal untuk membawa kesadaran ini ke dalam budaya kita dengan menjadi
suara bagi makhluk-makhluk ini. Jika pemahaman kita tidak terartikulasi dalam
cara yang penuh arti bagi kita, ia bisa terkurung di dalam diri kita dan berubah
menjadi kesinisan, kemarahan, keputusasaan, dan penyakit. Semua ini tidak
berguna baik bagi kita maupun siapa pun juga.
Kita semuanya diberkahi dengan kemampuan unik yang bisa kita pakai dalam tugas
paling mendesak yang kita hadapi saat ini di dalam evolusi manusia: mengubah
warisan mentalitas dominasi kita dengan jalan membebaskan mereka yang telah kita
perbudak demi makanan. Elemen yang paling penting adalah menjalankan gaya hidup
vegan, mendidik diri sendiri, mengembangkan potensi spiritual kita, dan
menerjunkan diri untuk mendidik orang lain. Revolusi spiritual membutuhkan kita
semua, apapun agama kita, etnis, kelas atau mungkin variabel lainnya. Kita
masing-masing memiliki peran, dan semua keberhasilan kita tergantung pada bakat
dan keinginan kita masing-masing serta kegigihan untuk berperan.
Korban, Pelaku Kejahatan, dan Pengamat
Begitu kita menjadi vegan dan memulai kehidupan yang jauh lebih ringan di bumi
ini, kita juga mungkin mulai menyadari betapa kuatnya kita dipengaruhi oleh
kebiasaan makan sebagai omnivora dari mayoritas rekan senegara kita. Kebebasan
kita sebagai omnivora untuk mengonsumsi hampir semua makanan yang kita inginkan
kecuali manusia, membatasi kebebasan pihak lain dalam banyak cara. Misalnya,
kita menemukan sungai dan danau terpolusi oleh peternakan hewan sehingga kita
tidak dapat lagi menikmati atau berenang di dalamnya. Kita harus menanggung
derita melihat sahabat kita diburu dan disiksa oleh para pemburu dan nelayan,
atau melihat papan-papan iklan dengan gambar yang menjijikkan dari daging hewan
yang dimasak. Uang kita diambil oleh pemerintah untuk mendukung para peternak
dan pabrik peternakan susu dan operator penggemukan serta operasi pengendalian
predator yang secara sia-sia telah membunuh lebih banyak sahabat kita, hutan
yang seharusnya dapat kita nikmati telah dirusak demi menyediakan biji-bijian
monokultur dalam jumlah yang besar untuk makanan hewan ternak. Harga barang dan
jasa yang kita beli menjadi lebih mahal dari yang semestinya karena mereka tidak
hanya memasukkan pajak pemerintah yang menyubsidi makanan hewani dan membuatnya
kelihatan lebih murah dari harga sebenarnya, tetapi juga biaya asuransi
kesehatan yang besar yang ditanggung oleh perusahaan untuk pekerja-pekerja
omnivora mereka yang dibebankan kepada konsumen dalam bentuk harga yang lebih
tinggi untuk segalanya. Biaya pengobatan yang mahal yang dibutuhkan oleh
omnivora untuk penyakit jantung, kanker, penyakit ginjal, obesitas, dan
sebagainya telah meningkatkan biaya asuransi kesehatan melampaui jangkauan
orang-orang yang berpendapatan rendah. Mesin perang AS juga dipaksakan terhadap
kita semua: kita tidak hanya harus membantu membayarnya tetapi juga
menyaksikannya menghancurkan kehidupan orang miskin untuk menyuplai minyak murah
yang memboroskan begitu banyak biji-bijian dan energi yang dibutuhkan makanan
hewani. Ketika menjadi vegan, kita menjadi peka terhadap kekerasan dari sistem
makanan, kita juga bisa melihat omnivora yang merupakan korban dari sistem
makanan ini.
Ada banyak cara agar kita bisa menjadi bagian dari solusi daripada menjadi
bagian dari masalah. Ketika kita membeli atau mengonsumsi makanan hewani, kita
sendiri menjadi agen dari kebudayaan perbuatan jahat akan kekejaman yang tidak
perlu dan menakutkan ini (Jika kita meragukan hal ini, kita dapat melihat
beberapa video yang terdaftar di bagian sumber dari buku ini dan menyaksikan
secuil horor yang dilakukan terus menerus, yang sangat banyak dan mengerikan
sehingga memberati pikiran.)
Dalam tindak kejahatan yang dilakukan secara terbuka, terdapat tiga peran yang
beraksi: pelaku, korban dan pengamat atau saksi. Telah diketahui dengan amat
baik bahwa para pelaku kejahatan selalu mengharapkan para saksi diam dan melihat
ke arah lain sehingga mereka dapat berhasil melanjutkan tindakan mereka yang
menyakitkan, dan para korban mengharapkan sang pengamat untuk berbicara,
bertindak, dan ikut terlibat, serta melakukan sesuatu untuk menghentikan atau
mematahkan semangat pelaku kejahatan tersebut dari tindakan mereka yang
menyakitkan. Dalam kaitannya dengan memakan makanan hewani, terdapat banyak
pelaku kejahatan dan korban tetapi hanya sedikit pengamat. Para pelaku kejahatan
selalu saling mendukung satu sama lain dan memandang para pengamat dengan rasa
curiga dan permusuhan, dan suara korban tidaklah bisa terdengar.
Apabila kita meninjau lebih dalam, kita melihat bahwa pelaku kejahatan itu
sendiri adalah korban kekerasan—itulah sebabnya mereka menjadi pelaku
kejahatan—dan kekejaman mereka tidak hanya melukai hewan-hewan tetapi juga diri
mereka sendiri dan para saksi. Ketiganya terkunci di dalam rangkulan yang
menyakitkan, dan para saksilah yang memiliki kekuatan yang sesungguhnya. Mereka
dapat memalingkan kepala, dengan demikian secara diam-diam menyetujuinya atau
mereka dapat bersaksi dan membawa suatu dimensi kesadaran ketiga ke dalam siklus
kekejaman yang membuat para korban dan pelaku kejahatan terjerat secara tak
berdaya. Saksi memberi teladan tanpa-kekerasan dan berbicara atas nama korban
yang tidak bisa berbicara (dan, pada tingkat yang lebih samar, atas nama pelaku
kejahatan yang juga menjadi korban atas perbuatan mereka sendiri). Pelaku
kejahatan bisa saja menyalahkan saksi karena menghakimi mereka dan membuat
mereka merasa bersalah, tetapi para saksi hanyalah bertindak sebagai hati nurani
pelaku kejahatan, meminta mereka agar menjadi lebih sadar dan menghentikan
kekejaman mereka, demi kepentingan semua pihak. Perasaan bersalah dan malu yang
dirasakan oleh para pelaku kejahatan atas tindakan kekerasan mereka disebabkan
oleh kebaikan hati dan kepedulian mereka yang bersifat alamiah, yang telah
mereka blokir dan langgar. Sikap mereka terhadap saksi bisa jadi bahkan penuh
amarah: “Jika Anda ingin menjadi vegetarian, silakan, tetapi jangan
memberitahukan kami apa yang harus kami lakukan.” Secara sekilas tampaknya masuk
akal, tetapi kita segera mengerti bahwa itu hanyalah akibat dari terputusnya
hubungan dan penyimpangan yang terdapat pada budaya kita. Para pelaku kejahatan
tidak akan berani berkata, “Jika Anda tidak ingin memukul dan menikam anjing
peliharaan Anda, silakan, tetapi jangan menyuruh saya untuk tidak memukul dan
menikam anjing saya.” Kita semua tahu bahwa kita tidak berhak memperlakukan
pihak lain, terutama mereka yang tidak berdaya, dengan semaunya, dan jika kita
berbuat salah, orang berhak untuk menghentikan kita.
Sebagai pelaku kejahatan, kita sangat tertantang oleh kebenaran yang dibuktikan
oleh para saksi yang penuh perhatian dan fasih. Akhirnya, kita mungkin
menanggapi tantangan itu dengan memeriksa sikap kita dan mengakui secara moral
bahwa tingkah laku kita tak bisa dibenarkan, menghentikannya dan bergabung
dengan barisan saksi. Sebagai saksi kita juga sangat tertantang untuk menanggapi
situasi secara kreatif dengan kasih, pemahaman, dan cara yang terampil, dan
berjuang untuk hidup lebih sesuai terhadap nilai-nilai welas asih, kejujuran,
dan integritas. Semakin kita hidup sesuai dengan nilai-nilai kita, semakin kuat
medan kebenaran yang akan kita pancarkan, dan ucapan, sikap, serta tindakan kita
akan menjadi semakin berbobot terhadap pelaku kejahatan. Tidak ada seorang pun
yang tidak berdosa, karena kita semua pernah menjalani ketiga peran tersebut
hingga taraf tertentu. Sebagai seorang non-vegan, kita ditantang oleh
terputusnya hubungan spiritual dan etis untuk memperlambat, menghentikan,
menaruh perhatian, berhubungan kembali, merangkul bayangan kita yang terabaikan,
dan memulai tahap penyembuhan. Sebagai seorang vegan, kita ditantang oleh
ketidakkonsistenan dan ketakutan akan pembalasan dendam dalam memberi perhatian
dan memperdalam proses penyembuhan dan penyadaran kita dengan berupaya
menyelaraskan pikiran, ucapan, dan tindakan kita dengan pemahaman kita tentang
antar-makhluk dan untuk semakin mewujudkan perdamaian dan kasih yang penuh
keberanian. Melatih kesadaran adalah penting untuk menyadari kebahagiaan,
kedamaian, dan kebebasan.
Bagaimana dengan para korban, hewan-hewan? Siapakah makhluk-makhluk ini yang
begitu tak berdaya dan tak mampu membalas dendam, begitu terhukum oleh sistem
mekanisasi yang kejam yang dikembangkan demi mendapatkan kepuasan diri dan
keuntungan?
Hubungan Kita dengan Hewan
Walaupun kita dilahirkan dengan suatu budaya yang menekankan perbedaan antara
kita dengan hewan, pengalaman kita yang sebenarnya menyatakan hal yang berbeda.
Kita hanya merasa nyaman mengonsumsi hewan apabila kita mengeluarkan mereka dari
kategori yang kita pergunakan untuk mendefinisikan diri kita sendiri, tetapi
perbedaan kita dengan hewan jauh lebih kecil daripada apa yang dipaksakan oleh
kebiasaan makan kita untuk meyakininya. Mereka yang memiliki hewan pendamping,
misalnya, tanpa ragu mengetahui bahwa hewan-hewan itu memiliki kepribadian,
kesukaan, emosi, dan dorongan yang berbeda dalam diri mereka, dan bahwa mereka
merasakan dan menghindari kesakitan psikologis maupun fisik. Di samping itu
banyak bukti anekdot bahwa hewan-hewan bersifat mengutamakan kepentingan orang
lain, baik terhadap anggota spesies mereka sendiri maupun terhadap hewan-hewan
di luar spesies mereka, juga terdapat bukti klinis, seperti eksperimen kejam
yang lazim di mana kera-kera diberikan makanan jika mereka menakuti kera-kera
lainnya. Para peneliti menemukan bahwa kera-kera itu lebih memilih lapar
daripada menakuti kera-kera lainnya, terutama jika mereka sendiri telah menerima
kejutan itu sebelumnya. Para peneliti itu terkesima (dan mungkin agak malu?)
oleh sifat kera-kera itu yang lebih mengutamakan kepentingan orang lain.
Meskipun itu adalah sifat sejati kita, orang akan bertanya pada diri sendiri
apakah kita manusia akan sedemikian mulia.
Selain memiliki kemampuan untuk berempati, hewan juga memiliki kemampuan untuk
menderita secara psikologis, dan sering memperlihatkan tingkah laku stereotip
saat mereka terpaksa mengalami siksaan mental akibat perlakuan kita yang kejam
terhadap mereka. Pengurungan berlebihan terhadap hewan untuk makanan, bulu,
penelitian, dan hiburan menyebabkan penderitaan yang sangat mendalam terhadap
kesehatan emosi dan fisik mereka sehingga mereka mengulangi tingkah laku yang
sama secara terus menerus, sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan di alam
bebas. Simpanse dan babi akan membenturkan kepala mereka ke batangan logam
kandang mereka selama berjam-jam, gajah-gajah akan secara konstan mengayunkan
kepala mereka dan mengangkat kaki mereka, dan serigala yang terkurung dalam
kerangkeng yang sesak di peternakan bulu akan berputar-putar dengan cemas dan
bergoyang secara mengenaskan, menjadi gila karena kemustahilan untuk memenuhi
tujuan alamiah mereka. Seperti halnya hewan-hewan ini, kita manusia juga mungkin
akan mengulangi tingkah laku stereotip apabila kita menjadi gila dan kehilangan
hubungan dengan tujuan yang harus kita penuhi.
Sangatlah ilustratif untuk menyaksikan bagaimana atribut yang telah kita
nyatakan yang membuat kita unik, seperti pemakaian alat-alat, penciptaan seni,
mengalami tingkat emosi yang lebih tinggi, memiliki rasa geli, menggunakan
bahasa dan sebagainya, pada kenyataannya semuanya menjadi runtuh begitu kita
mengenal hewan secara lebih baik. Tentu saja, kita memiliki atribut dan
kemampuan unik tertentu. Setiap spesies memiliki atribut dan kemampuan
unik tertentu. Mengonsumsi hewan tanpa sadar membuat kita sangat gelisah
sehingga secara neurotik kita terlalu menekankan keunikan dan keterpisahan kita
dari mereka. Ini membuat kita mengeluarkan mereka dari lingkaran kepedulian
kita.
Selain berbagi rumah bersama di planet yang indah ini di angkasa luar,
hewan-hewan juga berbagi kerentanan akan kematian dan semua yang dibutuhkan.
Masih diragukan untuk menentukan apakah kehidupan kita sebagai manusia
sebenarnya telah meningkat selama berabad-abad dan ribuan tahun, karena semua
upaya kita yang berani. Walaupun kita mendapatkan kenyamanan dan kemungkinan
yang tidak dapat diimpikan oleh nenek moyang kita, kita juga mengalami stres,
penyakit, frustrasi yang tidak bisa mereka bayangkan. Namun, bagi hewan, situasi
jelas memburuk, terutama pada generasi manusia sekarang ini. Karena industri
produksi makanan membawa kawanan hewan mereka ke dalam ruangan di dalam kamp
konsentrasi, bentuk ekstrem dari penggembalaan yang dikenal sebagai pabrik
peternakan pun muncul. Suatu bentuk ekstrem baru dari pabrik peternakan sekarang
muncul melalui rekayasa genetika, di mana hewan tersebut dirusak pada tingkat
gen, sehingga kehilangan identitas dan integritas biologis mereka. Tindakan ini
sejalan dengan penghancuran habitat satwa liar dan penyusutan populasi mereka
demi pengadaan daging satwa liar, farmasi, penelitian, hiburan, dan keperluan
manusia lainnya. Dengan demikian, hewan-hewan telah mengalami perlakuan dari
menjadi bebas campur tangan manusia, menjadi sesekali diburu, digembalakan,
dikurung, dan akhirnya dipaksa untuk punah atau bermutasi secara genetik dan
terkurung hanya sebagai obyek kepemilikan yang bisa dipatenkan untuk dipakai
oleh manusia.
Nampaknya kita masih begitu ketinggalan sebagai sebuah budaya di mana kita akan
menghindari melakukan kekerasan hanya jika kita khawatir akan hukuman atau
pembalasan dendam–dan karena hewan tidak mampu melakukan kedua hal tersebut,
mereka tidak mendapatkan perlindungan apapun dari kita. Hal ekstrem baru di mana
hewan sekarang diperlakukan tanpa rasa penyesalan atau kesadaran, mengharuskan
kita menerapkan orientasi yang saksama secara radikal yang menunjukkan akar dari
mentalitas kekejaman kita. Meskipun ini mungkin tampak ekstrem terhadap arus
kebudayaan utama kita untuk memihak pada revolusi vegan yang sama sekali menolak
menjadikan hewan sebagai benda, ini hanyalah semacam posisi yang kelihatannya
ekstrem yang bisa menjadi suatu penangkal terhadap penganiayaan ekstrem yang
saat ini kita timpakan terhadap hewan. Faktanya, veganisme tidaklah ekstrem jika
ditinjau dari sudut pandang sifat bawaan kita yang halus, yang mendambakan
kasih, kreativitas, dan evolusi spiritual.
Surga dan neraka adalah hasil dari apa yang kita tabur. Kita hidup di dalam
sebuah budaya yang secara tanpa berpikir panjang mengeksploitasi hewan dan
mendukung dominasi terhadap mereka yang rentan oleh pihak yang kuat, pria, kaya,
dan yang memiliki hak istimewa. Kebudayaan ini secara alamiah telah menciptakan
alat politik, ekonomi, legal, agama, pendidikan dan institusional lainnya untuk
melindungi mereka yang berkuasa dari efek akibat tindakan mereka, dan untuk
mengabsahkan kekerasan dan ketidakadilan yang dibutuhkan untuk mempertahankan
sistem tersebut. Selama berabad-abad itu telah mengembangkan suatu kerangka
ilmiah dan religius yang rumit di mana, dalam reduksionisme dan materialismenya,
kerangka itu menyangkal kelanjutan dari konsekuensi-konsekuensi dalam banyak
cara. Salah satu dari manifestasi itu adalah penolakan untuk mengakui gagasan
bahwa kita sebagai kesadaran mungkin mengalami banyak dimensi dan kehidupan, dan
terutama gagasan bahwa manusia dapat terlahirkan kembali sebagai hewan. Gagasan
ini diblokir dengan keras untuk alasan-alasan yang jelas oleh budaya menggembala
kita, namun gagasan-gagasan itu dianggap logis dan benar oleh banyak budaya yang
tidak menganiaya hewan sekejam dan sesistematis sebagaimana yang kita lakukan
selama delapan hingga sepuluh ribu tahun terakhir ini. Pelaku dan korban
diketahui saling bertukar peran berulang kali dengan cara yang tak kentara dan
cara yang jelas dalam jumlah yang tak terhitung. Siklus kekejaman ini bisa
merentangkan dimensi yang lebih besar daripada yang ingin kita akui di dalam
budaya menggembala kita, dan terdapat banyak tradisi kebijaksanaan yang
menegaskan hal tersebut. Hingga kita melihat dari tingkat tertinggi, kita
sebaiknya mengindahkan nasihat dari setiap guru spiritual tercerahkan dari
setiap zaman: berbuat baiklah terhadap satu sama lain.
Jalur Menjauhi dan Kembali kepada Kesehatan Jiwa
Asumsi yang mendasari budaya di mana kita dilahirkan adalah salah dan usang.
Jika tidak diragukan dan diganti, itu akan terus menggiring kita masuk ke dalam
ketidakwarasan budaya yang lebih mendalam, sebagaimana yang mereka lakukan
terhadap hewan-hewan yang kita dominasi tanpa berbelas kasih. Mengenali
ketidakwarasan dari tindakan dan keyakinan kita adalah langkah pertama dan yang
diperlukan untuk mengobati dan menyadarkan diri. Tanda-tanda itu telah jelas:
memproduksi dan memakai senjata penghancur massal sementara jutaan orang mati
kelaparan, menyerang bumi tempat kita hidup dengan sangat biadab sehingga dalam
jangka waktu dua puluh lima tahun saja, lebih banyak spesies dipaksa untuk punah
dibandingkan dengan gabungan dari enam puluh lima juta tahun sebelumnya, dan
organisme-organisme yang dikacaukan secara genetis yang diabaikan secara
sembrono terhadap konsekuensi yang akan dijalani oleh makhluk-makhluk buatan ini
dalam benang-benang kehidupan dari komunitas hayati planet kita yang saling
terkait secara ringkih.
Kekuatan finansial dan media yang ampuh yang menutupi kita agar tidak melihat
hal ini sedang meneruskan penyebaran budaya menggembala dan asumsinya yang usang
dan yang menindas ini ke seluruh penjuru dunia. Perusahaan transnasional yang
mendapat keuntungan dari hewan-hewan teraniaya adalah salah satu contoh, dan
termasuk pedagang eceran besar serta konglomerat peternakan besar yang tak
henti-hentinya mendorong untuk memperluas pabrik peternakan dan operasi rumah
jagal mereka ke dalam budaya yang kurang terindustrialisasi. Di dalam kebudayaan
yang secara umum makan jauh lebih sedikit hewan per orang, masyarakat yang
kurang makmur ini mewakili segmen pasar dengan potensi luar biasa untuk
pertumbuhan yang menguntungkan. Perusahaan-perusahaan kimia, pestisida, dan
farmasi semuanya mendapat keuntungan dari dan mendorong ekspansi yang sama ini.
Organisasi-organisasi amal seperti Proyek Heifer, yang memperkenalkan peternakan
ke dalam negara-negara sedang berkembang, sering memberikan kontribusi secara
langsung kepada mentalitas tidak manusiawi yang mengajarkan orang untuk
menganggap hewan hanya dalam kaitannya dengan istilah “empat M” Proyek Heifer:
daging (meat), susu (milk), pupuk kandang (manure), dan
uang (money). Proyek Heifer hanya merupakan garda depan lain bagi kepalan
tinju besi kekejaman, mengindoktrinasi pendominasian dan penganiayaan dari rezim
budaya penggembalaan sejauh dan seluas mungkin dan mengeraskan hati dari
anak-anak pribumi saat mereka melakukan demikian. Seperti halnya Bank Dunia dan
Dana Moneter Internasional, pemerintah AS di dalam program bantuan luar
negerinya berfungsi sebagai agen bagi industri peternakan nasional kita yang
kuat, membeli produk mereka untuk distribusi ke luar negeri dan menyiapkan
pinjaman dan program yang memaksa negara-negara miskin untuk merangkul model
peternakan industri Amerika berbasiskan minyak bumi (yang mana menguntungkan
perbankan AS dan perusahaan minyak bumi serta menyediakan pasar bagi industri
daging, produk susu, telur, bahan kimia, farmasi, dan medis). Dua pertiga dari
gandum AS diekspor untuk memberi makan ternak daripada untuk memberi makan
orang-orang yang kelaparan.2
Terdapat banyak pergerakan, organisasi, serta upaya yang mengangkat dan mulia
yang berusaha untuk mempromosikan kedamaian, keadilan sosial, kesetaraan,
perlindungan lingkungan, dan untuk meringankan penderitaan masyarakat yang
berada dalam situasi tidak menguntungkan, terluka atau tersisihkan. Sungguh
disayangkan, hampir semua upaya ini gagal untuk menunjukkan sumber yang
mendasari masalah-masalah ini di dalam pendominasian kita terhadap hewan untuk
makanan. Namun, karena orang-orang mempelajari lebih banyak tentang konsekuensi
mengonsumsi makanan hewani, kita melihat meningkatnya jumlah individu dan
kelompok-kelompok yang bertindak secara kreatif untuk meningkatkan kesadaran
akan hal ini, sehingga membantu melenyapkan akar dari kelaparan, kekejaman,
polusi, dan eksploitasi.
Organisasi Food Not Bombs (Makanan Bukan Bom), misalnya, mengatur para
sukarelawan dan sumbangan makanan untuk memberi makan kepada orang-orang
kelaparan dengan makanan vegan organik di 175 kota di seluruh Amerika, Eropa,
dan Australia. Hal itu dengan sengaja didesentralisasi dan mirip-jaringan dalam
pendekatannya, di mana unit otonomi lokal mengatur operasi welas asih mereka
sendiri.3
Para pengikut Maha Guru Ching Hai, seorang guru spiritual kelahiran Vietnam yang
memiliki ratusan ribu murid, yang tersebar di seluruh dunia, telah mendirikan
restoran vegan di banyak kota dan memberi sumbangan makanan vegan, pakaian,
tempat penampungan dan bantuan bagi para korban bencana, narapidana, anak-anak
dan para lansia di negara-negara di berbagai penjuru dunia.4 Meskipun
beliau menghendaki murid-muridnya untuk bermeditasi dua setengah jam sehari,
berikrar untuk tidak makan daging maupun produk telur, menjauhi alkohol dan
obat-obatan terlarang, dan tidak bekerja dalam bidang yang mengeksploitasi hewan
maupun manusia, namun gerakan beliau terus menyebar. Ini menunjukkan keefektifan
dari pendekatan spiritual, karena dalam kurun waktu kurang dari dua puluh tahun,
beliau telah menjadi penyebab beralihnya ratusan ribu orang ke veganisme.
Permintaan beliau yang tegas agar murid-muridnya mengurangi kekejaman di dalam
makanan mereka, bukannya menghambat pergerakan beliau, malahan secara paradoks
mempromosikan veganisme. Orang-orang yang serius tentang pertumbuhan spiritual
tampaknya mampu merangkul perubahan mendasar di dalam kehidupan mereka dan
mungkin bahkan menyambut kesempatan ini.
Ini adalah dua teladan yang menyemangati dari revolusi vegan tentang welas asih,
keadilan, dan kesetaraan yang sedang mengakar semakin kuat di dalam budaya kita
dan di dunia ini. Suatu momentum positif yang secara tak disangsikan sedang
dibangun walaupun adanya kekuatan yang telah mapan dari kendali pendominasian
dan kekerasan yang akan menekannya. Bagaikan sebuah kelahiran atau metamorfosis,
sebuah mitos baru sedang berjuang melalui kita untuk muncul dan menggantikan
mitos penggembalaan yang telah usang, dan perubahan yang terjadi mungkin jauh
lebih besar dan lebih signifikan daripada yang tampak. Mereka diabaikan dan
diremehkan oleh media massa, namun apa yang mungkin terlihat sebagai perubahan
kecil secara tiba-tiba dapat menjamur saat critical mass (massa kritis)
telah tercapai. Sangatlah vital bahwa kita semua berkontribusi kepada revolusi
positif yang merupakan seruan dari masa depan kita.
Implikasi bagi Penelitian dan Percakapan Lebih Lanjut
Lebih banyak penelitian dan diskusi yang lebih seksama dan terbuka mengenai
implikasi dari pilihan makanan kita akan meningkatkan kesadaran budaya kita
terhadap konsekuensi kesehatan, ekonomi, lingkungan, psikologis, dan sosial yang
negatif akibat memakan makanan hewani, dan menjelaskan banyak keuntungan bagi
semua orang tentang pola makan nabati. Terdapat kesempatan yang hampir tak
terbatas bagi penelitian dan diskusi publik yang lebih lanjut untuk memperdalam
pemahaman kita terhadap perilaku kita dalam memperdagangkan dan memakan hewan,
dan untuk menyelidiki lebih banyak alternatif positif. Beberapa contoh mencakup
penelitian lebih lanjut tentang manfaat dari pola makan nabati bagi kesehatan
individual, dan, dalam skala besar, apakah arti dari peralihan ke pola makan
nabati dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas udara dan air, memperbanyak
makanan bagi orang-orang yang kelaparan, mengurangi permintaan akan minyak bumi,
antibiotik, obat-obatan, bahan kimia, sumber daya dan implikasi dari membebaskan
jutaan ekar tanah yang saat ini diperbudak untuk menggembalakan ternak atau
menanam makanan mereka. Potensi terhadap penyembuhan ekosistem dan regenerasi
kehidupan satwa liar secara besar-besaran dapat diteliti dan didiskusikan, dan
juga dimensi ekonomi, sosial, politik, medis, psikologis, dan spiritual dari
perubahan-perubahan ini.
Hubungan psikologis antara penganiayaan serta pembunuhan binatang dan melakukan
hal yang sama terhadap manusia telah diselidiki dan dipublikasikan, dan ini
tentulah dapat ditindaklanjuti lebih jauh, dengan meneliti hubungan antara
mengonsumsi makanan hewani terhadap kegemukan, kehamilan remaja, hancurnya
struktur keluarga, penyakit, stres, ketumpulan emosi, kegelisahan, bunuh diri,
dan sebagainya. Satu hal khusus yang sangat inkonsisten yang seharusnya
diinvestigasi lebih lanjut adalah asumsi yang mendasari viviseksi (pembedahan
makhluk hidup untuk percobaan), di mana kita bisa menjadi lebih sehat melalui
penghancuran kesehatan makhluk hidup lainnya. Kesejahteraan kita terikat pada
kesejahteraan seluruh makhluk; kita tidak dapat menuai kesehatan dalam diri kita
dengan menyebarkan bibit penyakit dan kematian kepada makhluk lain. Kita tidak
hanya memperlihatkan keangkuhan namun kebodohan yang luar biasa dengan
mengurung, menyiksa, dan mengontaminasi hewan dengan alasan peningkatan
kesehatan kita. Kita telah dapat melihat hasil dari tindakan kita, karena
penyakit-penyakit baru terus bermunculan dan penyakit yang lama terus menyebar,
sering menjadi kebal terhadap obat-obatan kita yang semakin menghancurkan.
Contoh lain dari penelitian semacam itu adalah untuk menginvestigasi hubungan
antara mengonsumsi makanan hewani dengan peningkatan jumlah penggunaan dan
penyalahgunaan obat-obatan yang merusak, seperti alkohol, narkotika, dan
obat-obatan farmasi. Pada tahun 1915, selama pergerakan anti minuman keras yang
pada akhirnya menuntun kepada era pelarangan minuman keras, Charles Fillmore
menulis,
Pernyataan yang tegas telah dibuat, dan kita belum mendengar bahwa hal ini tidak
disetujui, di mana tidak pernah ada seorang pemabuk yang vegetarian. Maka ini
merupakan obat bagi rasa ketagihan terhadap alkohol secara berlebihan yang jauh
lebih efektif daripada semua obat penyembuh yang dikonsumsi orang-orang.
Penghentian konsumsi daging juga akan menghentikan ketagihan terhadap cairan
yang kuat, seperti bir, wiski, anggur, teh, dan kopi, siapa pun dapat mengujinya
sendiri. Berhenti memakan daging bahkan hanya satu bulan dan kehausan yang tidak
alami tersebut yang mendampingi dan mengikuti pola makan daging akan menghilang.
Terdapat alasan fisiologi terhadap hal ini. Daging selalu berada di dalam
tingkatan tertentu dari proses pelapukan, dan pelapukan ini meningkat ketika
daging itu masuk ke dalam perut. Bistik yang menarik yang dikecup oleh bibir
pencinta daging, sebenarnya dipenuhi dengan urea asin, yang saat berada di dalam
perut menghendaki cairan. Fisiologis mengatakan bahwa cairan yang ada di dalam
bistik ini merupakan urin dari hewan yang tertahan di tengah perjalanannya
menuju ginjal. Dengan memakan kotoran ini, manusia tidak hanya membuat sistemnya
menjadi limbah bagi daging hewan, namun juga memasukkan pengganggu ke dalam
perutnya yang membutuhkan cairan pelarut pendingin pada saat itu juga.
Dengan adanya demam akibat daging yang busuk secara konstan di dalam perut yang
meminta adanya tegukan pendingin ini, sangatlah luar biasa bahwa ada yang bisa
bebas dari keadaan mabuk. Hentikan konsumsi daging dan manusia akan segera
menjadi terkendali tanpa satu pun pembuatan hukum. Tak satu pun orang yang
mengonsumsi makanan yang disediakan oleh Alam akan memiliki keinginan akan
minuman keras, bahkan teh atau kopi. Kemudian penyembuhan yang pasti bagi
kebiasaan minum minuman keras adalah menghentikan pola makan daging dan seluruh
produk hewani. Ini termasuk mentega dan telur. Sereal, sayur-sayuran,
kacang-kacangan, dan minyak memiliki semua elemen yang dibutuhkan oleh tubuh.5
Selain hubungan fisiologis yang dijelaskan Fillmore antara mengonsumsi makanan
hewani dengan rasa ketagihan akan minuman keras, ada beberapa hubungan lain yang
mungkin terjadi yang bisa diteliti dan dibicarakan secara lebih luas dalam
pertarungan budaya kita melawan dampak merusak dari kecanduan obat dan alkohol.
Terdapat hubungan psikologis yang lebih jelas yang telah didiskusikan
sebelumnya. Hakikat budaya penggembalaan kita sangatlah kasar terhadap
anak-anak, memaksa mereka terputuskan dari makhluk-makhluk yang mereka makan dan
menjauhkan diri dari perasaan empati mereka yang alamiah. Kekejaman ini, beserta
pengerasan dan keterputusan yang menyertainya, tentunya menjadi faktor
penyumbang yang kuat bagi penyalahgunaan substansi dan juga bagi patologi lain.
Obat-obatan, hormon, pewarna buatan, pengawet, dan bahan kimia beracun yang
terkandung di dalam makanan hewani bisa berkontribusi terhadap kecanduan alkohol
dan obat-obatan terlarang, juga fakta bahwa makanan hewani dipenuhi dengan
getaran kesedihan, ketakutan, ketidakberdayaan, dan keputusasaan – getaran yang
cenderung untuk mendorong orang-orang sensitif yang memakannya kepada
penyalahgunaan dan kecanduan substansi. Dan, karena kita pasti menuai apa yang
kita tabur pada orang lain, secara tidak terhindarkan kita akan menemukan diri
kita menuai konsekuensi dari eksperimen “penelitian” kita yang sesat terhadap
hewan, yang lebih merupakan kecanduan manusia. Akhirnya, juga ada pandangan
makrobiotik bahwa makanan hewani sangatlah bersifat 'Yang' dalam dampak
energetik mereka terhadap tubuh, dan tubuh kemudian akan secara alamiah dan
pasti mengidamkan makanan dan zat yang sangat bersifat 'Yin' dan ekspansif.
Makanan yang sangat bersifat 'Yin' ini adalah alkohol, gula putih, kebanyakan
jenis obat, tembakau, dan kafein. Biji-bijian, kacang-kacangan, dan sayuran
cenderung untuk tidak terlalu bersifat 'Yin' maupun 'Yang', tetapi lebih
seimbang, sehingga hanya menyebabkan sedikit rasa ketagihan. Mengonsumsi makanan
yang ekstrem memaksa tubuh untuk terus berputar antara kedua kutub, secara
alternatif mengidamkan makanan pengikat seperti daging, keju, telur, dan garam,
lalu zat ekspansif seperti permen, kopi, alkohol, obat-obatan, dan tembakau,
hingga memualkan.
Bagaimana agar hubungan ini bisa diangkat untuk mendapat perhatian dalam forum
publik? Mungkin, misalnya, program Dua Belas Langkah yang populer dapat dibuat
lebih efektif dengan mengenali kekuatan tersembunyi dari mengonsumsi makanan
hewani dalam mendorong desakan mental, emosional, dan fisik untuk mengonsumsi
alkohol dan zat berbahaya lainnya. Dua belas langkah dari ‘Alkoholik Tak
Disadarai’, ‘Narkotik Tak Disadarai’, ‘Kecanduan Makan Tak Disadarai’, dan
program serupa lainnya semua berdasarkan pada prinsip yang tak lekang oleh waktu
tentang mengandalkan dukungan pihak lain yang memiliki aspirasi serupa dengan
menciptakan grup pendukung yang berkelanjutan dan mengandalkan “suatu Kekuatan
yang lebih besar daripada diri kita untuk memulihkan kita kepada kewarasan.”
Program-program Dua Belas Langkah ini efektif karena
melakukan pendekatan spiritual mendasar, mendorong orang untuk naik secara
mental dan spiritual ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi daripada tingkat di
mana mereka menciptakan permasalahan itu. Program-program ini mendorong
introspeksi diri, secara rendah hati mengakui dampak berbahaya dari tindakan
sebelumnya terhadap orang lain dan melakukan perbaikan terhadap mereka, dan
meningkatkan kontak secara sadar dengan Kekuatan yang lebih tinggi, dan tidak
mengandalkan kehendak diri sendiri namun mengandalkan keinginan untuk memenuhi
kehendak dari Kekuatan yang lebih tinggi.
Sungguh disayangkan, hewan tidaklah termasuk di dalam inventori moral dari
pihak-pihak yang dirugikan oleh tindakan-tindakan sebelumnya, dan memakan serta
menggunakan hewan tidaklah disangsikan. Hal ini membantu menjelaskan mengapa
orang-orang dalam kelompok AA (Alkoholik Tak Disadari) diajarkan bahwa mereka
akan selalu kecanduan alkohol dan tak akan pernah boleh minum sedikit pun,
karena dengan terus melanjutkan memakan hewan, tekanan yang mendasari akan tetap
ada. Tubuh dan pikiran secara alamiah masih mengidamkan alkohol, obat-obatan,
permen, ‘Yin’ yang ekstrem, dan teralihkan dari horor yang dikonsumsi setiap
hari dalam santapan. Dengan memasukkan hewan dalam lingkaran dari
makhluk-makhluk relevan yang kita rugikan akibat tindakan kita, kita bisa sampai
kepada akar kecanduan yang merusak yang mengganggu masyarakat dalam budaya kita.
Hal ini tidaklah bertujuan untuk menyiratkan bahwa semua pola dari tingkah laku
kecanduan pasti akan menghilang dengan mengadopsi cara hidup vegan, tetapi itu
adalah permulaan yang kuat; pembersihan batin, berhati-hati, dan menuai
keheningan batin, kesabaran, kedermawanan, dan rasa syukur juga merupakan
dimensi penting dari kesehatan spiritual.
Jika kita mengurangi praktek eksploitasi hewan demi makanan, kita akan menemukan
bahwa tingkat penyakit, sakit mental, konflik, kerusakan lingkungan dan sosial
kita juga berkurang. Daripada merusak tubuh bumi dan membantai serta mengurung
makhluk-makhluknya, kita dapat bergabung dengan bumi dan menjadi suatu kekuatan
untuk menciptakan keindahan dan menyebarkan kasih, rasa welas asih, kegembiraan,
kedamaian, dan perayaan. Saat kita melihat alam dengan mata yang lebih santai,
kita melihat perayaan yang tak terbendung akan keindahan kehidupan. Hewan-hewan
di alam merupakan perayaan dan keajaiban. Mereka bermain, bernyanyi, berlari,
melayang, melompat, memanggil, menari, berenang, berkumpul bersama, dan
terhubung dengan cara misterius yang tanpa akhir.
Dengan membebaskan hewan, kita manusia akan mampu bergabung kembali dalam
perayaan dan berkontribusi pada hal itu dengan kasih dan kreativitas kita.
Kompetisi dan eksploitasi kepada orang lain akan mencair saat kita mendapatkan
kembali kepekaan alamiah kita. Bumi kita akan secara alamiah tersembuhkan saat
kita berhenti membunuh ikan dan kehidupan laut dan mencemari serta
menyia-nyiakan air dengan cara yang tidak berkelanjutan. Hutan dan kehidupan
satwa liar akan kembali karena kita akan memerlukan jauh lebih sedikit lahan
pertanian untuk memberi makan kepada setiap orang dengan pola makan nabati, dan
seisi bumi akan terbebaskan dari tekanan tak tertahankan yang diberikan oleh
manusia omnivora. Kita akan terbebaskan dari kelumpuhan yang mencegah kita
mengatasi ancaman penipisan bahan bakar fosil dan tantangan-tantangan lain yang
kita hadapi secara kreatif.
Perubahan dalam kesadaran kita ini akan mengantarkan kita ke dalam revolusi
pertama sejak dimulainya revolusi penggembalaan dengan penjinakan domba dan
kambing sepuluh ribu tahun lalu. Revolusi itu mendorong kita keluar dari taman
Firdaus ke dalam suatu perasaan keterpisahan, mempromosikan kompetisi dan
memelihara reduksionisme keterputusan dan teknologi materialistis. Dorongan
evolusioner saat ini jelaslah menuju arah yang sepenuhnya berbeda, menuju
integrasi, kerja sama, welas asih, penyertaan, dan menemukan kesatuan dasar kita
dengan semua makhluk. Karena kita meneliti, mendiskusikan, dan memperdalam
pemahaman kita tentang hubungan pikiran-tubuh, hubungan manusia-hewan, dan dari
hubungan kita dengan keseluruhan yang lebih besar di mana kita tertanam di
dalamnya, tujuan spiritual kita akan terwujudkan.
Hak Istimewa dan Perbudakan
Pesan yang secara ritual disuntikkan ke dalam diri kita oleh makanan yang
diwajibkan dalam budaya kita, pada tingkat dasar, adalah pesan tentang hak yang
istimewa. Sebagai manusia, kita melihat diri kita lebih tinggi dari hewan, yang
kita anggap sebagai obyek untuk diperbudak dan dibunuh demi kepentingan dan
kesenangan kita, dan dengan mentalitas penggembala tentang posisi khusus dan
istimewa terhadap hewan, secara tak terhindarkan kita menciptakan kategori hak
istimewa lainnya. Kekayaan, jenis kelamin, dan ras menentukan luasnya hak
istimewa kita dalam hierarki manusia antara laki-laki putih yang kaya di satu
sisi dan wanita dan anak-anak melarat yang tidak-putih di sisi lain. Namun,
bahkan manusia miskin memiliki beberapa hak istimewa dibandingkan hewan, dan
inilah struktur sosial hierarki otoriter–menembus, transparan, dan dianggap
sudah semestinya – itulah hasil yang tak terhindarkan dari mengomoditaskan
hewan-hewan dan memakan mereka.
Elit yang kaya menggunakan hak istimewa dan otoritasnya melalui semua institusi
sosial kita, memakai makanan sebagai metode untuk mempertahankan kendali. Karena
kualitas makanan kita secara langsung berhubungan dengan kesehatan mental dan
fisiologi serta kualitas hidup kita, mengurangi kualitas makanan kita dapat
membuat kita lebih sakit, lebih lemah, dan lebih terganggu, kasar, stres,
kecanduan obat, bingung, dan tidak berdaya. Mungkin inilah rencana sebenarnya
dibalik upaya kejam untuk melemahkan standar makanan organik dan untuk
memperkenalkan makanan beracun tinggi melalui radiasi, rekayasa genetika,
penambahan pewarna buatan, peningkat rasa yang beracun seperti MSG, pengawet
kimia, yang terkenal sebagai penyebab kanker seperti aspartame, dan hormon
rekayasa genetika yang berbahaya seperti rBGH dan hormon pertumbuhan pemicu
kanker. Ini adalah tambahan dari mempromosikan makanan hewani, yang memusatkan
variasi dan intensitas racun terbesar dan yang membingungkan serta melemahkan.
Dengan mengendalikan dan menyebarkan makanan tak bergizi dan makanan yang
bersumber dari hewan, mereka yang memiliki hak paling istimewa bisa
membingungkan dan membuat sakit seluruh populasi kita, terutama mereka yang
paling rentan dan yang tidak mendapat informasi. Terdapat koneksi-koneksi yang
terdokumentasi dengan baik, misalnya, antara kemerosotan suplai makanan kita dan
beberapa penyakit yang baru ditemukan seperti penyakit kurang perhatian (attention
deficit order).6
Kita harus menjelajahi hubungan-hubungan ini lebih lanjut dan mendiskusikannya,
dan juga memandang dengan keras terhadap penyalahgunaan hak istimewa kita
sendiri. Sebagai suatu budaya, kita secara rutin gagal untuk membuat hubungan
antara penderitaan yang secara langsung dibebankan kepada pihak lain dan status
hak istimewa kita. Pihak lain itu mungkin ikan, ayam, babi, atau budak di pabrik
cokelat. Dengan menolak mendominasi hewan, kita membuat hubungan penting dan
membuka pintu batin untuk memahami dan membongkar penyalahgunaan hak istimewa
dalam hidup kita. Keadilan, kesetaraan, veganisme, kebebasan, evolusi spiritual,
dan kasih sayang universal berhubungan dengan erat.
Selama kita mendominasi pihak lain, kita akan didominasi. Bahkan mereka yang
berada di puncak piramida, pria putih kaya yang memiliki hak istimewa terbesar,
secara ironis diperbudak. Dengan menanam benih ketakutan dan dominasi, mereka
tidak dapat menuai kedamaian batin, kesenangan, kasih, dan kebahagiaan.
Kesengsaraan, kecanduan obat, bunuh diri, dan ketidakwarasan merajalela di
antara keluarga terkaya menggambarkan kebenaran yang jelas dan tak terelakkan
bahwa kita semua berhubungan, dan kesehatan spiritual, sumber kebahagiaan kita,
menghendaki kita menjalani kebenaran ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Saat
kita memberkahi pihak lain, kita pun diberkahi, dan melihat mereka sebagai
makhluk dan bukannya sebagai benda, diri kita sendiri terbebaskan dan diperkaya.
Hari-hari Terakhir Memakan Hewan
Apakah waktu yang tepat bagi kita sebagai keluarga manusia untuk membuat
transisi ke kehidupan vegan yang berwelas asih? Ini adalah masalah pendidikan
dan pencapaian critical mass (massa kritis). Kita masing-masing memiliki peran
penting untuk dimainkan dalam tugas teragung ini. Perlawanan dari budaya
dominan, dapat dipahami, amatlah kuat dan terwujud dalam banyak cara yang
tampaknya tiada akhir. Selain praktek memakan hewan yang diperbudak berada di
mana-mana, serta semua media dan budaya mendukung pertambahan yang tak
terelakkan itu menjadi semacam tindakan universal, dan pembenarannya secara taat
dibuat oleh agama dan institusi ilmiah dari budaya kita, ada upaya yang dapat
ramalkan untuk menggunakan pemerintah dan alat hukum guna melindungi kompleksnya
makanan hewani dari keraguan apapun. Banyak negara-negara bagian telah
mengeluarkan hukum yang menangani masalah “penghinaan makanan” atas desakan dari
kepentingan daging, susu, dan telur, yang sesungguhnya tidak mengizinkan dan
mengkriminalisasikan kecaman masyarakat terhadap makanan! Negara-negara yang
memiliki industri peternakan terkuat juga mendesak agar diberlakukan hukum yang
menjadikannya suatu kejahatan besar untuk mengambil gambar atau video di dalam
peternakan, tempat pengoperasian produk susu, tempat penyimpanan ternak, tempat
pengoperasian ikan, dan tempat penjagalan tanpa izin dari industri dan
pemiliknya. Jelaslah bahwa ada banyak hal yang perlu disembunyikan, dan fakta
bahwa kita tinggal di dalam masyarakat yang seharusnya terbuka adalah suatu
ancaman yang kuat terhadap kekuatan-kekuatan yang akan meneruskan omnivorisme
kita dan menghalangi semua diskusi, kesangsian, dan pemahaman akan
konsekuensinya. Juga ada hukum yang disetujui untuk membuatnya ilegal bagi orang
untuk berbicara tentang makanan secara terbuka kecuali jika mereka adalah ahli
gizi berdiploma! Seorang pendidik di Columbus, misalnya, baru-baru ini
diperingatkan oleh Investigator Negara Bagian dari Komisi Ahli Pola makan Ohio
bahwa dia tidak boleh menunjukkan video Pola makan for a New America (Pola Makan
bagi Amerika yang Baru) secara terbuka karena “hal itu bisa ditafsirkan sebagai
praktek Ahli Pola makan karena seseorang mungkin mengubah gaya hidup mereka
akibat melihat film itu.”7
Selain dari taktik tangan-besi ini, ada semakin banyak metode-metode samar yang
muncul. The National Eating Disorders Association (Asosiasi Kelainan Makanan
Nasional) sekarang mendaftarkan sebuah jenis kelainan makan yang baru, yang
disebut “orthorexia nervosa”:
Orthorexia Nervosa. Walau secara klinis tidak diakui sebagai suatu kelainan
makan, beberapa ahli kesehatan mulai percaya bahwa suatu fiksasi patologi
tentang mengonsumsi makanan yang tepat, dan terobsesi dengan “makan yang layak”
pada akhirnya mungkin dianggap sebagai keadaan yang memerlukan perawatan.8
Jelaslah, siapa pun yang tanpa
kesangsian mengonsumsi Standar Pola Makan Amerika yang kejam dan beracun berupa
burger cepat-saji dan hot dog akan dianggap oleh para ahli kesehatan mental
sebagai orang yang sehat dan normal dari segi psikologi, sementara mereka yang
menolak melakukan hal itu bisa dianggap menderita “fiksasi patologi yang
berkaitan dengan mengonsumsi makanan yang layak” dan suatu “obsesi terhadap
'santapan bermoral’” dan mungkin diwajibkan menjalani beberapa jenis
“perawatan”. Sulit untuk menaksir terlalu tinggi betapa subversifnya beralih ke
pola makan nabati bagi kemapanan mentalitas dominasi dan penyingkiran, dan
sejauh mana budaya kita akan menghalanginya dan menekan diskusi terbuka serta
meragukan ritual yang meyakinkan dari hal itu!
Meskipun mudah untuk menjadi patah semangat dalam menghadapi kelembaman budaya
yang sangat besar yang mendorong praktek berkelanjutan untuk mengonsumsi makanan
hewani, sangatlah membantu untuk menyadari bahwa hal itu membawa benih
kehancurannya sendiri. Pada tingkat di mana hal itu membinasakan ekosistem dan
sumber daya bumi—serta kewarasan dan kecerdasan kita—hal itu tak dapat bertahan
lebih lama lagi. Mungkin ini sebaiknya menjadi hari-hari terakhir manusia
mengonsumsi hewan.
Film Kehidupan di Bumi
Untuk bangkit dari ketidaksadaran budaya omnivorisme, kita hanya perlu mengingat
siapa diri kita. Kita tidak memiliki karakteristik, baik itu secara kejiwaan
maupun secara fisik untuk memangsa dan membunuh, tetapi karena mentalitas yang
diindoktrinasi secara budaya yang dituntut oleh makanan kita sehari-hari, kita
makan layaknya pemangsa. Kita menjadi tidak peka, eksklusif, dan materialistis,
melupakan bahwa kita sesungguhnya adalah kesadaran yang termanifestasi dalam
waktu dan ruang. Seperti kesadaran, kita adalah abadi, bebas, dan penuh
kebajikan. Kita saling terhubung dengan semua manifestasi kesadaran lainnya, dan
pada tingkat yang dalam kita semua adalah satu karena kita berbagi sumber yang
sama. Sumber ini adalah kecerdasan tanpa batas dan kesadaran yang merasuk dan
mewujud sebagai kenyataan yang fenomenal. Untuk membebaskan hewan-hewan yang
kita siksa, kita harus membebaskan diri kita dari khayalan akan keterpisahan
yang hakiki, melakukan usaha keluar berupa pendidikan, berbagi, dan menolong
yang lainnya, dan juga usaha ke dalam untuk menemukan hakikat alami kita.
Secara kiasan, kita semua adalah bagian dari film kehidupan di bumi, dan
sementara kita mungkin muncul dalam tampilan di layar, pada tingkat yang lebih
dalam kita berbagi warisan yang sama—kita semua juga adalah cahaya yang
memungkinkan film itu. Cahaya ini adalah kesadaran, dan itu adalah hakikat
alami, yang berasal dari sebuah sumber tak terbatas dan tak terbayangkan.
Sepintas hakikat alami ini yang kita miliki bersama dengan semua makhluk, tidak
hanya memperdalam kerinduan kita untuk membebaskan penderitaan mereka tetapi
juga memperkuat kemampuan kita untuk melaksanakannya secara efektif. Melihat
korban-korban dan pelaku kejahatan tidak sebatas dalam peranan mereka tetapi
dalam kesempurnaan dan keutuhan spiritualnya, merupakan suatu hal yang sangat
menyembuhkan. Kita melihat tidak ada musuh-musuh—tidak ada orang yang pada
dasarnya jahat atau sama sekali tanpa harapan atau situasi-situasi yang merusak.
Sebaliknya, ada kesempatan untuk tumbuh, belajar, melayani, dan bekerja sama
untuk meningkatkan kesadaran dan memberikan belas kasih dan pengertian tentang
situasi-situasi yang menyakitkan dan tidak adil yang bisa kita lihat membentang
di sekitar kita. Menyadari bahwa kita semua saling terkait satu sama lain,
berkah terbesar yang dapat kita berikan pada yang lain, baik hewan maupun
manusia, adalah dengan melihat keindahan, kepolosan, dan ketulusan mereka, dan
melekatkan semua itu dalam diri mereka.
Dunia yang kita lihat adalah buah pemikiran dan cara pandang kita. Melihat ke
dalam makanan yang berasal dari hewan di atas piring, kita melihat penderitaan
hebat, tangan-tangan kejam, dan hati yang keras. Melihat lebih dalam, kita
melihat bahwa tangan-tangan dan hati-hati ini sendiri telah disalahgunakan dan
dilukai tetapi rindu untuk dihibur dan dicintai, dan untuk menghibur dan
mencintai. Seperti yang kita lihat bahwa penyiksa selalu disiksa oleh dirinya
sendiri, kita kurangi sikap menghakimi dan lebih banyak mengerti, dan melindungi
yang lemah dari penyiksaan. Di saat kita mengobati luka kita dan berhenti makan
makanan hewani, kita menjadi lebih mampu berperan dalam penyembuhan budaya kita.
Kita mengerti bahwa kita harus mengurangi menjadi tangan-tangan penghakiman dan
hukuman—karena penderitaan yang dilakukan dengan sengaja akan kembali lagi tanpa
terelakkan dalam kesempurnaan waktu—tetapi lebih baik menjadi tangan-tangan
pengasih, penolong, dan penyembuh.
Saat kita menyadari keterkaitan kita dengan semua makhluk hidup, tujuan kita
secara alami menjadi orang yang menolong dan memberkahi yang lain, dan itu
adalah peran yang bisa kita lakukan tanpa lelah atau kemarahan. Penderitaan
mengerikan yang kita lihat dapat dengan pasti mengganggu dan membiadabkan kita,
tetapi kebiadaban berubah menjadi belas kasih dan kreativitas daripada
kemarahan, keputusasaan, atau balas dendam. Melampaui kemarahan dan keputusasaan
sambil tetap membuka hati kita untuk lautan kekejaman, ketidakacuhan, dan
penderitaan di atas bumi ini adalah tidak mudah. Itu memerlukan pemupukan
kebijaksanaan dan belas kasih—keduanya daya penerimaan batin yang hening yang
menghubungkan kita kepada kebenaran abadi diri kita, dan aksi luar melayani dan
menolong yang lain yang memberi arti pada hidup kita. Dengan menciptakan sebuah
lahan kedamaian batin, kebaikan, kegembiraan, dan persatuan, kita membantu
membangun area cinta kasih bagi planet yang mencerminkan kesadaran ini.9
Ketika kita berpegang kuat pada kebenaran apa adanya, mengetahui bahwa cinta
kasih tidak dapat dihalang-halangi dan bahwa dia menyelimuti bumi melalui kita
dan banyak yang lainnya, dan ketika kita hidup dengan pengertian ini dalam
kehidupan kita sehari-hari dan membaginya dengan yang lain, kita menciptakan
sebuah medan kebaikan dan menabur benih budaya transformasi. Tidak ada musuh
karena kita semua terhubung. Hubungan spiritual antara hewan dan manusia tumbuh
dari pemahaman bahwa kita semua adalah ekspresi dari kesadaran penuh kebajikan
yang abadi, dan ketika kita mengakui keterhubungan ini dan hidup selaras
dengannya, hidup kita menjadi doa dari belas kasih dan penyembuhan. Sebuah
pendekatan yang positif adalah hal yang penting karena hal itu menggerakkan
sumber spiritual kita, membangkitkan semangat besar, dan memberi lebih banyak
kegembiraan dan kasih pada dunia kita.
Seperti halnya ombak adalah manifestasi dari lautan dan tidak dapat dipisahkan
darinya, kita adalah cahaya yang membuat film menjadi mungkin maupun gambar di
layar yang diterangi oleh cahaya itu, masing-masing dari kita adalah unik dan
menyumbangkan suara kita, keinginan, dan semangat pada cerita yang membentang.
Dengan pemahaman ini kita dapat hidup untuk menolong dan memberkahi yang lain
baik dengan sebuah perasaan mendesak, yang diperlukan
dan tepat, maupun sebuah rasa kelegaan yang tidak menyalahkan yang lain atau
bertentangan dengan mereka. Menyalahkan dan menentang hanya melahirkan penolakan
dan memperkuat kesalahpahaman tentang keterpisahan. Evolusi spiritual
kemanusiaan kita adalah sebuah panggilan untuk membebaskan diri kita dan
hewan-hewan yang kita pertahankan dalam perbudakan. Ini ditemukan ketika
menyadari kesatuan dari sebab dan akibat: apapun benih yang kita taburkan dalam
kesadaran kita maka akan kita tuai dalam hidup kita. Ajaran kuno membenarkan:
“Kebencian dihentikan bukan oleh kebencian, tetapi oleh cinta. Ini adalah hukum
abadi.”10 Akhirnya, seperti yang Mahatma Gandhi tekankan, kita harus
menjadi perubahan dari dunia yang ingin kita lihat.
Pesan Si Rusa Besar
Satu malam di bulan Agustus 1991, di ketinggian pegunungan Olympic sebelah barat
kota Washington, saat itu saya sedang mendaki sebuah jalan berliku yang
sepertinya tanpa ujung dan terjal, berusaha untuk kembali ke mini-bus
yang diparkir di perhentian awal. Saya sudah pergi terlalu jauh untuk menuju ke
danau Alpine, dan sekarang kembali bermil-mil melewati daerah terjal, tanpa
makanan atau minuman, saya secara fisik kelelahan seperti yang belum pernah saya
rasakan dalam hidup saya. Setiap langkah membutuhkan usaha yang besar, dan dalam
keremangan cahaya bulan saya berdoa memohon kekuatan dan energi untuk
melanjutkan pendakian yang sulit ke puncak bukit. Merasa hampir sepenuhnya
terkuras, saya pikir saya mungkin harus berkemah di lereng yang dingin dan
tandus ketika saya merasa ada sesuatu yang hadir di samping saya. Berjalan maju
dengan susah payah, menarik setiap kaki dengan sekuat tenaga, saya melihat ke
samping kanan saya dan melihat, hanya empat atau lima yard jauhnya, seekor rusa
besar yang elok berjalan pelan di samping saya. Dalam keadaan mental yang
sedikit mengawang-awang karena kelelahan dan sendirian di pegunungan dalam
cahaya bulan, entah bagaimana hal itu tidak mengejutkan. Kami melanjutkan
berjalan bersama selama beberapa menit, dan bersama hewan yang sangat kuat ini
yang berjalan sangat dekat dengan saya, mampu memberikan dorongan yang sangat
besar. Secara mental saya berterima kasih kepadanya karena kami berjalan
bersama, atas penjagaan dan bantuannya terhadap saya, saya merasakan suasana
kekeluargaan yang dalam, di luar konsep istilah yang biasa. Saya merasa hubungan
kami sepenuhnya sebagai sebuah fakta dasar. Bersamanya di samping saya, secara
alami saya merasakan energi saya meningkat, dan segera saya dapat berjalan lebih
cepat dan dengan lebih yakin. Sebelum jauh, rusa besar itu melangkah dan
menyeberang di depan saya, menghilang ke dalam gelap. Dalam sepuluh menit
berikutnya, saya sampai di puncak bukit dan dapat turun ke tempat parkir.
Walaupun saya sangat haus dan lapar, dan van kecil saya dipenuhi dengan makanan
dan air, saya menunggu dan diam-diam berterima kasih pada rusa besar itu dan
misteri kebajikan alam semesta. Hati saya dipenuhi dengan rasa terima kasih atas
kehadiran cinta yang melimpah dan belas kasih yang saya rasakan menyinari saya
melalui rusa besar itu. Saya rasa saya tidak perlu berterima kasih pada rusa
besar itu, saudara saya, dengan pikiran atau kata-kata, karena ia mengetahui
hubungan kami. Rasa terima kasih apa pun yang saya berikan padanya hanya dapat
diberikan melalui tindakan saya untuk melindunginya dan semua saudara saya di
bumi ini, ungkapan suci dari sebuah cinta tanpa batas yang tersenyum pada saya
sore itu dari rusa besar itu, bintang-bintang, bulan, dan udara malam
pegunungan.
Rusa itu mengajarkan saya untuk mengambil waktu setiap hari untuk berterima
kasih, untuk merasakan hubungan saya dengan Misteri agung, dan untuk membukanya
ke dalam sumber kegembiraan dan kedamaian batin. Penangkal paling kuat untuk
kekejaman, kekerasan, dan ketidakpedulian bukan kemarahan dan kesedihan, tetapi
kasih, damai, gembira, dan semangat kreatif, hati yang terbuka untuk hadiah yang
berharga dari sebuah kehidupan manusia. Seperti Thich Nhat Hanh dengan bijaksana
berkata bahwa tanpa kedamaian batin, kita tidak dapat berperan untuk pergerakan
kedamaian, jadi tanpa kebebasan batin, kita tidak dapat berperan untuk kebebasan
hewan-hewan, yang merupakan prasyarat yang utama bagi kebebasan manusia yang
bermakna.
Pengalaman dengan rusa adalah satu dari banyak berkah yang saya dapatkan dengan
menjadi vegan. Veganisme membangkitkan perasaan damai mendalam di alam dan rasa
kekeluargaan, persahabatan, dan keselarasan dengan semua kehidupan. Mendorong
perasaan kekayaan batin yang terus tumbuh dan bertambah dalam dengan berjalannya
waktu, sebuah perasaan kelembutan dan sesuai tujuan. Menjadi vegan bukan sebuah
keputusan yang dibuat semata-mata oleh intelektualitas kita karena ini adalah
suatu konsekuensi alami dari batin yang sudah matang. Sementara, hal itu
tentulah membantu untuk memahami secara intelektual ‘mandala besar’ dari dampak
negatif makan makanan hewani, kita menemukan bahwa kita didorong ke arah
veganisme oleh intuisi kita. Di saat intuitif hati kita terbuka, hal itu membuka
pemahaman hubungan kita dengan makhluk lain dan mengikutsertakan mereka ke dalam
lingkup perhatian kita.
Dalam budaya kita, yang sangat terasuki oleh mentalitas dominasi dan larangan,
veganisme memerlukan terobosan spiritual. Terobosan ini tidak dapat dipaksakan
dalam cara apapun juga oleh orang lain, tetapi tentu saja dapat dianjurkan.
Melihat di balik tirai penderitaan luar biasa yang melekat dalam makanan hewani,
mempertanyakan, merenungkan ajaran spiritual, menumbuhkan kesadaran intuisi yang
lebih tinggi, dan mengamati contoh teladan vegan lainnya, semua itu berperan
dalam proses pematangan. Begitu kita dapat dengan jelas melihat hukum universal
atau prinsip yang mendasari veganisme, kita dapat mengalami transformasi
spiritual yang membolehkan kemungkinan pembebasan dan kebahagiaan yang lebih
besar. Begitu kita mengerti dan memahami, kita menjadi sebuah suara untuk yang
tak bersuara, sebuah nada di dalam paduan suara penyembuhan yang agung dan
membangunkan yang membentang di kesadaran bersama kita.
Dari Eksklusifitas Usang sampai ke Kita Semua
Warisan tradisi makan kita memerlukan mentalitas kekerasan dan penyangkalan yang
diam-diam menyebar ke dalam setiap aspek kehidupan pribadi dan umum kita,
menjejali institusi-institusi kita dan melahirkan krisis, dilema, ketidakadilan,
dan penderitaan dimana secara sia-sia berusaha kita mengerti dan merujuk secara
efektif. Sebuah cara makan baru yang tidak lagi berdasar pada hak-hak istimewa,
komodifikasi, dan eksploitasi bukan hanya mungkin tetapi penting dan tak
terhindarkan. Kecerdasan bawaan kita menuntutnya.
Anggota kongres Dennis Kucinich yang vegan berkata dalam pidatonya tahun 2002,
Saya telah melihat kelompok-kelompok orang yang mengatasi keanehan-keanehan yang
luar biasa karena mereka menjadi sadar bahwa mereka ikut serta dalam tujuan yang
melampaui diri sendiri dan merasakan gerakan yang tak dapat ditawar yang berasal
dari kesatuan. Kekerasan bukannya tidak dapat dihindari.
Kekerasan bukannya tidak dapat dihindari. Tanpa kekerasan dan kedamaian tak
terhindarkan. Kita dapat membuat dari dunia ini sebuah hadiah kedamaian yang
akan memperkuat kehadiran jiwa universal dalam hidup kita. Kita dapat mengirim
hadiah itu ke masa depan yang mana akan melindungi anak-anak kita dari rasa
takut, dari kejahatan, dari kehancuran.11
Begitu hati kita terbuka untuk pemahaman yang lebih dalam, lingkaran belas kasih
kita secara alami membesar dan secara spontan mulai memasukkan semakin banyak
“yang lain”—tidak hanya suku kita sendiri, sekte, bangsa, atau ras, tetapi semua
umat manusia, dan tidak hanya manusia, tetapi mamalia yang lain, dan
burung-burung, ikan, hutan-hutan, dan seluruh jalinan permadani indah kehidupan,
ciptaan yang bergetar. Semua makhluk. Kita semua.
Ketika kita ditarik menuju cara makan nabati, maka tak ada lagi batasan bagi
kita; malahan hal itu menjadi pemenuhan yang harmonis dari pengertian batin
kita. Pada mulanya kita berpikir itu adalah sebuah pilihan yang dapat kita
pilih, tetapi sejalan dengan waktu kita menyadari bahwa itu bukan pilihan sama
sekali tetapi ekspresi kebebasan akan kebenaran yang merupakan diri kita
sendiri. Itu bukan sebuah etika yang harus kita jaga dari luar, tetapi pancaran
kasih kita sendiri yang secara spontan memperlihatkan, baik untuk diri kita
maupun untuk dunia. Kepedulian lahir di atas bumi ini dan hidup melalui kita,
sebagai kita, dan itu bukan sesuatu yang bisa kita anggap sebagai pujian
pribadi. Itu bukan sesuatu untuk dibanggakan. Menahan diri dari memakan dan
menggunakan hewan adalah hasil alami dari pemahaman yang tidak lagi dirantai
dalam sel bawah tanah yang gelap dan kaku dari kepentingan diri yang sempit.
Dari luar, itu mungkin terlihat sama dan dinamakan “veganisme”, tetapi
sebenarnya itulah kesadaran dan ekspresi dari perasaan keterhubungan. Hal itu
terwujud secara alami sebagai inklusifitas dan kepedulian. Itu bukanlah masalah
besar karena merupakan fungsi normal dari sifat asli kita, yang tidak
putus-putusnya melihatnya sebagai makhluk hidup dibandingkan hanya sebagai benda
saat melihat pada tetangga kita di bumi ini.
Kita berutang pada hewan-hewan, yaitu suatu permintaan maaf yang amat besar.
Hewan tak berdaya dan tidak dapat membalas, mereka telah menderita kesakitan
yang luar biasa di bawah kekuasaan kita yang kebanyakan dari kita tidak pernah
menyaksikannya atau mengakuinya. Sekarang mengetahui dengan lebih baik, kita
dapat bertindak lebih baik, dan berlaku lebih baik, kita dapat hidup lebih baik,
dan memberi hewan-hewan itu, anak-anak kita, dan diri kita sendiri alasan yang
tepat untuk pengharapan dan perayaan.
Referensi
1. Thich Nhat Hanh,
Creating True Peace
(New York: Simon & Schuster, 2003), p. 77.
2. Jeremy Rifkin, “The World’s Problems on a Plate: Meat Production Is
Making the Rich Ill and the Poor Hungry,”
The Guardian,
May 17, 2002.
3. See www.foodnotbombs.org for further information.
4. See www.godsdirectcontact.org for further information. Ching Hai has
said, “If everyone practiced meditation and ate a wholesome diet without killing
involved, the world would long since have been in a peaceful state. There’s no
need to give up your property; just give up the meat-based diet. That would be
enough to save the world.”
5. Charles Fillmore, “The Twins: Eating and Drinking,”
Unity Magazine,
June 1915.
6. See Carol Simontacchi,
The CrazyMakers: How the Food Industry Is Destroying Our Brains and Harming Our
Children.
New York: Putnam, 2000.
7. For the complete story and interview with Dr. Pam Popper of the “Wellness
Forum,” see http://www.madcowboy.com/02_MCIview02.000.html.
8. Mary Spicuzza, “Eating on the Edge,”
The Seattle Times,
September 3, 2003. See also http://www.nationaleatingdisorders.org.
9. There are many ways to cultivate this inner field of loving-kindness and
compassion. One helpful resource is Judy Carman’s book
Peace to All Beings
(New York: Lantern Books, 2003), which contains prayers, meditations, and
stories that help readers deepen their spiritual connection with animals.
Another is the
Four Viharas Guided Meditation
compact disc by the author of this book, which teaches a 2,500-year-old practice
designed to help us reconnect with our inner spiritual abode of loving-kindness,
compassion, joy, and equanimity. A third resource is the compact disc album
AnimalSongs,
also by the author, which contains original piano music blended with the voices
of animals, with special attention to those species we use for food. See the
Resources section for further information.
10. Thomas Byrom, tr.,
The Dhammapada,
attributed to Gautama Buddha (New York: Bantam, 1976).
11. Dennis Kucinich, “Spirit and Stardust,” address given at the Dubrovnik
Conference on the Alchemy of Peacebuilding, June 4–11, 2002.
|
|