|
bab empat
MEWARISI PILIHAN MAKANAN KITA
“Orang-orang ingin hidup mapan. Hanya sejauh mereka belum mapanlah maka harapan
masih ada bagi mereka.”
- Emerson.
“Adalah suatu bentuk kekerasan untuk berupaya membujuk
anak-anak agar menyukai racun mematikan, cita rasa kasar dan tekstur tanpa kasih
dari daging hewan.”
- Jon-Wynne Tyson.
“Ini mengerikan! Tidak hanya penderitaan dan kematian satwa, tapi manusia
menindas, secara tak perlu, kapasitas rohani tertinggi di dalam dirinya - yaitu
rasa simpati dan belas kasih terhadap makhluk hidup seperti dirinya sendiri -
dan dengan melanggar perasaannya sendiri ia menjadi kejam.”
- Leo Tolstoy
Warisan Kita: Indoktrinasi Sejak Bayi
Alih-alih mengurangi kecerdasan dan belas kasih dengan
menyangkal dan menghancurkan kecerdasan dan tujuan hidup para satwa, kita bisa
merayakan, menghormati, dan menghargai luasnya keanekaragaman dari kecerdasan,
keindahan,
kemampuan, dan hadiah yang dimiliki satwa-satwa dan sumbangsihnya bagi dunia
kita. Kita bisa membebaskan diri dengan membebaskan mereka dan membiarkan mereka
untuk memenuhi tujuan yang dirindukan oleh kecerdasan
khusus mereka. Kita bisa menghormati kehidupan mereka dan memperlakukan mereka
dengan kebaikan. Kesadaran dan belas kasih kita akan berkembang, membawa lebih
banyak kasih dan kebijaksanaan ke dalam hubungan kita satu sama lain. Kita bisa
hidup dalam keserasian yang jauh lebih besar dengan kecerdasan universal yang
adalah sumber kehidupan kita. Namun, untuk melakukannya, kita harus berhenti
memandang satwa sebagai komoditas, dan ini berarti kita harus berhenti memandang
mereka sebagai makanan.
Jika kita melihat satwa pada umumnya, kita menyadari
bahwa mungkin tidak ada
pelajaran yang lebih mendasar dan penting yang diberikan
oleh orang tua kepada anaknya selain cara memberi makan. Dalam mencari,
mempersiapkan, dan menyantap makanan, makhluk dewasa dari setiap spesies
mengajar anak-anak mereka baik secara langsung maupun melalui contoh. Kita
manusia juga demikian. Faktanya, karena ketika masih bayi kita lebih rentan
daripada satwa, pendidikan terhadap makanan bahkan jauh lebih penting lagi.
Hubungan paling awal dan mendasar antara kita dengan orang tua ada di sekitar
makanan dan bersantap.
Sejak lahir kita minum air susu ibu kita. Bagi kita dan
semua mamalia, cara menyusui ini melambangkan perasaan dicintai, dirawat,
dilindungi dan terikat dengan ibu kita dan dengan semua yang diwakili ibu kita.
Dia telah melahirkan kita keluar dari tubuhnya dan memberi kita makan dari
payudaranya. Dia mewakili struktur kehidupan yang tak terbatas, kecerdasan penuh
kasih sangat besar yang merupakan asal kita dan asal dari semua kehidupan, yang
memberi makan dan mengasihi semua makhluk sebagai perwujudan dirinya sendiri
dalam keberadaannya yang tak terbatas. Minum susu dari payudara ibu kita adalah
salah satu simbol tindakan alamiah paling kuat yang bisa kita lakukan sebagai
manusia. Kita merasa aman, dicintai, tercukupi, dan terhubung langsung dengan
sumber kehidupan kita yang sarat dengan kasih dan misterius. Kita benar-benar
mempercayai ibu kita dan air susunya.
Ketika kita tumbuh lebih dewasa, lebih kuat, dan lebih
mandiri, ibu kita mempersiapkan makanan lunak khusus buat kita. Dalam sebuah
peristiwa yang sangat penting bagi kita sebagai anak-anak, kita dipisahkan dari
air susu ibu kita dan diajarkan cara menyantap makanan kita dan menyuapi diri
kita sendiri. Sangat mungkin perasaan kehilangan masa menyusui yang
mengganggu itu merekam dengan kuat makanan pengganti yang diberikan kepada kita
terutama pada anak-anak belia kita yang pikirannya mudah menerima. Kita
kehilangan kehangatan dan keintiman minum air susu ibu dan kita mulai diberi
makan makanan orang tua kita seperti makanan lunak untuk bayi–termasuk daging
ayam, daging anak lembu (veal), keju dan produk hewani lainnya. Seiring dengan
bertambahnya usia, jumlah daging, susu, dan telur yang diberikan kepada kita
meningkat dan secara bertahap menjadi lebih nyata dan tak bisa disangkal. Tubuh
dan pikiran kita dikondisikan oleh daya paling kuat di dunia kita (orang tua dan
keluarga kita) dan dengan cara yang paling kuat (melalui perawatan dan pemberian
makan) untuk meyakinkan bahwa kita adalah omnivora, bahkan karnivora alamiah,
dan oleh karena itu adalah pemangsa. Tidak heran, sangat sulit untuk
mempertanyakan makanan yang kita makan, dan tabu ini mengakar begitu dalam!
Kita tidak bisa bertahan hidup tanpa makanan yang diberikan orang tua kita,
sebuah ungkapan nyata dan bisa diterima dari cinta dan kepedulian mereka kepada
kita. Ketika kita menerima makanan dari mereka, kita menerima mereka serta
nilai-nilai dan budaya mereka. Pada setiap acara makan, tiga kali sehari,
makanan mereka menjadi kita. Budaya dan makanan mereka menjadi budaya dan
makanan kita.
Kebanyakan dari kita menolak jika diberi tahu bahwa kita telah di indoktrinasi.
Bagaimanapun, kita hidup di negeri yang bebas, dan kita mengira kita dengan
bebas sampai pada keyakinan bahwa kita perlu makan produk hewani dan bahwa itu
wajar dan benar untuk dilakukan. Faktanya, keyakinan ini telah diwariskan kepada
kita. Ketika masih menjadi bayi yang rentan kita telah di indoktrinasi jauh
sampai mengurat akar dengan semua cara kuat yang mungkin; namun karena budaya
kita menyangkal adanya indoktrinasi, kenyataan proses ini tak terlihat,
membuatnya sulit bagi sebagian besar dari kita untuk menyadari atau mengakui
kebenarannya. Kita menjadi marah bila seseorang menyampaikan bahwa makanan penuh
cinta dari ibu dan daging panggang buatan ayah kita adalah bentuk indoktrinasi.
Ibu dan ayah kita tidak berniat untuk mengindoktrinasi kita, sama seperti orang
tua mereka juga tidak berniat untuk mengindoktrinasi mereka. Namun, budaya kuno
peternakan kita, pertama melalui keluarga dan yang kedua melalui agama,
pendidikan, ekonomi, dan lembaga pemerintah, terus memaksa proses indoktrinasi
ini agar pengikutnya bertambah banyak dalam setiap generasi dan terus berlanjut.
Alasan bahwa keyakinan yang diindoktrinasikan ini menolak untuk direnungkan atau
dipertanyakan adalah karena kita tidak sampai kepadanya secara bebas, tidak
dengan kemauan kita sendiri. Jika kita ditantang dalam sebuah keyakinan yang
mana kita telah bersusah payah sendiri untuk mencapainya, kita merasa
bersemangat dan menyambut kesempatan untuk memperdalam pemahaman kita, untuk
saling bertukar, untuk bertumbuh. Namun jika keyakinan itu adalah hasil
indoktrinasi, kita merasa cemas dan terganggu jika ditantang. Ini bukanlah
keyakinan kita, namun kita tetap percaya. Jadi kita mencoba untuk mengubah topik
pembicaraan, dan jika itu tidak berhasil, kita mengalihkannya, atau
mengakhirinya, atau pergi, atau menyerang orang yang menantang keyakinan kita
yang diindoktrinasikan itu. Kita melakukan apa saja yang bisa untuk menghalangi
umpan balik atau pertanyaan. Karena kita telah menerima keyakinan itu secara
tidak sadar, kita tidak bisa membela atau mendukung keyakinan itu tetapi harus
tetap tidak sadar akan masukan dari dalam atau dari luar yang menantangnya.
Ketidaksadaran yang dipaksakan ini menjadi semacam perisai, menumpulkan pikiran
dan mematikan percikan kerohanian penting dalam diri kita yang mencari kesadaran
lebih tinggi melalui peningkatan pemahaman dan kebebasan batin. Harga yang kita
bayar untuk indoktrinasi yang tak bisa dipertanyakan dan kepercayaan yang
diwariskan ini sangat besar. Dengan secara tidak kritis menerima kepercayaan
yang ditransmisikan melalui budaya, kita tetap menjadi kanak-kanak, secara etika
maupun rohani. Karena pikiran kita telah terkondisi dan kita tidak mampu untuk
mempertanyakan pengondisian tersebut, kita merasa sulit untuk menjadi dewasa
atau menyumbangkan hadiah unik kita. Lagu kita bisa mati dalam diri kita tanpa
pernah dinyanyikan sepenuhnya, sehingga semua orang rugi, terutama diri kita
sendiri.
Pentingnya
Meninggalkan Rumah
Jika
kita ingin dewasa secara rohani dan moral, dan jika kita ingin memelihara
benih-benih kecerdasan, kasih sayang, dan kebebasan dalam diri kita, kita harus
berlatih mempertanyakan dasar asumsi-asumsi dari keluarga dan budaya tempat kita
dilahirkan. Ini telah dipahami selama berabad-abad sebagai hal yang mendasar
baik untuk kebangkitan kerohanian secara individu maupun kemajuan sosial. Dalam
ajaran Buddha, ini disebut “meninggalkan rumah.” Yesus merujuk kepada praktik
yang sama ketika secara retoris Ia bertanya, “Siapakah ibu-Ku? Dan siapakah
saudara-saudara-Ku “(Matius 12:47) dan ketika Ia mengatakan, “Setiap orang yang
demi Aku dan Injil meninggalkan rumahnya,… ia akan menerima kembali seratus kali
lipat sekarang, pada masa ini juga, dan pada dunia yang akan datang ia akan
menerima hidup yang kekal.” (Markus 10:29-30).
Meninggalkan rumah adalah istilah kaum Buddhis untuk praktik rohani
mempertanyakan nilai-nilai masyarakat kita dan menyetujui seperangkat nilai yang
lebih tinggi. Ini sangat penting untuk kemajuan rohani karena ia menghasilkan
kematangan yang dapat mengarah pada kesadaran yang lebih tinggi, belas kasih
yang lebih besar, dan, akhirnya, kebebasan dari khayalan sebagai diri yang pada
dasarnya terpisah dan penderitaan dan kekerasan yang disebabkan oleh khayalan
ini.
Ketika secara sadar merenungkan dan mempertanyakan pandangan dunia dan
praktik-praktik orang tua, keluarga, dan budaya kita, kita menjadikan tindakan
meninggalkan rumah sebagai fondasi penting dan prasyarat bagi pertumbuhan rohani
kita dan untuk melakukan apa yang disebut oleh Joseph Campbell sebagai
Perjalanan Pahlawan. Perjalanan Pahlawan itu adalah pencarian rohani yang diakui
secara lintas-budaya yang mana kita meninggalkan penjara rumah dan budaya,
melakukan perjalanan ke dalam batin (dan biasanya ke luar) dan mencapai
pemahaman lebih tinggi, dan kemudian kembali ke dalam budaya kita dengan
kekuatan baru untuk memperbaharui, menggairahkan, dan mengangkat komunitas kita
melalui perkembangan batin yang diperoleh dalam perjalanan kita.
Dalam mempertanyakan praktik budaya kita yang paling mendasar dan menentukan,
yaitu memenjarakan dan bertindak brutal terhadap satwa untuk makanan, kita
berlatih meninggalkan rumah dan memulai perjalanan rohani yang pada dasarnya
akan menempatkan kita berlawanan dengan nilai-nilai budaya kita, tapi pada saat
yang sama memungkinkan kita untuk menjadi pahlawan yang dapat membantu
mengangkat dan mengubah budaya kita yang sedang sakit. Dengan mengenali dan
memahami kekerasan yang melekat dalam ritual makan kita dan secara sadar
menjalankan pola makan nabati, menjadi suara bagi mereka yang tak memiliki
suara, kita bisa memperoleh belas kasih dan kebahagiaan yang lebih besar dan
dengan lebih utuh menjalani kebenaran saling keterhubungan kita dengan semua
kehidupan. Dengan ini kita memenuhi ajaran-ajaran universal yang mempromosikan
kecerdasan, keserasian dan kebangkitan rohani. Hidup kita dapat menjadi ladang
kebebasan dan perdamaian begitu kita memperdalam pemahaman kita tentang
kesakralan dan saling ketergantungan antara semua makhluk hidup, dan menolak
bekerja sama dengan kekuatan-kekuatan yang memandang makhluk hidup hanya sebagai
barang dagangan.
Dengan mempertanyakan pengondisian budaya yang kita warisi untuk
memperdagangkan, menyiksa, dan makan daging satwa, kita mengambil langkah
terbesar yang dapat kita lakukan untuk meninggalkan rumah, menjadi orang dewasa
yang bertanggung jawab, dan dewasa secara rohani, dan dengan secara aktif
membantu orang lain melakukan hal yang sama, kita pulang dengan pesan belas
kasih dan kebenaran yang membebaskan sehingga dapat mengilhami dan memberkati
orang lain. Dengan meninggalkan rumah kita dapat menemukan rumah sejati kita,
memberikan sumbangsih terhadap kemajuan sosial, dan juga membantu para satwa
yang dengan mereka kita sama-sama berbagi Bumi yang berharga ini, agar memiliki
kesempatan untuk merasa di rumah lagi.
Kekuatan Tekanan
Sosial
Sebagaimana yang bisa kita lihat, meresapnya kepercayaan budaya kita dalam hal
makan, menguasai, dan memperdagangkan satwa adalah warisan hidup, yang
diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui praktik ritual
berbagi kita yang paling kuat, yaitu menyantap makanan. Sebagian besar dari
kita, jika ditanya mengapa makan daging, akan memiliki tiga alasan dasar: kita
butuh protein, orang lain juga melakukannya, dan rasanya enak. Alasan pertama
adalah contoh yang bagus dari keyakinan yang diwariskan. Kita telah diberi tahu
sejak masa kanak-kanak bahwa kita perlu protein hewani, dan kita mempercayainya
meskipun sangat banyak bukti-bukti yang menyatakan sebaliknya. Seiring dengan
indoktrinasi mendalam bahwa kita harus makan daging hewan, yang bisa kita
pertanyakan melalui praktik kita meninggalkan rumah, dua alasan utama lain
mengapa orang-orang saat ini makan daging hewan berpangkal pada tekanan sosial
dan cita rasa.
Kita manusia sangat peka terhadap tekanan sosial. Kita dikelilingi oleh budaya
omnivorisme seperti ikan yang hidup dikelilingi oleh air. Kita ingin merasa
diterima dan menjadi bagian dari kelompok yang kita kenal, jadi kita tak mungkin
dengan serius memeriksa praktik makan daging hewani yang telah meresap secara
budaya ini. Makanan membawa pengaruh besar secara sosial, dan kita khawatir
orang lain mungkin akan sakit hati atau tersinggung atau tidak menyukai kita
jika kita menentang kebiasaan makan daging ini. Kita menyadari bahwa dengan
tidak makan makanan hewani, kita akan dipandang sebagai ancaman dan secara
implisit mengkritik mayoritas orang di sekitar kita yang memakannya. Karena kita
secara alami ingin menyenangkan teman-teman, keluarga, kolega, dan rekan kerja
dan diterima oleh mereka, kita tahu secara naluriah untuk tidak mempertanyakan
praktik utama seperti makan daging hewani saat makan bersama yang sangat
mendasar bagi hubungan kita. Membicarakan tentang betapa lezatnya makanan,
berbagi resep, acara masak bersama, memancing, bepergian bersama-sama, berbagi
restoran favorit, bersantai dan menikmati acara gereja memanggang daging: ini
hal-hal menakjubkan dari kehidupan sosial kita yang berkisar tentang berbagi
makanan, dan tidak ada yang lebih berpotensi mengganggu semua ini daripada
menolak untuk mengurung dan membunuh satwa tak berdaya, yang merupakan dasar
dari makanan kita. Tidak ada tindakan yang lebih subversif terhadap budaya
peternakan daripada menolak melihat satwa sebagai barang dagangan—atau lebih
konkret lagi, daripada menolak untuk makan makanan hewani. Kita sungguh memahami
hal ini, dan tekanan sosial supaya bisa diterima dan menyantap apa yang dimakan
setiap orang berlangsung tanpa henti.
Di atas semua tekanan sosial ini adalah tekanan pemasaran yang berasal langsung
dari industri makanan hewani. Industri daging, susu dan telur terkenal agresif
memasarkan produk mereka, membidik anak-anak dan pakar kesehatan profesional
pada khususnya. Contohnya sudah menjadi rahasia umum bahwa industri susu telah
memberikan “materi pendidikan” gratis untuk sekolah-sekolah selama beberapa
dasawarsa, dan tanpa rasa malu mempromosikan produk susunya. Industri makanan
hewani juga membina hubungan yang hangat dengan para ahli gizi profesional,
pakar pola makan, dan asosiasi medis dengan mendanai program-program dan sekolah
mereka, serta membantu mereka secara finansial. Asosiasi-asosiasi ini tentu saja
membalas kebaikan mereka dengan merekomendasikan—atau setidaknya tidak
mempertanyakan—praktik makan makanan hewani.
Kita dikelilingi oleh gambar-gambar di media dan pesan-pesan yang mempromosikan
makan daging, produk susu, dan telur. Restoran cepat saji berbasis daging ada di
mana-mana dalam ranah budaya kita, dan mereka menghabiskan miliaran dolar setiap
tahunnya untuk iklan dan mempromosikan produk-produk mereka. McDonald's
misalnya, dilaporkan menghabiskan sebanyak US$500 juta hanya untuk satu kampanye
iklan, sedangkan Institut Kanker Nasional menghabiskan hanya sekitar US$1 juta
per tahun untuk mempromosikan makanan berbasis lima porsi buah-buahan dan
sayur-mayur per hari. Industri susu menghabiskan ratusan juta dolar AS dalam
kampanye iklan yang sangat efektif, dan bahkan mendapatkan bantuan keuangan dan
hukum dari pemerintah federal untuk mempromosikan produk-produknya! Makanan
adalah industri terbesar AS, dan dikuasai oleh produsen daging, susu, dan telur.
Sebagai konsumen potensial, kita semua terus dibombardir dengan pesan-pesan yang
halus dan tak-begitu-halus untuk membeli produk mereka. Promotor penjualan
terhebat dari industri daging, susu, dan telur tentu saja adalah orangtua,
keluarga, tetangga, dan guru kita saat kita tumbuh, dan rekan-rekan kerja,
keluarga, dan teman-teman kita saat kita bertambah tua.
Kita memasukkan nilai ini dan menciptakan citra diri—sebagai orang yang makan
secara normal dan menikmati makanan tertentu—yang menentukan perilaku kita.
Sudah lama industri periklanan memahami bahwa meskipun kita menolak untuk
dipengaruhi secara langsung, namun kita mudah terpengaruh jika kita bisa
diidentifikasikan dengan citra tertentu. Begitu kita memihak kepada suatu citra,
industri hanya perlu memanipulasi citra tersebut untuk memanipulasi perilaku
kita. Melihat sebuah citra yang menggambarkan “orang Amerika yang sukses”
menyantap makanan tertentu, misalnya, kita secara alami ingin membeli makanan
yang sama karena kita membayangkan diri kita adalah orang Amerika yang sukses
juga. Dengan cara ini, program dan iklan di media massa bekerja bergandengan
tangan untuk menciptakan permintaan yang kuat dan dapat diandalkan untuk produk
tertentu.
Perlu dicatat bahwa sumber mendasar lain yang memberi tekanan untuk menyantap
makanan hewani adalah perusahaan obat-obatan, yang menunjukkan hampir antipati
universal terhadap makanan nabati. Obat-obatan adalah industri terbesar kedua di
AS setelah makanan, dan industri farmasi, seperti juga industri makanan cepat
saji, menghabiskan banyak uang untuk iklan dan mempromosikan produk-produknya.
Dengan investasi besar-besaran di rumah sakit, riset, peralatan, para dokter,
sekolah kedokteran, dan aspek lain dari substrukturnya yang sangat besar,
industri medis (dan industri perbankan yang sembunyi di baliknya) menuntut
aliran terus-menerus yang dapat diandalkan dari orang-orang sakit. Tiba-tiba
bisa dipahami mengapa begitu banyak cara digunakan untuk mencegah orang
mempertanyakan pola makan omnivoranya, mengingat begitu banyak bukti meyakinkan
bahwa kita akan jauh lebih sehat dan akan menjadi konsumen produk farmasi dan
layanan kesehatan yang kurang bisa diandalkan, jika kita meninggalkan makanan
hewani.
Jadi, tekanan sosial dari teman, keluarga, rekan kerja ditambah dengan tekanan
pasar dari industri makanan dan medis menekan kita semua dengan hebat untuk
menyantap makanan hewani dan membatasi kesadaran kita akan akibat dari tindakan
kita. Kekuatan yang berpengaruh dalam kehidupan kita ini tidak ingin kita
meninggalkan rumah dan berpikir untuk diri kita sendiri tentang apa yang kita
makan dan konsekuensi dari pilihan makanan kita. Puncak ironinya adalah, di
tengah semua tekanan ini, kita mungkin dengan marah menanggapi orang-orang yang
mempertanyakan mengapa kita menyantap makanan hewani dengan berkata, “Jangan
mengatur apa yang harus saya makan!” Kita sudah diberi tahu, dan sedang diberi
tahu dengan cara yang jelas, apa yang sebaiknya kita makan.
Kita bisa melihat bahwa secara historis, tekanan sosial telah menjadi faktor
kuat dalam memperlambat kemajuan sosial dan mempromosikan rasisme, intoleransi,
kekerasan, dan perang. Sementara adat istiadat sosial tentu dapat mempengaruhi
kita secara positif, sangat jelas bahwa mereka juga mempengaruhi kita dalam
banyak hal yang bersifat negatif. Tekanan sosial di antara remaja laki-laki
adalah faktor yang kuat dalam hal, misalnya, mendorong penyalahgunaan
obat-obatan dan alkohol, melihat gadis-gadis sebagai obyek seksual, dan sangat
tidak menyetujui homoseksualitas, yang mendorong sebagian anak laki-laki putus
asa dan bunuh diri. Sudah terkenal bahwa di dalam Nazi Jerman, tekanan sosial
memainkan peran kunci terhadap kemampuan Adolf Hitler untuk menggabungkan
kekuasaan, membunuh jutaan orang Yahudi, gipsi, komunis, homoseksual, dan pergi
berperang melawan jutaan orang lain. Perburuan penyihir abad pertengahan Eropa
yang terjadi selama beberapa abad, meneror wanita dan dengan kejam membunuh
puluhan ribu orang, adalah sebuah contoh suram yang bisa digunakan oleh kekuatan
tekanan sosial yang mengerikan.
Tekanan sosial jelas berpengaruh kuat di daerah Selatan AS sebelum masa perang
sipil, memperkuat sikap kaum rasis kulit putih bahwa perbudakan dibutuhkan
dengan kepercayaan umum dan ritual sosial yang menegaskan supremasi kulit putih.
Kini, tekanan sosial pada dasarnya sama saja dalam mempromosikan perilaku
supremasi manusia bahwa satwa adalah milik kita untuk dimakan, dikenakan sebagai
pakaian, dan digunakan. Kepercayaan umum satwa dipergunakan sebagai makanan
sungguh sangat negatif, sama sekali membutakan kita akan kecerdasan dan
keindahan babi, sapi, ayam, kalkun, ikan, dan satwa lainnya. Ritual sosial yang
bersifat menguasai, seperti rodeo, sirkus, dan kebun binatang; semua ini
memperkuat ritual dominasi dan pengucilan setiap hari yang dikenal sebagai
makanan. Intensitas tekanan sosial untuk secara kolektif menyiksa satwa ini
sungguh besar: bahkan anggota Ku Klux Klan yang paling antusias sekalipun tidak
membakar salib tiga kali sehari!
Kita sering menemukan bahwa jika kita tidak ikut serta dalam memakan dan
menguasai satwa, orang mengerutkan kening dan kita disingkirkan dalam berbagai
cara. Tekanannya mungkin lebih terbuka dalam budaya koboi dari Wyoming daripada
budaya urban di Chicago, namun tekanan itu sama menyeluruhnya dan, bagi banyak
orang, terlalu menakutkan untuk ditahan, terutama jika hal itu berasal dari
anggota keluarga atau rekan yang ingin kita senangkan hatinya.
Merenungkan Rasa
Selain indoktrinasi anak serta tekanan sosial dan pasar, ada faktor ketiga yang
mendorong orang mengonsumsi makanan hewani, yaitu rasa. Yakni aroma daging yang
dimasak – aroma yang akrab dari daging panggang dalam periuk, misalnya – sungguh
enak, atau aroma yang memicu kenangan manis masa kecil? Aroma tersebut
mengingatkan kenangan pada dapur ibu kita dan perasaan hangat cinta yang kita
dapatkan melalui masakan ibu di rumah. Jika pasangan kita ingin menjalankan pola
makan nabati dan menyiapkan tumis sayuran dengan tempe dan kentang bakar, kita
mungkin tidak menganggap aromanya sangat sedap sebab kita tidak pernah
menciumnya di dapur ibu kita. Kita akan menentang makanan tersebut dan
menggunakan tekanan sosial kepada pasangan kita yang vegetarian agar kembali
pada “makanan sesungguhnya.”
Mungkin benar, seperti pepatah mengatakan bahwa rasa tidak bisa diperdebatkan,
tetapi hal ini selalu bisa direnungkan. Saat merenungkan rasa makanan hewani,
beberapa hal akan menjadi jelas dengan seketika. Salah satunya adalah kita jijik
makan daging dalam keadaannya yang alami. Betapa ironis! Tidak seperti makanan
nabati, yang lebih enak bila tidak dimasak, daging mentah pada dasarnya
menjijikkan bagi kita. Pada hakikatnya daging selalu dimasak dan disajikan
dengan baik agar pantas menjadi makanan kita manusia, tidak seperti daging
mentah, darah, sisik, kulit, tulang, dan organ-organ yang dilahap oleh omnivora
dan karnivora alami. Jika karena terpaksa kita makan daging mentah alami atau
bukan daging, saya kira kita akan langsung menjadi vegetarian.
Hal lain yang kita perhatikan adalah bahwa kita tidak menyukai daging jika basah
oleh darah walaupun sudah dimasak. Alasan utama satwa menderita dengan sangat
mengerikan di rumah jagal adalah mereka harus masih hidup saat kerongkongannya
digorok sehingga jantungnya yang masih berdenyut bisa memompa darah keluar dari
tubuhnya dan dagingnya menjadi setengah kering. Jika mereka dibunuh dengan cara
lain dan mayatnya dipotong, dagingnya akan basah oleh darah sehingga tidak ada
yang mau memakannya.
Satu fakta yang biasanya tidak kita perhatikan adalah daging tanpa darah yang
dimasak dengan baik yang kita santap, diresapi dengan limbah dari sel-sel yang
membentuk daging. Limbah ini, atau urea, tidak bisa dipisahkan dari daging, dan
sebelumnya mengalir ke dalam darah saat hewan dibunuh, untuk disaring keluar
dari darah oleh ginjal dan dikeluarkan sebagai air seni. Nyatanya, yang membuat
daging berbeda dan rasanya menggugah selera adalah urea yang matang di dalam
daging itu. Asin dan “berisi,” urea memberikan rasa pada daging yang kita anggap
sebagai makan malam yang mewah dan tamasya menyenangkan makan daging panggang.
Hal keempat yang kita perhatikan tentang rasa produk hewani adalah, dalam banyak
hal, semakin kita menyamarkan dan menyembunyikannya, kita akan semakin
menyukainya. Kita memasak daging dan telur dengan menambahkan garam, merica,
bumbu, bumbu herbal dan segala macam penyedap dan pengubah rasa. Sebagian besar
keju melibatkan memasak susu hewani, dan tanpa tambahan garam, kebanyakan keju
akan tidak menarik selera sebagian besar orang. Kita menambahkan semua jenis
bumbu, buah-buahan dan gula agar krim dan susu lebih menarik dalam es krim, susu
cokelat, dan yogurt yang diberi perasa. Kita mengubur pastel daging lunak asap
asin yang digiling halus dalam irisan tomat, bawang, selada, sesawi, kecap, saus
selada, dan perangsang selera. Kita harus bertanya, apakah sesungguhnya rasa
dari daging dan produk hewani yang sangat kita nikmati? Ataukah semua bumbu,
rempah-rempah, dan saus nabati yang menyamarkan dan menyedapkan rasa produk
hewani yang selama ini ditekankan agar kita makan? Selain rempah-rempah,
hamburger disamarkan dengan baik dalam propaganda; McDonald mengatakan kepada
anak-anak kita bahwa hamburger berasal dari bibit burger yang ditanam (“burger
patch”).
Jika dimasak dan disamarkan dengan benar, produk-produk daging, telur, dan susu
semua punya satu faktor rasa: yaitu tinggi lemak jenuhnya. Kita sebagai manusia
tampaknya sangat mudah mengembangkan keinginan pada makanan berlemak, krim,
berminyak, dan makanan hewani cenderung memenuhi keinginan akan selera ini,
walaupun makanan nabati tentu saja bisa disajikan berminyak, dengan krim jika
kita sangat menginginkannya, dan tanpa kolesterol beracun dari makanan hewani.
Karena kombinasi lemak dan urea yang dimasak tidak bisa ditiru secara tepat oleh
makanan nabati, memang ada rasa dan tekstur dalam makanan hewani yang tidak bisa
ditiru secara persis oleh makanan nabati, tapi banyak pengganti daging
belakangan ini yang secara menakjubkan sangat mirip. Bagaimanapun juga,
kebanyakan orang yang dibesarkan sebagai omnivora dan telah beralih kepada pola
makan nabati selama paling sedikit satu atau dua tahun sama sekali tidak
menemukan sesuatu yang menarik dalam rasa dan tekstur makanan hewani. Dari
pengalaman saya, mereka tidak menginginkannya sama sekali, dan merasa semakin
jijik terhadapnya.
Menurut Neal Barnard, M.D., “Salah satu penemuan yang paling mengagetkan dalam
ilmu selera makan adalah bahwa rasa membutuhkan pemeliharaan.”2
Karena sel rasa kita diperbaharui setiap tiga minggu, Dr Barnard menunjukkan
bahwa “hanya diperlukan dua atau tiga minggu” oleh sel rasa kita untuk melupakan
rasa makanan hewani, dan ini akan melenyapkan sebagian besar keinginan kita
untuk menyantapnya, sebab sel rasa yang baru akan terbiasa hanya dengan rasa
makanan nabati. Keinginan kita akan makanan hewani dikondisikan dengan
pemeliharaan dan pengulangan, dan pola makan umum kita – tinggi lemak
hewani, protein hewani, dan kolesterol – yang pada dasarnya beracun bagi
perangkat tubuh kita.
Tetapi penghapusan keinginan tersebut mungkin tidak begitu sederhana. Seperti
dibicarakan oleh Neal Barnard dalam Breaking the Food Seduction, semakin
banyak riset yang menunjukkan bahwa daging dan khususnya keju menyebabkan
ketagihan secara fisik. Saat dicerna, keju melepas racun yang disebut
casomorphin serta zat kimia menyerupai amphetamine yang disebut phenylethylamine,
yang juga ditemukan dalam sosis. Ham, salami, tuna, dan daging lainnya juga
tampaknya menyebabkan ketagihan, sebab obat-obatan yang menghalangi candu
mengurangi keinginan orang terhadap makanan tersebut.3 Selain
ketagihan fisik apapun yang mungkin, banyak keinginan akan makanan hewani
kelihatannya bersifat mental dan emosional; aroma dari masakan daging panggang
mengingatkan kita kepada ibu dan rasa aman serta citra-diri.
Menyantap makanan sangat menyerupai hubungan seksual dalam hal citra dan sikap
batin yang kita miliki lebih penting bagi kenikmatan kita daripada tubuh fisik
atau kenyataan obyektif diri kita atau pasangan kita. Rasa kita pada akhirnya
ditentukan oleh pikiran kita. Saya telah menemukan secara pribadi bahwa
apresiasi rasa yang saya miliki terhadap makanan berkembang pesat sejak saya
mulai mengikuti pola makan nabati tiga puluh tahun yang lalu, dan seiring
berjalannya waktu, rasanya lebih kaya, lebih bervariasi tanpa batas, dan terus
bertambah lezat. Kebanyakan vegan yang saya ajak bicara juga membenarkan hal
ini. Mungkin ada dua alasan utama untuk hal ini. Kesatu yaitu makanan nabati
cenderung lebih halus dalam rasa daripada makanan hewani. Saat kami berdiskusi,
makanan hewani terasa asin karena urea dan tambahan garam, dan biasanya dibubuhi
dengan pelunak, saus, bumbu, dan penyedap rasa yang rasanya kuat,4
Indra perasa kita bisa menjadi sedikit mati rasa oleh rasa yang kuat, jadi pada
awalnya pola makan nabati sering terasa hambar.5 Walaupun begitu
dalam beberapa minggu, saat indra perasa berubah dan menjadi lebih sensitif
karena tidak lagi dibebani secara kronis oleh rasa kuat buatan yang ditambahkan
pada makanan hewani, kita menjadi lebih sensitif pada rasa lembut dari
sayur-mayur, padi-padian, polong-polongan, dan buah-buahan, serta segala cara
tak terhingga dalam menyajikan dan mencampur makanan nabati tersebut. Pandangan
rasa baru terkuak secara terus-menerus .
Alasan lain makanan nabati terasa lebih enak yaitu kita merasa lebih baik saat
menyantap makanan nabati dan merenungkan asalnya. Makan dengan perlahan, kita
menikmati bayangan akan kebun buah organik dan kebun-kebun yang menyediakan
sayur-mayur, buah-buahan, dan padi-padian lezat yang kita makan. Kita tumbuh
untuk menghargai keindahan nyaris ajaib dari kubis dan kembang kol, aroma biji
wijen panggang, irisan jeruk, irisan cilantro, labu kabocha bakar, serta tekstur
mengagumkan dari alpukat, kesemek, quinoa kukus dan tumis tempe. Kita berterima
kasih atas hubungan yang kita rasakan dengan Bumi, awan, petani yang
memeliharanya, dan musim-musim, dan rasa adalah hadiah lezat yang secara alami
kita membuka diri kepadanya dengan senang hati, seperti kita terbuka kepada
orang terkasih dalam bercinta dan menghargainya sepenuh hati. Sebaliknya,
menyantap makanan hewani sering dilakukan dengan cepat, tanpa merasakan asal
makanan itu secara mendalam – sebab siapa mau merenungkan neraka jahanam yang
menghasilkan ikan, ayam, telur, keju, bistik, daging babi, hot dog, atau burger
dari pabrik peternakan? Merasa bersalah, kita hanya mengambil energi
kehidupannya, tanpa benar-benar membuka diri pada hal itu, seolah-olah kita
berhubungan seks dengan wanita tuna susila, menolak mengakui bahwa ia adalah
makhluk unik dan berharga, dan menjauhkan diri kita dari penderitaannya. Hanya
kesenangannya saja, – lebih dari itu akan merusak kesenangan kita. Nyatanya,
rasa yang kita hargai dalam makanan hewani lebih menyerupai hubungan seks yang
dilakukan seperti pemerkosa, sebab wanita tuna susila itu setidaknya menyetujui
dan mendapat keuntungan dari keinginan kita, tetapi hewan selalu dipaksa melalui
siksaan dan dibunuh demi selera dan kesenangan kita yang patut dipertanyakan.
Saat kita merenungkan selera kita, kita bisa melihat betapa sesungguhnya hal ini
terkondisikan. Meskipun begitu yang lebih penting, kita bisa melihat betapa hal
itu sangat tidak bisa dibuat sebagai alasan untuk melakukan kekejaman terhadap
makhluk-makhluk tak berdaya yang bisa merasakan. Keinginan yang mementingkan
diri sendiri demi kesenangan dan kepuasan dengan mengorbankan makhluk lain
adalah bertentangan dengan Kaidah Emas dan semua standar moralitas.
Kita tahu melukai ciptaan yang berperasaan hanya untuk memuaskan selera pribadi
kita, tidak bisa diterima. Jika kita melihat seseorang dengan payung yang
menarik, kita tahu adalah salah jika kita menyerang atau membunuh dan mencuri
payungnya hanya karena selera kita menginginkannya. Atau jika kita melihat
wanita dengan badan yang menarik, kita tahu adalah salah jika memukul dan
memerkosanya hanya karena kita ingin melakukan hal tersebut. Tindakan ini salah
karena semua ini menyebabkan penderitaan makhluk lain dan melanggar keutuhan
suci mereka hanya demi alasan yang egois. Kita juga tahu bahwa kita harus
menghadapi konsekuensi sosial dan hukum jika kita melakukan tindakan seperti
ini. Bagaimanapun juga, jika kita menginginkan daging atau susu atau telur satwa
karena kita suka rasanya – dan ini berarti membunuh, memukul, memerkosa,
mengurung, mencuri darinya, dan dengan kata lain menyakiti satwa dan melanggar
keutuhan sucinya – kita sepenuhnya didorong untuk melakukannya! Konsekuensi
sosial dari menyakiti satwa untuk makanan semuanya adalah positif. Karena budaya
kita menyangkal satwa yang dipakai sebagai makanan untuk memiliki hidupnya
sendiri sebagai hak asasinya, membatasi nilai mereka hanya pada harganya sebagai
barang dagangan bagi pemiliknya, satwa tidak memiliki perlindungan. Memesan
daging panggang pasti disetujui, dan teman-teman kita menyambut hangat iga bakar
saat piknik kantor. Kenyataan pengurungan, pemaksaan, pemotongan, dan pembunuhan
dengan hati-hati disembunyikan seperti rahasia memalukan yang membuat kita
sangat tidak nyaman jika kita menyaksikannya atau, lebih buruk lagi,
melakukannya sendiri.
Dua ratus tahun yang lalu di Selatan, seorang budak boleh dipukul, dicuri,
dikurung, diperkosa, dimutilasi, dan dibunuh oleh tuannya atau pengawasnya tanpa
perasaan menyesal; perilaku ini didorong oleh budaya dan pendidikan dari kelas
penguasa. Pendidikan ini menumpulkan perasaan welas asih, keterhubungan, dan
keadilan manusia yang alami, menghambat kecerdasan orang, dan membiarkan mereka
bertindak secara brutal tanpa perasaan menyesal. Walaupun begitu, jauh di lubuk
hati, mereka pasti tahu dengan lebih baik, sama seperti kita tahu dengan lebih
baik sekarang ini saat kita memesan omelet keju dengan daging babi sebab kita
menyukai rasanya. Walaupun kecerdasan alami kita mengetahui ini adalah tindakan
yang sangat amoral, pengetahuan kita ditindas dan hati kita dikeraskan terhadap
kesengsaraan yang dipikul oleh seekor ayam, sapi, dan babi untuk memuaskan hidup
kita dan kesenangan rasa yang telah terkondisikan. Kita lebih suka tidak
mengetahui dan merasa nyaman mengetahui bahwa tidak seorang pun – tidak pelayan,
atau teman kita, atau media, – dengan cara apapun akan mengingatkan kita tentang
besarnya kesengsaraan yang harus dialami satwa karena tuntutan kita. Para satwa
menderita di luar pengetahuan kita dan jeritannya tidak kita pedulikan. Mereka
tidak punya suara selama kita menolak untuk mendengarkan hati kita.
Mempertahankan Benteng
Kita bisa melihat tiga alasan kita menyantap makanan hewani – indoktrinasi anak,
tekanan sosial dan pasar, dan rasa – saling memperkuat dan menciptakan medan
kekuatan di sekitar pilihan makanan kita sehingga seperti benteng yang kokoh,
menahan segala serangan. Tembok-tembok berdiri dan dibentengi dengan baik. Namun
benteng tersebut mungkin tidak sekuat penampilannya. Sebab, pertama, ia
mengurung kita dan menghalangi keinginan alami kita untuk memenuhi potensi yang
lebih tinggi dan untuk berkembang secara rohani. Alasan lainnya, ia tidak
didirikan di atas kebenaran dari sifat mendasar kita, yaitu kebaikan, tidak juga
pada rasa saling keterhubungan dengan makhluk-makhluk hidup lain, dan ia
menghalangi kemampuan kita untuk membangkitkan kebijaksanaan dan bersama-sama
hidup dalam kebebasan. Pada hakikatnya, kita rindu untuk mencapai pemahaman yang
lebih tinggi, dan untuk hidup dalam damai dan selaras di atas Bumi ini. Tembok
benteng itu dibangun dari kekejaman, pengingkaran, ketidaktahuan, paksaan,
pengondisian, dan egoisme. Yang paling penting, semua itu bukan pilihan kita.
Semuanya telah terus dan sedang dipaksakan kepada kita. Kesejahteraan kita – dan
kelangsungan hidup kita – tergantung pada kejelasan pandangan kita terhadap hal
ini dan melepaskan belenggu dominasi dan ketidaksadaran kita. Dengan menyakiti
dan mengeksploitasi miliaran satwa, kita mengurung diri kita sendiri secara
rohani, moral, emosional, dan dalam proses berpikir, dan membutakan mata kita
terhadap kepedihan, keindahan yang mengharukan dari alam, satwa, dan satu sama
lain.
Supaya bebas, kita harus memberikan kebebasan bagi makhluk lain. Untuk merasakan
kasih, kita harus memberikan kasih bagi makhluk lain. Untuk mendapatkan
kehormatan diri yang sejati, kita harus menghormati makhluk lain. Satwa dan
makhluk lain yang tak memiliki suara, manusia yang kelaparan dan generasi masa
depan, memohon kita untuk melihat: itu ada di atas piring kita.
Referensi
1. Joseph Mercola and Rachael Droege, “Why Junk Food Is so Tempting, and How
to Beat Your Temptation,” Mercola-com e-newsletter, Issue 516, March 17, 2004.
2. Neal Barnard,
Turn Off the Fat Genes
(New York: Three Rivers Press, 2001), p. 108.
3. Neal Barnard, “Breaking the Food Seduction,” in
Good Medicine from the Physicians Committee for Responsible Medicine,
Summer 2003, pp. 10–12.
4. According to Russell Blaylock, M.D., for example, fast-food restaurant
chains add large amounts of monosodium glutamate (MSG), a toxic and addictive
artificial flavor enhancer, to their meats. See Russell Blaylock,
Excitotoxins: The Taste that Kills
(Santa Fe, NM: Health Press).
5. See, for example, Carol Simontacchi,
The CrazyMakers: How the Food Industry is Destroying our Brains and Harming Our
Children
(New York: Putnam, 2000), p. 99: “MSG or other flavor enhancers give food a
greater-than-nature, “better-than-good” taste, blunting the taste for the
natural flavors found in real food. By contrast, real food tastes bland, setting
children up to permanently dislike natural food.”
|
|