|
bab lima
KECERDASAN FISIOLOGI TUBUH MANUSIA
“Penolakan saya untuk makan daging kadang-kadang merepotkan, dan saya sering
dicerca karena keanehan saya, tetapi, dengan makanan yang lebih ringan ini, saya
membuat kemajuan yang lebih besar, dari pikiran yang lebih jernih dan pemahaman
yang lebih cepat.”
—Benjamin Franklin
“Manusia bukan karnivora alami. Bila kita membunuh satwa untuk memakannya,
mereka pada akhirnya membunuh kita sebab dagingnya yang terdiri dari kolesterol
dan lemak jenuh, tidak pernah ditujukan bagi manusia, yang adalah herbivora
alami.”
—William C. Roberts, M.D.,
Kepala Editor, The American Journal of Cardiology
Kesakitan dan penderitaan yang diderita oleh anak-anak karena pola makan warga
Amerika sedemikian brutalnya sehingga jika hal itu dipaksakan dengan pentungan,
para orangtua akan dipenjara.”
—John McDougall, M.D.1
Hadiah
Alasan mendasar miliaran satwa menderita dalam kurungan dan penjagalan adalah
keyakinan budaya kita bahwa kita perlu menyantap makanan hewani supaya sehat,
meskipun salah satu motivasi paling umum kebanyakan dari kita untuk mengurangi
konsumsi makanan hewani adalah untuk memperbaiki kesehatan! Menjelaskan paradoks
ini memerlukan penelitian organ-organ tubuh manusia dan makanan hewani yang kita
santap, serta menghubungkannya kembali dengan pemahaman abadi bahwa memupuk
kebaikan dan kesadaran memperbaiki kesehatan fisik dan mental, sementara
kekejaman dan ketidaksadaran pada akhirnya menghasilkan penyakit fisik dan
mental. Kita bisa menyadari bahwa kita dimaksudkan untuk hidup serasi dengan
satwa/makhluk lain di Bumi ini, sebab kita sudah diberi tubuh yang sebenarnya
berfungsi secara lebih baik tanpa membunuh dan mencuri darinya. Sungguh
sebuah hadiah yang membebaskan! Tidak ada satwa yang perlu takut kepada kita,
sebab tidak ada nutrisi yang kita perlukan yang tidak bisa kita dapatkan dari
sumber non-hewani. Bukti tentang hal ini sangat banyak, dan kita akan melihat
sebagian darinya dalam bab ini dalam rangka mempertanyakan khayalan bahwa kita
perlu menyantap makanan hewani agar benar-benar kuat, dan sehat. Baik
kajian medis maupun contoh nyata dari orang-orang vegan sehat yang ada di
sekitar kita mengatakan bahwa menyantap produk hewani tidak diperlukan, dan
dalam banyak hal malah merusak kesehatan kita.
Sebagian dari kita mungkin menyanggah, “Sebentar! Bagaimana bisa makan produk
hewani tidak sehat? Ini tampak begitu alami!” Mari kita mengamati tubuh manusia
dengan lebih teliti. Cara yang baik untuk memulainya adalah dengan mengamati
dengan mata yang baru membandingkan tubuh kita dengan beberapa satwa yang hidup
bersama kita di planet ini. Betapa halus, tanpa bulu, dan lembutnya kita
manusia! Dan betapa lemah secara fisik! Seorang manusia, misalnya, hanya punya
seperenam kekuatan simpanse biasa.² Kita menguasai satwa tidak melalui kekuatan
fisik, tetapi dengan menggunakan alat dan pengkhianatan.
Kita dapat memperhatikan organ pencernaan kita, mulut kita. Kita lihat betapa
kecilnya, betapa kecilnya geligi kita, betapa pendeknya dibandingkan dengan gigi
panjang, tajam anjing yang bisa merobek daging alot, serta kuatnya tulang rahang
yang berat dan otot rahang karnivora serta omnivora. Kita juga memperhatikan
betapa lunaknya geligi manusia, dibandingkan dengan geligi satwa karnivora yang
jauh lebih keras yang mampu meremukkan tulang untuk mendapatkan sumsum tulang.3
Gigi-gigi dan rahang kita dengan jelas dirancang bukan untuk merobek daging dan
menggerogoti tulang; seperti frugivora dan herbivora kita punya gigi seri di
depan dengan geraham di kedua sisi untuk menggigit dan mengunyah makanan nabati.
Menarik untuk membayangkan kita berusaha membunuh dan memakan mamalia lain tanpa
menggunakan alat apapun, hanya dengan mulut kita yang lembut dan tangan yang
halus tanpa cakar. Bisakah kita melakukannya? Bisakah orangtua, anak-anak, atau
teman-teman kita melakukannya? Bisakah semua manusia melakukannya?
Bisakah seseorang, atau maukah seseorang mengejar, misalnya, seekor rusa, sapi,
babi, biri-biri, kambing, atau kelinci di alam liar dan kemudian, bisa
menangkapnya (sangat tidak mungkin) dengan menggigit lehernya dengan mulut kita
yang kecil dan datar, merobek kulitnya yang berbulu untuk mendapatkan daging
hidup dengan gigi-gigi kecil kita, dan memenuhi mulut kita dengan darah segar,
hangat dari makhluk yang malang itu? Skenario ini menunjukkan prilaku sangat tak
masuk akal yang dilakukan manusia bila kita makan daging satwa. Kita tidak
memiliki cakar atau geligi untuk merobek dan mengoyak daging mentah, menggigit
menembus kulit berbulu, bulu burung, sisik, atau tulang, kita juga tidak
memiliki selera terhadap darah segar di mulut kita.
Kita mungkin memperhatikan rahang kita memiliki engsel khusus yang memungkinkan
gerakan menyamping. Ini adalah konstruksi rahang yang juga dimiliki mamalia
herbivora untuk mengunyah berbagai jenis materi nabati; mamalia omnivora dan
karnivora memiliki rahang yang berengsel kaku dan hanya mengunyah dengan gerakan
atas-bawah. Lebih jauh kita perhatikan bahwa tujuan dari enzim yang dominan pada
ludah kita, ptialin, adalah untuk memecah karbohidrat yang kompleks dalam
makanan nabati menjadi glukosa untuk energi. Karbohidrat ini adalah bahan bakar
yang dirancang untuk dipakai tubuh kita, sedangkan itu tidak terkandung
di dalam daging satwa!
Tidak seperti karnivora, kita tidak memiliki asam perut yang kuat untuk mencerna
daging dengan cepat, atau usus yang pendek dengan dinding yang lembut untuk
melewatkan daging yang sedang membusuk dari tubuh kita dengan cepat. Alih-alih,
kita memiliki asam perut yang lebih lemah dan usus yang jauh lebih panjang dan
jauh lebih berbelit dari herbivora dan frugivora untuk menyerap nutrisi dengan
perlahan dari makanan nabati saat lewat di dalamnya dan dicerna.4
Usus kecil kita yang panjang dan berbelit telah ditetapkan sebagai sifat
herbivora, dengan ribuan kantong kecil dan jari-jari kecil, atau villi yang tak
terhitung banyaknya, yang membentuk area keseluruhan permukaan sangat luas –
lebih luas dari lapangan tenis! – bagi zat makanan kita untuk diserap ke dalam
darah kita.5 Sistem pencernaan kita memerlukan makanan berserat
tinggi untuk menjaga dinding usus agar tetap bersih dan berfungsi dengan baik.
Makanan hewani tidak hanya tanpa serat tetapi juga cenderung lebih menyumbat
dibanding makanan nabati saat ia membusuk, menyebabkan sembelit, wasir, radang
usus besar, radang usus besar (diverticulitis), kanker usus besar, dan
penyakit-penyakit lain. Kita juga memiliki sistem sirkulasi herbivora, yang
mengalami kesulitan menangani lemak jenuh dan kolesterol. Jika kucing, misalnya,
makan sejumlah besar lemak dan kolesterol dalam bentuk daging atau telur, ia
tidak akan mendapatkan timbunan dan sumbatan di dalam arterinya, tetapi jika
seekor kelinci, gorila, manusia, atau frugivora atau herbivora lainnya melakukan
hal ini, arterinya akan tersumbat dan tak sehat, menyebabkan radang pembuluh
darah (arteriosclerosis), tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan, pada
manusia dijamin memerlukan obat-obatan dan operasi.
Dengan mengabaikan fakta yang jelas bahwa manusia tidak dirancang untuk
menyantap makanan hewani dalam jumlah besar yang lazim dalam budaya kita,
perusahaan farmasi-medis sebenarnya berperan memasok banyak orang sakit dan
menjamin apa yang disebut oleh John McDougall, M.D., sebagai “jaminan
pekerjaan.”6 Ini secara tidak langsung bukan untuk menyatakan adanya
suatu komplotan atau bahwa kebanyakan dokter tidak termotivasi oleh dorongan
hati mengutamakan orang lain. Namun perusahaan medis, seperti industri lainnya
yang berfungsi dalam kerangka ekonomi budaya kita, semata-mata mengikuti jalan
yang hambatannya lebih sedikit dan yang paling bisa diandalkan dalam
menghasilkan uang. Bagi mereka yang ada di jenjang atas pada piramida industri
medis, yang membantu memutuskan strategi politik dan kebijakan media/pendidikan,
mempertahankan keadaan sekarang ini (status quo) pastilah tampak seperti suatu
gagasan mendasar yang bagus, maka mereka tidak menekankan pencegahan demi
kepentingan obat-obatan dan tindakan operasi serta mendukung terus diterimanya
pola makan omnivora untuk manusia.
Menggolongkan alat-alat tubuh manusia telah selalu menjadi masalah dalam budaya
kita dan tetap menimbulkan kontroversi hingga saat ini. Sementara sudah jelas
kita pada dasarnya bukanlah karnivora, sudah jelas pula bahwa kita bukan pemamah
biak rumput atau herbivora yang berjalan di atas kuku seperti biri-biri, rusa,
kuda, dan sapi, yang bisa merambah rumput dan dedaunan karena memiliki kantong
pencernaan berlipat ganda. Kita paling tepat digolongkan sebagai herbivora
pemakan buah, yang terutama dirancang untuk buah-buahan, biji-bijian,
sayur-mayur, kacang-kacangan, dan umbi-umbian serta dedaunan yang berair.
Walaupun begitu, sebagian besar ahli fisiologi masih mengakui manusia sebagai
omnivora alami. Namun kuda sekalipun bisa diajar untuk makan daging rusa, dan
sapi, biri-biri, dan kambing diajar untuk makan dan menikmati daging ikan, ayam
dan babi dalam operasi modern pemberian makan dalam kandang – berapa banyak dari
pilihan makanan sehari-hari kita yang merupakan hasil dari pengajaran apa yang
sebaiknya dimakan?
Setidaknya ada tiga poin yang tampaknya tidak bisa dipungkiri: bahwa kita punya
pilihan, bahwa satwa menderita karena pilihan kita untuk memakannya, dan bahwa
tingginya tingkat konsumsi makanan hewani pada saat ini belum pernah terjadi
sebelumnya dan dampaknya merusak kesehatan kita. Hal ini terbukti dari
peninggalan fosil bahwa hominid (keluarga hominoidea) awal terutama hidup dari
pola makan nabati, dan bahwa budaya mencari makan jaman sekarang juga begitu.
Nyatanya, ahli antropologi terkenal Ashley Montagu menyatakan bahwa budaya ini
seharusnya disebut pengumpul hasil bumi yang kadang-kadang berburu satwa (gathering-hunting)
alih-alih pemburu satwa yang kadang-kadang mengumpulkan hasil bumi (hunting-gathering).7
Seperti semua satwa, kita pada dasarnya adalah makhluk rohani, perwujudan dari
kecerdasan universal dan penuh kasih yang telah memberi kita tubuh yang
dirancang untuk tumbuh dengan makanan berlimpah yang bisa dipelihara secara
damai dan dikumpulkan dari kebun buah-buahan, ladang, dan kebun sayuran. Tubuh
kita mencerminkan kesadaran kita, yang rindu untuk menyingkap kreativitas, welas
asih, kegembiraan, dan kesadaran, pada dimensi yang lebih tinggi, dan rindu
melayani aspek keseluruhan yang lebih luas—budaya kita, Bumi kita, dan sumber
segala kehidupan yang penuh kemurahan hati—dengan memberkati dan menolong
makhluk lain dan dengan berbagi, memelihara, dan merayakan. Kita mempunyai,
tepatnya, suatu fisiologi damai.
Pembunuhan dan penyiksaan satwa besar-besaran untuk makanan menciptakan
rintangan terhadap rasa welas asih kita yang mendasar, maka kita menyamarkan
kebenaran yang mengganggu dari makanan kita melalui rasionalisasi penipuan diri
sendiri dan rumitnya metode memasak, menghancurkan, mengaduk, melapisi, memberi
bumbu, dan menutupi. Pada tingkat yang mendalam kita tahu bahwa kita telah
dianugerahi hadiah berharga berupa tubuh yang tidak memerlukan makhluk lain agar
menderita, takut, atau mati demi makanan kita – tetapi kita melemparkan kembali
hadiah ini ke wajah alam semesta yang penuh kemurahan hati dengan kekejaman yang
diakibatkan oleh pilihan makanan kita.
Unsur-unsur Pokok dari Makanan Hewani
Menyantap makanan hewani dalam jumlah besar yang merupakan ciri khas makanan
kebudayaan kita, menyebabkan banyak masalah. Sebagaimana yang disinggung di
atas, daging hewani sama sekali tidak memiliki serat yang kita butuhkan di dalam
sistem pencernaan kita maupun karbohidrat yang telah dirancang agar dibakar oleh
sel-sel kita untuk mendapatkan energi. Lemak jenuh dan kolesterol yang selalu
terdapat dalam daging, produk susu, dan telur pada dasarnya beracun bagi
manusia, berperan menghadirkan penyakit pembuluh darah. Sifat utama lemak hewani
yang sangat merusak adalah lemak itu mengandung lemak tak jenuh (trans fat),
yang sangat terkenal sebagai unsur tidak stabil yang meningkatkan risiko kanker
dan penyakit jantung. Kenyataannya, Akademi Sains Nasional AS telah menyimpulkan
bahwa “satu-satunya jumlah asupan lemak tak jenuh yang aman adalah nol.”8
Protein hewani yang sangat digembar-gemborkan sehingga kita semua ketakutan dan
percaya harus memakannya supaya sehat, kemungkinan juga memiliki senyawa yang
beracun, terutama dalam jumlah besar yang dikonsumsi oleh budaya kita sekarang
ini. Makanan hewani mengandung lebih banyak protein terkonsentrasi dibandingkan
dengan makanan nabati, dan ini bisa tidak menyehatkan karena lebih sulit bagi
tubuh kita untuk memperoleh energi dari protein dibandingkan energi dari
karbohidrat yang secara alami ada di dalam buah-buahan, sayuran, biji-bijian
utuh, polong-polongan dan makanan nabati lainnya. Juga sangat tidak bisa
dipungkiri bahwa tubuh kita bisa menyatukan sebagian besar asam amino dari asam
amino lainnya, sehingga dalam praktiknya hanya ada sedikit kebutuhan bagi orang
yang menjalankan pola makan nabati untuk “mengombinasikan” protein atau makanan
dengan cara tertentu agar mendapat “profil asam amino yang tepat”. Mitos kuno
tentang “protein lengkap” itu didasarkan pada kesimpulan keliru yang dibuat oleh
para ilmuwan akibat eksperimen yang dilakukan terhadap tikus di tahun 1920-an.9
Bahkan organisasi-organisasi yang konservatif seperti FDA dan Asosiasi Ahli Pola
Makan Amerika (American Dietetic Association / ADA) mengakui secara resmi dalam
rekomendasi pola makan bahwa pola makan nabati memberikan protein
berkualitas-tinggi yang cukup bagi manusia. ADA telah menemukan, “Data ilmiah
memberikan hubungan positif antara pola makan vegetarian dan menurunnya risiko
terhadap beberapa penyakit dan kondisi degeneratif kronis, termasuk obesitas,
penyakit pembuluh jantung, tekanan darah tinggi, diabetes melitus, dan beberapa
jenis kanker”. Asosiasi itu telah menyimpulkan bahwa “pola makan vegetarian yang
terencana dengan baik adalah menyehatkan, cukup bergizi, dan memberikan manfaat
kesehatan bagi pencegahan dan pengobatan penyakit-penyakit tertentu”.10
Menurut T. Colin Campbell, Ph.D., dosen biokimia nutrisi di Cornell University
dan ketua peneliti dari salah satu kajian terbesar yang pernah dilakukan
terhadap nutrisi manusia, protein hewani semuanya bermutu lebih rendah daripada
protein nabati bagi kebutuhan manusia:
Penelitian kami menyarankan bahwa semakin dekat seseorang kepada pola makan
nabati total, semakin besar manfaat kesehatannya… Ternyata protein hewani, saat
dikonsumsi, memperlihatkan beragam efek kesehatan yang tidak diinginkan. Apakah
itu sistem kekebalan tubuh, berbagai sistem enzim, pembuangan karsinogen ke
dalam sel-sel, maupun aktivitas hormon, protein hewani pada umumnya hanya
menyebabkan kerusakan.11
Karena kita manusia sebenarnya membutuhkan protein yang relatif sedikit untuk
berfungsi dengan baik, protein berlebihan yang terdapat dalam makanan hewani
menguras energi tubuh kita, yang mana tubuh kita bagaimanapun juga harus
menemukan cara untuk membuangnya. Para ahli nutrisi memahami bahwa kebutuhan
protein kita yang sesungguhnya adalah relatif kecil: antara empat dan delapan
persen kalori kita seharusnya dalam bentuk protein.12
Hampir semua biji-bijian, polong-polongan, dan sayuran memiliki protein antara
delapan dan dua puluh persen, dengan beberapa makanan, seperti tempe, bahkan
lebih tinggi.13 Andrew Weil, MD., menulis,
Dalam masyarakat kita, kekurangan protein secara praktis tidak ada. Melainkan,
kebanyakan orang mengonsumsi terlalu banyak protein, yang juga bisa berpengaruh
buruk bagi kesehatan… Jumlah yang sedikit saja cukup untuk memenuhi kebutuhan
minimal dari rata-rata orang dewasa–mungkin 2 ons, atau 60 gram, makanan
berprotein sehari. Banyak orang dalam masyarakat kita makan jauh lebih banyak
daripada jumlah itu pada setiap santapan… Mengurangi asupan protein akan
membebaskan energi, menghemat sistem pencernaan dan khususnya hati serta ginjal
kita dari kerja ekstra, dan melindungi sistem kekebalan tubuh Anda dari
gangguan.14
Di tempat lain, Dr. Weil menuliskan, “Menurut pendapat saya, salah satu dari
perubahan pola makan paling sehat yang bisa dilakukan orang adalah dengan
mengganti sebagian (atau semua) makanan hewani yang sekarang ini mereka santap
dengan makanan dari kedelai”.15
Menurut ahli mikrobiologi Robert Young, kelebihan protein menyebabkan pH
jaringan tubuh menjadi terlalu bersifat asam. Ia menekankan bahwa kondisi asam
ini tidaklah sehat dan memberi isyarat kepada bakteri di dalam dan di sekitar
tubuh bahwa tubuh tersebut lemah, membusuk, dan sekarat.16 Saat satwa
apa pun mati, karena kehidupan telah lenyap dari tubuh itu, dagingnya menjadi
semakin bersifat asam, memberi isyarat kepada mikroorganisme di wilayah itu
bahwa saatnya sudah tiba bagi mereka untuk melakukan tugas dan menguraikan
daging itu agar ia bisa kembali ke bumi dan didaur ulang. Menurut penelitian
yang ia lakukan, alih-alih menyimpan bakteri yang terutama bermanfaat membantu
tubuh dalam berbagai proses penopang-hidup, tubuh manusia omnivora bisa
cenderung untuk menyimpan bakteri yang terutama merusak yang hanyalah berusaha
melakukan tugas alamiahnya untuk menguraikan tubuh karena tubuh itu memberi
isyarat, dengan kandungan asam yang tinggi di dalam jaringan dan kehadiran
daging satwa yang membusuk, bahwa tubuh itu sedang sekarat.
Tanggapan dari perusahaan medis, alih-alih menasihati kita untuk berhenti makan
protein hewani, adalah dengan memasok antibiotik dan obat-obatan lainnya yang
mencoba untuk membantu sistem kekebalan tubuh yang terkepung itu dengan cara
membunuh patogen-patogen di dalam tubuh. Efek yang disayangkan dari praktik ini
adalah bahwa antibiotik tidak pandang bulu dan mungkin membunuh bakteri yang
bermanfaat juga. Yang disebut sebagai bakteri berbahaya, yang hanya melakukan
fungsi vital mereka di alam, sering menjadi lebih kebal sehingga dibutuhkan
pemberian dosis obat antibiotik yang selalu meningkat. Kebalnya bakteri terhadap
obat-obatan ini juga secara langsung bisa diakibatkan oleh pemberian antibiotik
secara rutin terhadap hewan ternak dan ikan dari pabrik peternakan, dan daging,
produk susu, dan telur yang berasal dari satwa-satwa itu mungkin mengandung
patogen kebal-antibiotik berkadar tinggi.
Salah satu hasil dari stres yang dialami tubuh kita karena produk-produk hewani
adalah meningkatnya risiko kanker. Sekarang telah diketahui dengan baik bahwa
setiap menit beberapa sel dari triliunan sel di tubuh kita menjadi bersifat
kanker. Sistem kekebalan tubuh yang sehat bisa dan secara rutin menemukan dan
menghancurkan sel-sel ini, sehingga mencegah berkembangnya kanker apa pun di
dalam tubuh yang sehat. Ketika armada sistem kekebalan tubuh bekerja melampaui
batas, akibat beban lemak tak jenuh dan patogen dalam makanan hewani, penyebaran
armada itu mungkin terlalu sedikit untuk mendeteksi kanker di dalam tubuh dan
untuk mencegahnya berkembang. World Cancer Research Fund (Dana Riset
Kanker Dunia) menyimpulkan setelah menganalisa lebih dari 4.500 riset penelitian
kanker bahwa “Pola makan vegetarian menurunkan risiko kanker”, dan rekomendasi
utamanya untuk pola makan adalah, “Pilihlah porsi utama pola makan nabati dengan
sayuran, buah-buahan dan polong-polongan yang sangat beragam”.17
Kanker sudah jelas dan secara positif berkaitan dengan mengonsumsi makanan
hewani.
Tubuh kita, dengan bijaksana, senantiasa mengatur kadar pH darah, yang harus
berada di dalam suatu batas yang sempit. Dengan pola makan Barat modern, tubuh
harus bekerja keras untuk mempertahankan agar darah tidak menjadi bersifat
terlalu asam akibat berlebihnya protein hewani yang dimakan. Untuk melakukan
ini, tubuh memakai bahan jaringan tulang yang sifatnya alkali seperti bikarbonat
dan kalsium. Hal ini bisa mengakibatkan hilangnya kepadatan tulang dan membantu
menjelaskan tingkat osteoporosis yang tinggi di dalam budaya di mana orang-orang
mengonsumsi makanan hewani yang bersifat asam dalam jumlah besar. Tingkat
osteoporosis di antara orang-orang Eskimo, yang hampir seluruhnya berpola makan
daging, adalah salah satu yang tertinggi di dunia.18 Yang berikutnya
adalah orang-orang Eropa Utara dan Amerika Utara, yang mengonsumsi daging,
telur, dan produk susu dalam jumlah besar.19 Sementara ada
faktor-faktor lainnya yang mungkin memengaruhi kesehatan tulang, misalnya asupan
vitamin dan mineral, tingkat latihan angkat berat, serta faktor mental dan
emosional, terdapat bukti bahwa tulang yang rapuh dan osteoporosis berkaitan
dengan konsumsi protein hewani dalam jumlah besar yang merupakan ciri khas
santapan kita.
Penelitian-penelitian ilmiah telah mengaitkan banyak penyakit lain dengan
tingginya asupan makanan hewani, misalnya penyakit jantung, diabetes, kanker
payudara, prostat, dan usus besar; batu empedu; serangan otak; serta penyakit
hati dan ginjal. Banyak buku dan artikel yang mendokumentasikan
penemuan-penemuan ini, tetapi hanya sedikit insentif keuangan untuk menerbitkan
informasi itu, dan insentif keuangan sangat besar untuk mengabaikannya dan
mendanai penelitian semu serta kampanye iklan untuk membingungkan masyarakat
tentang efek dari menyantap makanan hewani. Menurut kajian Universitas Cornell
baru-baru ini, 84 persen orang kerap kali dibingungkan tentang makan secara
sehat atau telah sama sekali menyerah dalam upaya untuk membuat semua itu
menjadi masuk akal.21 Hal ini banyak mengungkap keefektifan gelombang
propaganda yang dihasilkan oleh industri makanan, serta kecenderungan kita untuk
menghalangi kaitannya saat dihubungkan dengan penderitaan di atas piring kita.
Kolesterol dan lemak jenuh di dalam darah kita mungkin menciptakan
masalah-masalah lain. Selain menyumbat pembuluh darah vena dan nadi tubuh kita
serta menyebabkan penyakit jantung dan stroke, kolesterol mungkin menyumbat
pembuluh kapiler yang mengangkut darah ke masing-masing sel, yang menyebabkan
sel-sel menjadi lemah, kekurangan oksigen dan nutrisi, dan tidak sanggup untuk
secara total membersihkan racun dan karbondioksida yang merupakan
produk-sampingan dari proses aerobiknya. Karena berenang di dalam lingkungan
yang tidak sehat ini, sel-sel itu lambat laun bisa mulai memburuk dan mati.
Salah satu contoh dari hal ini adalah meningkatnya kejadian umum dari merosotnya
makula, yang menyebabkan kerusakan penglihatan yang parah serta kebutaan,
kebanyakan pada orang-orang tua. Pengonsumsian protein, lemak dan kolesterol
hewani selama bertahun-tahun, menyebabkan pembuluh kapiler mata yang halus
menjadi tersumbat oleh puing-puing limbah, dan jutaan sel di area makula retina
mata, sel-sel yang berfungsi khusus untuk penglihatan, mulai mati atau dihalangi
oleh upaya tubuh untuk membangun pembuluh kapiler baru. Penglihatan menurun dan
diikuti oleh kemerosotan makula. Skenario yang sama juga bisa menjelaskan banyak
kemerosotan kesehatan lainnya seperti katarak, dan kehilangan penglihatan lain,
cacat pendengaran dan, khususnya, cacatnya fungsi mental yang disebabkan oleh
tersumbatnya pembuluh kapiler yang melayani sel-sel otak yang vital.
Penyumbatan pembuluh kapiler otak oleh lemak dan kolesterol hewani juga bisa
berperan terhadap berkurangnya tingkat kecerdasan sebenarnya di dalam budaya
yang berpola makan hewani dalam jumlah tinggi. Pembuluh kapiler yang tersumbat
bisa mengurangi efisiensi otak dan menghalangi kemampuannya untuk membuat
koneksi secara efektif. Ini bisa mengurangi kecerdasan yang diperlukan bagi
kreativitas dan kerohanian, dan mungkin membantu menjelaskan mengapa kita
bertindak secara begitu merusak diri tanpa mampu menyadarinya. Anak-anak
vegetarian telah ditunjukkan memiliki IQ yang lebih tinggi secara berarti
daripada rata-rata23 dan sudah terkenal, misalnya, bahwa Thomas
Edison, selama tahun-tahun ketika ia bekerja keras untuk menemukan rahasia
listrik, ia menghindari makan daging karena menemukan bahwa ia bisa berpikir
lebih jernih dan membuat koneksi vital dengan lebih mudah dengan pola makan
nabati. Orang-orang genius lainnya seperti Pythagoras, Leonardo da Vinci, dan
Mahatma Gandhi menghindari makan satwa. Plutarch menulis,
“Saat kita menyumbat dan memuati tubuh kita dengan daging, kita juga membuat
pikiran dan kecerdasan kita menjadi kasar. Saat tubuh tersumbat akibat makanan
yang tidak alami, pikiran menjadi bingung dan tumpul serta kehilangan
keceriaannya. Pikiran semacam itu melibatkan diri mengejar hal-hal yang sepele,
karena mereka kehilangan kejernihan dan semangat untuk pemikiran yang lebih
tinggi.”24
Jalur-jalur yang tersumbat itu bisa juga secara langsung maupun tidak langsung
menyebabkan rendahnya energi, keletihan kronis dan menyimpan penyakit-penyakit
lainnya. Pada pria dewasa, misalnya, pembuluh nadi dalam jaringan vaskular dari
alat kelamin bisa menjadi tersumbat oleh lemak jenuh dan kolesterol dari pola
makan hewani, menurunkan kemampuan alamiah dari banyak pria untuk mengalami
ereksi. Karena penyakit jauh lebih menguntungkan perusahaan-perusahaan farmasi
daripada kesehatan, seiring meningkatnya kekayaan industri obat, kemampuan
peradaban kita untuk mengenali sumber sejati dari masalah itu ditindas.
Penyakit ginjal, batu ginjal, dan batu empedu adalah akibat langsung lainnya
dari mengonsumsi makanan hewani, karena ginjal mengemban tugas yang sulit untuk
memurnikan darah kita yang berlemak dan bersifat asam. Batu-batu besar bisa
ditimbun di ginjal kita akibat kelebihan kalsium dan asam urat yang disebabkan
oleh protein hewani di dalam santapan kita. Batu-batu ini mengganggu fungsi
ginjal kita dan mungkin, tubuh dengan bijaksana, berusaha mengeluarkan batu-batu
itu melalui saluran kemih, suatu proses yang luar biasa menyakitkan. Berlebihnya
lemak dan kolesterol di dalam makanan hewani bisa menyebabkan batu empedu dan
penyakit kandung empedu. Hati, sebagai organ yang paling bertanggung jawab
langsung dalam menangani gangguan zat-zat beracun, menjadi terlalu terbebani
saat kita memakan satwa mati, terutama hewan yang dipenjara dalam kondisi yang
tak terbayangkan di pabrik peternakan modern. Tubuh-tubuh mengenaskan dari
satwa-satwa ini begitu penuh racun, hormon pertumbuhan buatan, residu obat dan
zat-zat kimia, steroid, tumor, dan penyakit kronis sehingga menelannya akan
menimpakan tugas sangat berat tiada akhir kepada hati.
Kulit, sebagai organ pembuangan terbesar, juga dengan parah dibebani oleh
racun-racun yang ada di dalam makanan hewani, dan banyak dari penyakit kulit
serta reaksi alergi yang kita alami bisa dikaitkan dengan upaya tubuh untuk
membersihkan dirinya dengan mengeluarkan racun melalui kulit. Kulit kita mungkin
dengan parah dipengaruhi oleh kelebihan lemak dan kolesterol di dalam produk
susu, yang bisa menyumbat pori-pori dan bisa berperan terhadap jerawat, reaksi
alergi, dan bau badan yang berlebihan. Banyak orang berkomentar tentang
bagaimana beralih kepada suatu pola makan nabati bukan hanya membantu mereka
menurunkan berat badan, tetapi juga memberi mereka warna kulit yang lebih
bersih, yang tampak lebih segar, mengurangi kebutuhan akan kosmetik.
Lemak dari Bahan Itu
Kolesterol dan tingginya konsentrasi lemak jenuh di dalam makanan hewani
meningkatkan risiko kita akan penyakit jantung dan stroke. Kandungan lemak yang
tinggi itu meningkatkan risiko kita terhadap obesitas dan keseluruhan panorama
masalah kesehatan yang diakibatkan oleh kelebihan berat badan, seperti diabetes
dan kanker. Dengan enam puluh persen orang Amerika saat ini kelebihan berat
badan, dan disertai biaya pelayanan kesehatan senilai $100 milyar25
(dan terus membesar), obesitas sekarang ini membunuh 330.000 orang Amerika
setiap tahun dan akan segera melampaui tembakau sebagai penyebab utama penyakit
dan kematian yang sebenarnya bisa dicegah.26
Meskipun kita semua adalah unik secara genetik, tidaklah alami bagi siapa pun
untuk memiliki lemak tubuh dalam persentase tinggi atau kelebihan berat badan
secara kronis. Kita menjadi gemuk karena kita mengonsumsi lebih banyak kalori
daripada yang bisa kita bakar, dan lemak memiliki kalori yang sangat tinggi.
Secara umum, konsentrasi lemak jauh lebih tinggi di dalam makanan hewani
daripada di dalam makanan nabati, dan satwa yang dipelihara demi piring makan
kita terutama adalah satwa yang gemuk. Mereka secara khusus dikembangbiakkan,
dikurung, diberi obat, dan dimanipulasi agar menjadi segemuk mungkin. Ayam
kalkun yang kita lahap untuk santapan ritual Thanksgiving (perayaan
syukur) kita, begitu gemuknya sehingga ia hampir-hampir tidak bisa berjalan dan
tidak bisa kawin saat hidup, suatu karikatur dari unggas liar, peka yang
mendiami hutan kita. Babi, sapi, dan ayam di pabrik peternakan dan tempat
pemberian makan modern dipaksa untuk menjadi gemuk serupa itu. Apakah kita
menciptakan makhluk-makhluk ini di dalam citra kita, ataukah mereka menciptakan
kita di dalam citra mereka?
Untuk memahami obesitas dan berat badan, kita hanya perlu memahami hal yang
telah lama diketahui oleh bisnis ternak penggemuk satwa: mengonsumsi kalori dan
lemak berlebihan membuat satwa herbivora yang dikurung menjadi gemuk. Hal yang
sama juga berlaku bagi kita. Kuncinya adalah untuk menyadari dan mengingat bahwa
semua makanan hanya memiliki tiga komponen dasar: karbohidrat, protein, dan
lipid (lemak). Karbohidrat adalah bahan bakar penting yang kita bakar untuk
mendapatkan energi. Makanan hewani memiliki kadar lemak dan protein yang tinggi
dan tidak memiliki karbohidrat, kecuali madu dan laktosa di dalam susu.
Karbohidrat kompleks belum diproses yang berasal dari biji-bijian utuh,
buah-buahan, sayuran, dan polong-polongan, serta protein yang berasal dari
sumber nabati maupun hewani itu sendiri, secara umum tidaklah menggemukkan,
karena tubuh pertama-tama harus mengubahnya menjadi lemak agar bisa menyimpannya
sebagai lemak. Hal ini telah ditunjukkan secara ilmiah, oleh Neal Barnard, M.D.:
“Para ilmuwan telah mengambil (biopsy) simpanan lemak orang-orang dan menemukan
bahwa pada hakikatnya semua lemak mereka berasal dari lemak di dalam makanan
yang telah mereka makan, dan hampir tidak ada satu pun darinya yang diproduksi
oleh karbohidrat”.27
Mengapa begitu banyak dari kita yang secara salah meyakini bahwa karbohidrat itu
menggemukkan? Terdapat dua alasan utama. Yang pertama adalah bahwa budaya kita
telah menciptakan dan memproduksi secara massal suatu bentuk karbohidrat yang
sama sekali tidak alami, gula putih, dan tepung putih olahan yang dipakai oleh
industri makanan untuk membuat makanan rongsokkan (junk food) yang juga
berkadar lemak tinggi. Makanan olahan ini memiliki indeks glisemik yang tinggi
dan terlalu cepat terurai di dalam tubuh, yang berperan terhadap
ketidakseimbangan kadar gula di dalam darah. Para ahli nutrisi dengan tepat
sependapat bahwa makanan itu sebaiknya dihindari. Alasan kedua adalah bahwa
karbohidrat olahan yang tidak alami ini telah menjadi kambing hitam dari budaya
peternakan kita, karena hal terakhir yang ingin kita akui adalah bahwa sumber
dari obesitas kita dan masalah-masalah lainnya adalah makanan hewani yang
membentuk kita. Jadi kita secara keliru mempersalahkan “karbohidrat”, yang
sesungguhnya adalah sehat dan merupakan bahan bakar alami untuk mengoperasikan
organ-organ damai tubuh kita. Pola makan rendah lemak, tinggi karbohidrat
kompleks yang didasarkan kepada sayuran, polong-polongan, biji-bijian utuh,
kacang-kacangan, dan buah-buahan telah ditunjukkan secara universal sebagai yang
paling sehat bagi manusia, sebagaimana yang disimpulkan oleh penelitian
Oxford-Cornell di bawah pimpinan T. Colin Campbell. Kajian USDA tahun 2002,
misalnya, menemukan bahwa orang dewasa yang mengonsumsi pola makan tinggi
karbohidrat (dengan porsi produk biji-bijian, buah-buahan, dan sayuran yang
tinggi) lebih cenderung berada di dalam cakupan kategori berat badan yang normal
daripada mereka yang mengonsumsi pola makan rendah karbohidrat.28
Mengakhiri obesitas akan tetap sulit, misterius, rumit, dan kalah bertempur
selama kita meneruskan untuk mengonsumsi pola makan yang kaya lemak-tinggi dari
daging hewan, telur, dan produk susu. Tentu saja adalah mungkin untuk
mengonsumsi pola makan nabati berkadar lemak tinggi jika kita menyantap sejumlah
besar alpukat, mentega kacang, minyak olahan, keripik kentang, atau makanan
tinggi lemak lain, namun adalah sangat mudah dan sungguh alami untuk menjalani
pola makan nabati rendah lemak dan pada hakikatnya tidaklah mungkin untuk
mengonsumsi pola makan rendah lemak yang berbasis makanan hewani. Kita adalah
suatu budaya dari orang-orang yang secara alami memakan tumbuhan, yang
mengonsumsi terlalu banyak makanan berlemak, menjadi menderita karenanya, dan
kemudian melakukan “diet” untuk menurunkan berat badan dan menderita secara
tidak perlu. Kita membaca jutaan buku tentang pola makan, banyak di antaranya
yang secara meyakinkan menyarankan untuk memakan daging dan cairan satwa, dan
dalam prosesnya menjadi semakin diperbudak oleh kompleks medis-daging. Faktanya,
program pola makan yang paling populer – seperti Pola Makan Atkins, Pola Makan
berdasarkan Golongan Darah, Pola Makan Zona, Pola Makan Pantai Selatan, dan Pola
Makan Pencandu Karbohidrat yang diberi nama secara ironis – bisa diduga
menyarankan pola makan tinggi protein, rendah karbohidrat, kaya akan makanan
yang berasal dari satwa. Pola-pola makan tersebut disambut dengan tangan terbuka
hanya karena fondasi kehidupan budaya kita adalah membunuh dan menyantap satwa
dan kita secara alami mendambakan suara dari otoritas dalam bidang ilmiah dan
medis untuk meyakinkan kita bahwa praktik ini dibutuhkan oleh fisiologi kita.
Lemak yang berlebihan menyebabkan ketegangan pada tubuh kita, dan, bagaikan
suatu penjara buatan kita sendiri yang kita bawa-bawa, ia bisa menurunkan
kemampuan kita untuk berekspresi, mencipta, dan bergerak dengan bebas. Lemak
memperlambat aliran darah, membuat darah menjadi lekat, dan menyumbat pembuluh
darah vena dan nadi, menyebabkan sel-sel memburuk. Berat badan yang tidak
diperlukan membuat jantung memompa lebih keras daripada yang seharusnya, dan
meningkatkan tekanan darah. Hal itu melemahkan energi dan membebani sistem
tulang punggung dan syaraf. Diabetes berkaitan dengan kelebihan lemak. Sistem
kekebalan tubuh juga harus bekerja lebih keras untuk memeriksa sekelompok besar
sel-sel beban yang tidak perlu yang sering menjadi lokasi pembuangan bagi
racun-racun yang datang melalui makan, minum, dan bernapas. Sel-sel itu lalu
cenderung untuk menjadi bersifat kanker, dan memang obesitas telah dikaitkan
dengan meningkatnya risiko kanker. Obesitas sering menyebabkan rasa rendah diri
dan masalah kejiwaan lainnya pada kita juga.
Lemak yang kita bawa–bawa di bawah kulit kita terutama adalah lemak dari satwa
yang sengsara dan ketakutan—tidaklah mengherankan jika kita ingin sekali
melenyapkan lemak itu! Jika kita mendasarkan pola makan kita pada biji-bijian
utuh, buah-buahan, sayuran, dan polong-polongan sesuai rancangan tubuh kita,
kita akan mendapati masalah obesitas di dalam budaya kita menguap, bersama
dengan banyak masalah lainnya. Albert Einstein benar dalam mengatakan bahwa
tidak ada masalah yang bisa dipecahkan pada tingkat di mana masalah itu
diciptakan. Sebagai omnivora, kita harus memasuki tingkat lain untuk memecahkan
masalah kelebihan lemak kita, suatu tingkat di mana kita tidak lagi membunuh dan
mengurung satwa dengan perantaraan orang lain dan mengonsumsi sisa-sisanya yang
sarat lemak.
Racun
Saat kita mendapatkan protein kita dari sumber-sumber hewani, kita membawa serta
ke dalam tubuh kita lebih banyak kontaminasi beracun yang kadarnya lebih tinggi
daripada yang kita dapatkan dengan makan makanan nabati secara langsung, karena
biji-bijian untuk pakan ternak banyak disemprot dengan pestisida dan racun-racun
ini cenderung terkonsentrasi di dalam daging hewan, susu, dan telur, seperti
yang Andrew Weil tunjukkan:
Satu masalah adalah pola makan yang kaya protein hewani menempatkan Anda pada
posisi yang tinggi pada rantai makanan, bukan tempat yang baik ... Satu
konsekuensi dari tingginya posisi rantai makanan adalah Anda memasukkan dosis
racun yang lebih besar, karena kadar konsentrasi racun itu naik seiring gerak
naik Anda tingkat demi tingkat. Lemak hewan-hewan domestik sering mengandung
konsentrasi tinggi dari racun yang ada dalam konsentrasi yang lebih rendah di
dalam biji-bijian, contohnya. Sebuah masalah tersendiri adalah metode-metode
yang kita gunakan untuk meningkatkan jumlah hewan sumber protein dengan
menjejali mereka dengan zat-zat yang tidak sehat.29
Hewan – hewan tidak beruntung yang dipelihara untuk makanan itu dicekoki
sejumlah besar tepung ikan dan diberikan daging hewan dan jeroannya, yang
sungguh-sungguh tidak alami bagi mereka, agar mereka gemuk dengan cepat. Kotoran
hewan juga digunakan untuk “memperkaya” makanan mereka, dan tambahan-tambahan
ini meningkatkan konsentrat racun-racun hingga mencapai kadar yang bahkan lebih
tinggi daripada makanan nabati yang diberikan kepada hewan-hewan itu.
Racun-racun dalam makanan hewan yang kita makan meliputi logam berat
karsinogenik, PCB yang mematikan, residu kimiawi, antibiotik, dan mimpi buruk
ciptaan manusia yang sekarang kita sebut “prion”. Prion-prion ini diduga sebagai
penyebab dari penyakit sapi gila dan ensefalopati spongiform menular lainnya
yang telah menggila baik pada populasi manusia kanibal (seperti masyarakat
“Fore” yang kanibalistik di Papua Nugini di mana satu tipe ensefalopati
spongiform manusia, mereka sebut “kuru” yang pertama kali didokumentasikan pada
tahun 1950an) maupun pada populasi hewan kanibal (seperti peternakan domba dan
populasi cerpelai yang mengembangkan scrapie dan ensefalopati cerpelai yang
menular setelah diberi makan daging hewan). Penyakit-penyakit yang serupa
seperti penyakit Creutzfeld-Jacob (ekuivalen sapi gila pada manusia) dan,
menurut beberapa peneliti, bentuk-bentuk tertentu dari penyakit Alzheimer,
sekarang mengancam populasi manusia dengan pola makan omnivora juga karena
standar industri jahat yang telah memerintahkan pemberian sapi untuk pakan sapi
lainnya, dan masih memberi babi untuk pakan babi lainnya, ayam untuk pakan ayam
lainnya, dan babi dan ayam untuk pakan sapi.30
Juga diketahui dengan baik bahwa makanan-makanan hewan terkontaminasi berat
dengan virus dan bakteri seperti salmonela, listeria, E. Coli, campylobacter,
dan streptococcus, yang dapat menjadi berbahaya jika tidak fatal bagi
orang-orang, khususnya dengan sistem kekebalan yang ada sekarang yang sudah
kelebihan beban kerja.31 Urea dalam daging hewan juga mengandung
racun. Lebih lanjut telah ditunjukkan baru-baru ini bahwa daging hewan yang
sudah dimasak mengandung amino heterosiklik, yang merupakan bahan kimia
karsinogenik yang terbentuk selama proses memasak. Jadi, dengan tidak memasak
daging, kita mungkin membuka diri kita bagi salmonela, E.coli, dan patogen
lainnya, dan dengan memasaknya, kita jadi makan bahan kimia penyebab kanker yang
terbentuk oleh pemanasan lemak hewan.
Industrialisasi produksi makanan telah menciptakan Operasi Pencatuan Pakan Hewan
dalam Kurungan (CAFO) berskala besar, juga disebut peternakan pabrik, yang
mengurung hewan-hewan di lingkungan yang padat, beracun, yang mengurangi biaya
tenaga kerja dan memungkinkan harga yang lebih rendah dari makanan hewan dengan
mengandalkan pada bahan bakar fosil yang murah serta subsidi. Untuk mengurangi
biaya, mamalia , burung-burung, dan ikan yang terkurung dikembangbiakkan agar
bertambah berat dengan cepat dan diberikan hormon steroid untuk mempersingkat
waktu antara kelahiran dan penyembelihan. Ayam, sebagai contoh, sekarang dibunuh
saat baru berumur empat puluh lima hari, dibanding dengan delapan puluh empat
hari pada tahun 1950an.32 Hormon-hormon dan zat-zat pemacu
pertumbuhan ini adalah ilegal di Eropa karena penelitian menunjukkan zat-zat itu
meningkatkan risiko kanker dan disfungsi reproduksi pada manusia—namun mereka
ini disetujui dan digunakan di lebih dari sembilan puluh persen sapi pedaging di
AS.33 Stres, bau, serangga, penumpukan kotoran dan air seni,
insektisida, dan kepadatan yang berlebihan menciptakan kondisi ideal untuk
berkembangnya penyakit, dan antibiotik serta obat-obatan lain yang secara rutin
diberikan juga berakhir di dalam daging hewan, susu, dan telur. Hampir tidak ada
pengawasan pada obat-obatan yang digunakan pada hewan-hewan di peternakan
pabrik. Peneliti Gail Eisnitz menulis,
Para pekerja yang tidak terlatih, bukan dokter hewan, memberikan obat-obatan
kepada hewan-hewan yang sakit, sering dengan cara diinjeksi. Menurut seorang
pekerja yang memberikan perawatan medis, obat-obat dan takaran dosis yang mereka
gunakan adalah masalah “percobaan dan kesalahan”.
“Saya menggunakan jarum yang sama pada ratusan ekor babi, hingga tidak dapat
menembus lagi ke dalam kulit. Atau sampai jarumnya patah. Lalu saya harus
menggunakan tang dan menarik jarum itu keluar”. Perjalanan sisa dari obat-obatan
ini dapat berakhir di dalam daging ham babi di sebelah telur sarapan pagi hari
konsumen itu.34
Karena semua alasan ini, makanan hewani di toko-toko serba ada membawa kadar
kontaminasi racun dan patogen yang tinggi. Karena kondisi menyedihkan dalam
pengoperasian petelur baterai, sebagai contoh, lebih dari 650.000 orang Amerika
sakit setiap tahunnya oleh bakteri salmonela di dalam telur; kontaminasi
salmonela ditemukan di dalam tujuh puluh dua persen dari ayam yang disembelih.35
Kampilobakter, yang adalah penyebab nomor satu dari penyakit perut dan
berhubungan dengan sindrom Guillain-Barré, menginfeksi sembilan puluh delapan
persen ayam yang dijual di toko.36 Listeria adalah patogen yang
sungguh berbahaya yang sering kali ditemukan dalam keju, telur, kerang-kerangan,
dan daging, yang menyebabkan sembilan puluh dua persen dari orang yang
terinfeksi perlu dirawat di rumah sakit. Hal ini berhubungan dengan kerusakan
otak dan cerebral palsy pada bayi-bayi yang lahir dari wanita hamil yang
terinfeksi.37 Dan E. coli 0157 menjangkiti ratusan pemakan hamburger
dan mematikan beberapa penderitanya setiap hari, menurut angka konservatif dari
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.38 Seperti penyakit sapi
gila, ini disebabkan oleh praktik-praktik kejam dan tidak bertanggung jawab yang
menjalar di peternakan-peternakan pabrik, yang menyebabkan hewan-hewan tiba di
tempat penjagalan dalam keadaan berpenyakit dan bergelimang kotoran.
Kondisi di tempat-tempat penjagalan saat ini menjamin bahkan lebih banyak
kontaminasi beracun di dalam daging yang kita makan. Selama dua puluh tahun
terakhir, kecepatan rantai proses penjagalan telah meningkat dengan cepat dan
inspeksi dan pengawasan USDA telah berkurang, sekarang dengan bagian dari HAACP
(Analisa Bahaya Titik-titik Pengendalian Kritis) tahun 1996, industri daging
pada dasarnya adalah swakelola dan swainspeksi. Eisnitz memberi tahu apa yang
para pekerja, dengan kesaksian tertulis yang ditandatangani, katakan tentang
produksi rumah jagal penyedia daging yang kita makan:
“Setiap hari saya melihat ayam hitam, ayam hijau, ayam yang berbau busuk, dan
ayam yang terkena kotoran. Ayam seperti ini seharusnya dibuang, tapi malah
dikirim untuk diproses”. Seorang pekerja di rumah jagal lain berkata, “Saya
pribadi bahkan pernah melihat daging busuk—Anda dapat mengenali dari baunya.
Daging busuk ini tercampur dengan daging segar dan dijual untuk makanan bayi.
Kami diminta untuk mencampurnya dengan makanan segar, dan ini adalah caranya
produk itu dijual. Anda dapat melihat ulat di dalam daging itu”.
Seorang pekerja lain, “di departemen di mana tulang-belulang ayam digiling dan
diproses menjadi potongan dan gelondongan ayam”, melaporkan bahwa “hampir terus
menerus, tulang belulang tersebut, berbau busuk, mengerikan.
Terkadang tulang-belulang itu datang dari rumah jagal lain dan telah tergeletak
selama beberapa hari. Sering kedapatan belatung. Tulang-belulang ini tidak
pernah dibersihkan dan karena itu belatung itu digiling dengan bahan apa saja
dan tertinggal dalam produk akhir”.39
Dikarenakan proses pemeriksaan baru yang “dirampingkan”, pada hakikatnya apa
saja diperbolehkan. Pernyataan tertulis dari para inspektur USDA yang sekarang
kurang berotoritas terhadap rumah-rumah jagal berulang kali memberikan cerita
sama yang mengejutkan tentang implikasi bahaya kesehatan dari makanan hewani:
“Saya pernah melihat unggas dengan tumor kanker datang secara teratur, terkadang
sehari penuh. Saat sedang berada di bagian pengendalian mutu, saya akan tarik
keluar unggas-unggas sakit yang saya lihat, tapi saya tidak mungkin menangkap
mereka semua. Segera setelah saya menaruh mereka dalam drum lama, mandor akan
menyuruh pekerja lantai menggantung kembali unggas-unggas itu ke kabel
berjalan”.40
Setiap hari, bangkai (bongkahan besar daging ternak yang baru disembelih) jatuh
di atas lantai dan tidak dirapikan sebelum perusahaan menaruh mereka kembali ke
kabel berjalan. Lantai-lantai begitu kotor, tercecer dengan darah, lemak, tinja,
nanah dari bisul, dan lumpur. Banyak yang tertanam di dalam daging bangkai
tersebut dari sebab penyemprot bangkai bertekanan tinggi. . . .41
Bukannya memotong bagian yang terkontaminasi tinja dan tumor, para pekerja
sekarang menggunakan semprotan air panas bertekanan tinggi, yang membawa efek
mendorong partikel kontaminasi masuk lebih jauh ke dalam daging. Dalam operasi
penjagalan babi dan unggas, digunakan tangki air panas:
Dalam tangki pemanasan, kontaminasi tinja pada kulit dan bulu terhirup oleh
unggas yang hidup, dan air panas membuka pori-pori burung, memungkinkan
bakteri-bakteri patogen meresap ke dalam. Aksi hentakan dari mesin pencabut bulu
pada tubuh unggas tersembelih menciptakan efek penyemprot air yang
terkontaminasi tinja yang kemudian ditumbuk masuk ke dalam tubuh unggas.
Kontaminasi juga terjadi saat isi perut unggas dikeluarkan dengan mesin otomatis
pengeluar isi perut. Mesin berkecepatan tinggi itu biasanya mengoyak keluar isi
perut, menumpahkan tinja ke dalam rongga tubuh unggas.42
Tangki pendingin juga digunakan:
Contoh lainnya kontaminasi berkecepatan tinggi terjadi ketika ayam-ayam
dicelupkan dalam tangki pendingin. “Air di tangki ini tepatnya disebut ‘sup
tinja’ untuk segala kotoran dan bakteri yang mengambang”, Tom Devine dari GAP
[Proyek Akuntabilitas Pemerintah] memberi tahu saya. “Dengan mencelupkan unggas
sehat yang bersih ke dalam tangki yang sama dengan yang kotor, hampir dipastikan
terjadi kontaminasi silang.”43
Eisnitz menulis tentang menelusuri berkas GAP dari tahun 1996 dan menemukan
berbagai macam hal yang para pengawas telah hentikan, namun tidak mampu lagi
untuk menghentikan:
Daging yang telah berbau telah diasapi untuk menutupi bau busuk, atau direndam
saus bumbu dan ditaburi bubuk roti untuk menyamarkan lendir dan bau. Daging yang
masih hangat atau produk daging yang mulai rusak ditambahkan ke daging yang baik
lalu diproses. . . .Ayam-ayam dan ham direndam dalam bak klorin untuk
menghilangkan lendir dan bau busuk, dan pewarna merah ditambahkan ke daging sapi
untuk membuatnya kelihatan segar.
Berkas-berkas dokumen tersebut melukiskan tentang kemasan daging di dalam boks
dengan gumpalan tinja seukuran tinju. Potongan paru-paru, dubur, dan serangga
mati telah ditemukan juga. . . . Belatung berkembang biak dalam bak dan kotak
transportasi, di lantai, dalam peralatan pemrosesan dan pengemasan. Petugas
pabrik menyekop makanan secara langsung dari lantai ke dalam keranjang sosis
yang dimakan.44
Ini hanyalah puncak dari gunung es terapung. Saat kita memakan makanan hewani
untuk protein atau beberapa manfaat yang dibayangkan, kita tak terhindarkan lagi
membawa ke dalam sosok psikofisik kita produk-produk yang sangat terkontaminasi.
Dalam usaha untuk mengurangi risiko tersebut, pada Februari 2000 USDA
mengesahkan penerapan radiasi nuklir terhadap produk daging untuk membunuh
kuman-kuman patogen berbahaya yang melekat di dalamnya; efek jangka panjang dari
makan makanan ter-iradiasi belum diketahui, tapi kajian-kajian jangka pendek
menunjukkan kemungkinan menciptakan karsinogen dan bakteri termutasi.
Menariknya, lembaga medis belum terlihat mengajukan penolakan apapun terhadap
hal ini.
Kerumitan dari Medis-Daging
Kita telah dilatih oleh kebiasaan pola makan kita untuk melihat tanpa berpikir.
Sebagai satu contoh dari hal ini, penyakit yang disebabkan diri sendiri,
serangan diabetes pada usia dewasa, sekarang mencapai proporsi epidemi. Walaupun
bukti dengan jelas menghubungkan diabetes dengan konsumsi makanan hewani, jutaan
dolar dihabiskan untuk mencari obat-obatan “penyembuh” untuk diabetes. Warga
biasa bahkan dengan baik hati menyumbangkan waktu untuk menempuh perjalanan
maraton untuk mengumpulkan uang bagi “penelitian penting diabetes”. Diabetes
jarang terjadi di antara mereka yang makan dengan pola makan berbasis nabati
tetapi merupakan risiko signifikan di antara orang-orang yang makan daging,
telur, dan produk susu. Hal ini tidaklah sulit dipahami penyebabnya. Kelebihan
lemak dalam pola makan berbasis hewani itu dapat, jika tidak dibakar, memaksa
tubuh akhirnya menjadi kebal terhadap kegiatan insulinnya, hormon yang mendorong
lemak ke dalam sel-sel lemak. Jadi lemak itu, di metabolisme menjadi gula,
dihilangkan dari tubuh melalui urine. Seperti yang John McDougall, M.D.,
tunjukkan, “Kehilangan gula ini (kalori) adalah reaksi penyesuaian tubuh atas
kelebihan kalori yang diterima dan disimpan (lemak tubuh)”.45 Jika
kita berhenti menerima makanan hewani, tubuh dapat secara dramatis - mengurangi
atau melenyapkan kondisi diabetes yang diidapnya itu, dan ini telah ditunjukkan
berulang kali.
Bahkan lebih mengherankan adalah kenyataan bahwa, dengan pasukan-pasukan yang
nampaknya terdiri dari orang-orang cerdas yang bekerja pada krisis diabetes,
melakukan segala macam percobaan, mengajukan permintaan dana, menulis
makalah-makalah penelitian, dan berbagi penemuan mereka, nampaknya sedikit yang
melihat hubungan-hubungan yang jelas ini. Para peneliti terus bergegas maju,
menghabiskan uang dan menyiksa hewan-hewan laboratorium dalam pencarian
“mekanisme” dan peluru obat yang dapat dipatenkan untuk menguntungkan majikan
mereka. Namun, seperti yang McDougall tuliskan dalam suatu kesempatan langka di
mana seseorang secara murni menyatakan kejelasan itu dari dalam lingkungan
profesi medisnya,
Bukanlah suatu kebetulan bahwa pola makan yang membantu mencegah atau mengobati
diabetes itu juga menyebabkan penurunan berat badan tanpa usaha, menurunkan
kolesterol yang dan trigliserida, membersihkan pembuluh nadi, dan mengembalikan
tubuh ke fungsi sempurna. Tapi tidak peduli berapa banyak penelitian yang muncul
dan mengatakan hal yang sama berulang kali, gelombang itu tidak mungkin berubah
karena insentif ekonomi untuk kelembagaan medis bagi penyakit berkepanjangan dan
perawatan yang menguntungkan.46
Lemak, kolesterol, dan protein beracun dalam pola makan kita adalah dasar dari
suatu kompleks medis yang besar yang terus menuai keuntungan dari penyakit kita.
Penurunan berat badan adalah industri besar dan berkembang, dengan kedua program
baik yang alternatif maupun yang konvensional ditawarkan, sebagian besar dari
mereka nampaknya mengalihkan perhatian orang dari kebenaran-kebenaran sederhana
dan merumitkan masalahnya demi keuntungan mereka sendiri. Invasi-invasi farmasi
dan bedah yang menguntungkan, seperti obat-obatan, teknik penyedotan lemak,
bedah pengecilan volume perut dan bedah by-pass lambung, sering lebih disukai
oleh kompleks medis ketimbang tindakan lebih sederhana dengan memberikan saran
kepada orang-orang untuk makan dengan pola makan lebih banyak berbasis nabati.
Di samping menyebabkan kegemukan, lemak dan kolesterol dalam makanan hewani
menyumbat pembuluh darah kita, dan kita kembali menemukan pelanggan-pelanggan
yang enggan dari industri medis yang cerdas, mahal, dan dengan solusi-solusi
yang tidak begitu efektif. Ini meliputi sederet penuh obat-obatan (lengkap
dengan efek “sampingan”) yang secara palsu mengencerkan kadar kolesterol darah
kita. Dan ada prosedur bedah juga. Ini meliputi pelebaran pembuluh darah kita,
pemasangan pipa balon, dan bedah bypass jantung.
Dengan rantai waralaba makanan cepat saji dan menu yang kaya dengan produk
hewani menempatkan contoh di rumah sakit, industri medis diyakinkan bahwa
perbaikan-perbaikan itu bersifat sementara dan karena pasien itu terus makan
daging, telur, dan produk-produk susu, mereka akan kembali menjadi pelanggan
rawat ulang. Pemulihan permanen dari penyakit jantung dan arteriosklerosis,
seperti Dean Ornish, M.D., berhasil dicapai oleh pasien jantung yang mengadopsi
pola makan nabati, olah raga, dan belajar untuk mengurangi stres, dianggap
terlalu radikal.47 Ironi hebatnya adalah berubah menuju pola makan
berbasis nabati dianggap lebih radikal bahkan dibandingkan dengan membuat badan
seseorang berulang kali ditusuk, digergaji, dimutilasi, dibius, dan berpotensi
terbunuh. Mungkin ini sebenarnya adalah lebih radikal, karena dalam budaya
rakyat biasa, tidak ada yang lebih subversif terhadap tatanan eksploitasi dan
hak istimewa yang mapan daripada dengan sadar menolak untuk turut ambil bagian
dalam membeli dan mengonsumsi makanan hewani yang menjadi definisi budaya itu.
Efek Plasebo
Kabar baiknya adalah bahwa tubuh kita tumbuh subur dengan pola makan berbasis
nabati yang berkesadaran, dan pola makan ini secara tak terhingga lebih penuh
kasih terhadap hewan-hewan dan orang-orang dan lebih ramah lingkungan yang
berkelanjutan daripada makanan hewani. Siapa saja dan kita semua bisa mengadopsi
cara makan menyehatkan, rendah kekejaman mulai hari ini dan tidak perlu menoleh
ke belakang! Mengapa kita semua tidak bergembira pada penemuan ini dan segera
berubah, mengubah budaya kita, pikiran kita, hidup kita, kesejahteraan kita, dan
planet kita? Mengapa kita memalingkan mata kita, mengeluh, menggumamkan
alasan-alasan, dan bertahan begitu kuatnya? Mengapa kita begitu lumpuh? Saya
bertemu James Gibson, M.D., di kampung halamannya di El Paso, dan menanyakannya
apakah ada makhluk insani di bumi ini yang secara fisiologi diharuskan makan
makanan hewani apa saja. Jawaban cepatnya adalah tidak ada yang seperti ini;
setiap manusia memiliki dasar fisiologi yang sama dan dirancang untuk makanan
nabati. Lalu mengapa, saya bertanya, orang berpikir mereka perlu memakan makanan
hewani? “Setiap orang telah dicuci otak” jawabnya.
Kekuatan keyakinan bersama yang terbentuk secara budaya adalah sangat besar.
Kekuatan ini membentuk medan daya di sekitar kita, menentukan pikiran, sikap,
dan tindakan kita. Di dalam budaya di mana kita semua lahir, sikap intinya
adalah pengecualian dan dominasi, dan tindakan inti yang memperkuat sikap ini
adalah makan hewan. Karena kebudayaan kita mengajarkan keterpisahan kita dari
alam, hewan, dan Tuhan, ia juga telah mengajarkan kita bahwa pikiran dan tubuh
kita pada dasarnya adalah terpisah. Walaupun pandangan dualistis ini disanggah,
hal ini tetap mendominasi pandangan dunia kita, membuatnya sulit dipahami bahwa
apa yang kita percayai dan bagaimana kita berpikir dan merasakan menimbulkan
getaran langsung di dalam tubuh kita, dan keadaan tubuh kita secara intim
mempengaruhi pikiran kita juga. Kekuatan dari efek plasebo didasarkan pada
kesatuan pikiran dan tubuh ini, dan adalah menakjubkan bagaimana kuatnya hal
ini. Telah banyak kajian dilakukan di mana pasien-pasien yang diberikan hanya
pil gula oleh dokter mereka menunjukkan kesamaan atau bahkan perubahan lebih
baik pada kondisi fisik/mental mereka dibandingkan mereka yang menerima obat
sungguhan!48 Harapan adalah kekuatan yang sangat kuat. Beberapa orang
memberi tahu mereka yang menggunakan program kemoterapi untuk kanker bahkan
kehilangan rambut mereka, meskipun mereka hanya diberikan plasebo, bukan
obat-obatan. Dan menurut Wayne B. Jonas, M.D., seorang pimpinan dalam penelitian
plasebo dan direktur dari Institut Biologi Informasi Samueli, operasi plasebo—memberitahu
pasien bahwa operasi akan dilakukan, tetapi tidak dilakukan saat di ruang
operasi—”adalah sama efektifnya atau lebih efektif daripada operasi nyata”.49
Meskipun kerangka kerja biomedis budaya kita yang mekanistik bingung dan
terancam oleh kekuatan besar dari efek plasebo dan memandangnya secara negatif,
ini berguna untuk menyadarkan bahwa ini sama sekali tidaklah negatif, tetapi
amat sangat positif. Memahami kesatuan dari pikiran dan tubuh ini memungkinkan
kita secara potensial untuk melepaskan tali pengikat kekuatan penyembuhan dan
menghidupkan yang besar melalui pikiran, gagasan, perasaan, dan wawasan kita.
Kebanyakan dari kita yang beralih ke diet berbasis nabati merasakan efek positif
seperti suatu beban berat diangkat dari tubuh-tubuh fisik, mental, emosional,
dan spiritual kita, tapi beberapa dari kita merasa lebih buruk, khususnya pada
permulaannya. Kekuatan efek plasebo yang besar dan belum dikenal ini membantu
menjelaskan mengapa ini bisa terjadi, khususnya jika kita melakukan peralihan
itu sendiri dan tidak memiliki contoh vegan-vegan yang sehat, penuh semangat di
sekitar kita setiap hari. Program kuno dapat dengan mudah diaktifkan, diperkuat
oleh iklan dan pesan promosi di mana-mana untuk daging, susu, telur, dan
industri medis. Ini mempengaruhi Hal itu dihantamkan ke dalam otak kita secara
praktik praktisnya sejak kita lahir, oleh mereka yang terdekat dengan kita dan
dalam posisi dengan wewenang yang tertinggi, bahwa kita akan menjadi lemah atau
sakit jika kita tidak mendapat “protein” kita—keju, telur, dan daging kita—dan
suara mereka secara alami tetap hidup di dalam kita. Tanpa sadar, saat kita
beralih ke diet berbasis nabati, kita mungkin menduga kita akan merasa lemah
atau menjadi sakit, dan dari itu tubuh kita mungkin mewujudkan hal ini. Oleh
karena itu, saat kita lepas dari memakan makanan hewani, adalah penting untuk
melepaskan dengan sadar kepercayaan budaya yang melekat bahwa kita membutuhkan
makanan hewani untuk menjadi sehat. Kita berenang dalam lautan pemikiran yang
terisi secara emosional yang diciptakan oleh generasi-generasi omnivora, dan
kesadaran massal ini mungkin membuat hal ini lebih sulit untuk beberapa dari
kita untuk percaya pada tingkat lebih dalam bahwa kita dapat dan akan lebih
sehat bersemangat tanpa makan makanan hewani.
Di atas hal ini, para peneliti telah memperhatikan bahwa plasebo adalah lebih
efektif jika mereka tidak menyenangkan. Plasebo-plasebo yang pahit rasanya dan
mahal, sebagai contoh, seperti obat yang pahit dan mahal harganya, “bekerja”
lebih baik —karena kita harus melalui beberapa trauma dan pengorbanan untuk
menelannya, kita tanpa sadar berharap efek mereka menjadi lebih kuat. Makan
daging dan sekresi hewan juga secara fundamental begitu menjijikkan kita sebagai
manusia sehingga makanan hewani ini membuat plasebo yang istimewa kuatnya. Kami
mendapati burung nazar itu menjijikkan karena mereka makan bangkai, tapi kita
makan persis makanan yang sama! Terkadang makanan itu diungkapkan secara halus
sebagai daging sapi yang dilayukan. Namun, karena kita telah diajarkan untuk
menghubungkan kekuatan dan energi dengan konsumsi makanan hewani, dan harapan
kita membantu psikofisiologi kita yang cukup ajaib dan fleksibel untuk mengatasi
secara parsial makanan yang secara esensial mengganggu dan bersifat racun ini
maka kita dapat bertahan dan berfungsi. Sebagai anak-anak, kita tidak punya
pilihan lain.
Ada dua kesulitan lain yang mungkin kita alami saat beralih ke pola makan
nabati. Pertama adalah ketika kita berhenti mencerna lemak jenuh, kolesterol,
dan racun lain dalam makanan hewani, saat itu tubuh kita mempunyai kesempatan
untuk membersihkan rumahnya. Buah dan sayur-sayuran adalah pembersih darah alami
dan pembuang racun, dan ketika tubuh kita beralih dari mode bertahan hidup dan
menyimpan racun di dalam sel lemak ke mode pembersihan, memperbarui, dan
mengurangi sel-sel lemak, racun yang tersimpan mulai mengalir ke dalam aliran
darah kita untuk dikeluarkan. Kita bukannya merasa lebih baik, tapi mungkin
merasa lebih buruk selama satu atau dua minggu karena residu obat dan racun
dibersihkan keluar. Ini sebenarnya merupakan kabar gembira karena racun-racun
itu tidak lagi tinggal di dalam jaringan kita.
Ingatlah bahwa jika kita pergi ke dokter untuk meminta nasihat selama masa
pembersihan ini, kita mungkin akan menemui bahwa ia akan menentang pola makan
nabati dan membelokkan tujuan baik pembersihan, memperingatkan kita bahaya dari
“pola makan ngetren” dan menasihati kita bahwa kita “butuh” makanan hewani agar
menjadi sehat. Sayangnya kita mungkin kembali kepada kecenderungan sifat
kebrutalan hewan, keyakinan kita untuk “mencoba” menjadi vegetarian runtuh
karena dokter kita mengatakan kita tidak mendapatkan cukup protein, atau zat
besi, atau vitamin B-12, atau energi dalam makanan kita, atau tipe darah kita
mengharuskan kita makan beberapa protein hewani, atau beberapa alasan lain yang
melemahkan kita dari penghentian siklus kekejaman yang terlibat dalam kebiasaan
makan kita.
Tapi ingat bahwa ada begitu banyak pelajaran medis yang disampaikan di
sekolah-sekolah kedokteran, sedangkan pelajaran ilmu gizi menjadi prioritas yang
rendah. Kebanyakan dokter hanya sedikit mengetahui tentang ilmu gizi karena
kurang dari seperempat sekolah kedokteran hanya mempunyai satu pelajaran gizi,
dan mereka sangat sedikit mempelajari dampak dari daging, susu, dan industri
telur, maupun orientasi budaya kita. Pengaruh ini juga mempengaruhi mereka yang
mempelajari ilmu gizi sebagai profesi. Marion Nestle memperlihatkan dalam
Politik Makanan (Food Politics) bahwa industri makanan hewani
mempunyai sumber keuangan yang cukup besar dan sangat besar pengaruhnya di semua
tingkat pemerintahan kita, dan juga di bidang ilmu pengetahuan dan dunia
kesehatan. Tidak ada kekuatan yang mendukung makanan nabati. Juga perlu
diketahui bahwa perusahan makanan hewani mendanai penelitian universitas,
menerbitkan bahan artikel dan pendidikan, serta mengajak organisasi penelitian
medis profesional untuk mempromosikannya. Berikut ada dua contoh tentang hal
ini, Lembaga Kanker Amerika dan yayasan penelitian kanker yang lain bekerja sama
dengan industri daging untuk menyeponsori perjamuan bistik tahunan bernama
“Cattlemen’s Balls” untuk mengumpulkan uang bagi penelitian kanker! Dan Asosiasi
Jantung Amerika telah memberikan hak kepada jaringan makanan cepat saji Subway
untuk logonya “melawan penyakit jantung dan stroke” setelah menerima “sumbangan”
sepuluh juta dolar dari Subway, meskipun menu di restoran itu terutama terdiri
dari daging olahan dan keju yang diketahui dapat meningkatkan risiko penyakit
jantung.50
Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jika kita menghabiskan uang untuk makan
daging dalam separuh hidup kita yang pertama, maka nanti kita akan menghabiskan
uang untuk pergi ke dokter dalam separuh hidup kita yang kedua. Jadi setelah
kita berhenti mengonsumsi makanan hewani, kita mungkin merasa lebih buruk selama
beberapa minggu, saat pembersihan, tapi manfaat perubahannya sangat jelas,
seperti yang diamati Andrew Weil: “Penelitian yang konsisten menunjukkan bahwa
para vegetarian lebih sehat dan hidup lebih lama daripada pemakan daging.”51
Alasan ketiga mengapa kita sulit beralih ke pola makan nabati adalah karena kita
tidak tahu bagaimana menyiapkan makanan vegan yang enak, bergizi, dan mudah.
Sangatlah mudah melakukannya, tapi harus melalui proses belajar dan pengalaman.
Untungnya, ada peningkatan dalam persediaan buku masakan, kelas memasak, grup,
program, dan makanan cepat saji vegan dan vegetarian. Untuk satu hal, kita
mungkin berhenti makan daging tapi terus makan produk susu dan telur.
Produk-produk ini setidaknya juga melibatkan banyak kekejaman, racun,
kolesterol, dan protein hewani seperti daging, jadi mungkin hanya ada sedikit
perbaikan yang akan terlihat. (Itulah sebabnya mungkin lebih baik kita jangan
bertahap saat ingin beralih ke pola makan nabati sepenuhnya, tapi langsung
sekaligus. Misalkan menjadi seorang “pescovegetarian” yang masih makan produk
susu, telur, dan ikan. Itu mungkin sudah cukup mengganggu tapi belum cukup
memberi perbaikan yang berarti dalam tubuh-pikiran kita.) Kita mungkin tidak
akan mendapat kemajuan yang berarti jika kita beralih ke pola makan nabati tapi
tetap menyukai makanan vegan yang sampah—yang banyak mengandung lemak jahat,
tepung putih, gula putih, pemanis buatan, pengawet, dan bahan kimia.
Sangat sederhana dan mudah untuk mendapatkan semua nutrisi yang kita butuhkan
pada pola makan nabati. Makan bermacam-macam sayuran, biji-bijian,
kacang-kacangan, polong-polongan, dan buah-buahan akan menjamin bahwa kita akan
mendapatkan vitamin, mineral, dan protein yang kita butuhkan untuk kesehatan
yang optimal. Dua zat utama yang mungkin kurang pada pola makan vegan adalah
vitamin B-12 dan asam lemak omega-3. Vitamin B-12 adalah zat yang tersedia
secara alami, banyak terdapat dalam tanah dan air kita, tapi sekarang sulit
didapat di air karena metode penyaringan air modern dan pencucian makanan di
dalam industri yang menghilangkannya dari makanan nabati serta air minum kita.
Tambahan yang diperlukan sangat dianjurkan, dan mudah diperoleh dalam susu
kedelai yang diperkaya dan produk-produk vegan yang lain. Dan karena praktik
menyuling makanan modern kita kebanyakan untuk asam lemak omega-6, ide yang
bagus jika para vegan makan walnut dan biji rami atau minyak rami untuk sari
asam lemak omega-3. Dua sendok makan biji rami giling setiap hari dianggap
cukup. Sumber yang baik yang meliput aspek nutrisi dari pola makan vegan Anda
dapat membaca buku Becoming Vegan (Menjadi Vegan) oleh Brenda Davis dan
Vesanto Melina, dua ahli gizi terdaftar.52
Ironisnya mitos tentang kemungkinan kekurangan gizi dibebankan kepada para vegan
(“darimana Anda mendapatkan protein/vitamin B-12, dan sebagainya?”), karena
penelitian menunjukkan bahwa vegan biasanya memiliki asupan buah-buahan dan
sayuran dua kali lebih banyak daripada orang yang makan sesuai dengan standar
pola makan orang Amerika. Pada penelitian baru-baru ini, enam belas dari
sembilan belas penelitian gizi kepada orang-orang vegan sebenarnya lebih tinggi,
termasuk tiga kali lebih banyak vitamin C, vitamin E, dan serat; dua kali folat,
magnesium, tembaga, dan baja, lebih banyak kalsium dan protein.53
Orang vegan juga memiliki asupan lemak jenuh setengah, seperenam angka kelebihan
berat tubuh lebih rendah, dan orang vegan hanya menunjukkan risiko kekurangan
tiga macam gizi (kalsium, yodium, dan vitamin B-12), sedangkan orang dengan pola
makan standar orang Amerika berisiko kekurangan tujuh macam gizi (kalsium,
yodium, vitamin C, vitamin E, serat, folat, dan magnesium).54
Membeli hasil bumi, biji-bijian, kacang-kacangan, dan biji-bijian yang tumbuh
secara organik adalah penting, bukan saja karena vitamin dan mineralnya lebih
tinggi, tapi juga karena limpahan toksin dari pertanian konvensional turut
meracuni sungai dan orang-orang, juga membunuh burung, ikan, serangga, dan satwa
liar. Sejumlah racun yang digunakan untuk menghasilkan sebuah selada atau
semangkuk nasi walau bagaimanapun masih ada , meskipun masih jauh lebih sedikit
dibandingkan yang digunakan untuk menghasilkan sebuah roti sosis, telur dadar
keju, atau sepotong ikan lele karena makanan hewani memerlukan jumlah
biji-bijian berpestisida tinggi untuk menghasilkannya.55
Berbicara mengenai selera, bagi kita yang telah mengikuti pola makan nabati
selalu melaporkan bahwa kita telah menemukan pandangan baru tentang makanan
lezat yang tidak kita ketahui sebelumnya. Hidangan nabati dari Mediterania,
Afrika, India, Asia Timur, Meksiko, dan Amerika Selatan semuanya menawarkan
kelezatan dan gizi. Selera kita hidup kembali, kita menemukan lebih banyak
nuansa halus, dan hati serta pikiran kita akan relaks dan senang lebih mendukung
makanan yang bebas dari kekejaman, makanan menjadi lebih lezat. Karena hubungan
tubuh-pikiran, mereka juga bertambah bergizi sambil kita mulai senang ikut serta
akan ketertarikan dan regenerasi buah-buahan dan tumbuhan di Bumi kita. Sadar
bahwa makan adalah dasar penting bagi kebahagiaan dan perdamaian.
Tubuh Kita, Sahabat Kita
Ketika kecerdasan kita menurun, kita menggunakan obat-obatan untuk memaksa tubuh
kita seperti kita memaksa hewan tidak berdosa. Misalkan, saat tubuh kita yang
bijak ingin membersihkan dirinya dari kemacetan dan racun yang diperkenalkan
kepadanya melalui pola makan kita, dan menimbulkan pilek atau demam untuk
membantu dalam proses pembersihan ini, kita sering menelan obat farmasi untuk
menahan gejala ketidaknyamanan, ini malah sebaliknya membelokkan proses
penyembuhan alamiah. Kecerdasan akan menyadari bahwa tubuh kita adalah teman
kita yang paling berharga. Yang bekerja terus menerus untuk memelihara kesehatan
dan keselarasan, ia merupakan kendaraan kita untuk merasakan dan mengalami dunia
ini. Apa yang dapat menjadi perawatan dan perlindungan yang lebih berharga dan
pantas? Ia tidak pernah bekerja melawan kita, tapi selalu melakukan apapun yang
terbaik yang harus dikerjakan. Ini sungguh memalukan karena ada begitu banyak
hadiah berharga yang tak ternilai dari sumber kasih dari seluruh kehidupan,
ekspresi indah dari daya cipta rohani terganggu dan terluka karena hal-hal yang
tidak penting, memasangkannya pelana dengan beban berat yang tidak dimaksudkan
atau diharapkan oleh alam, dan dihancurkan dengan tragis oleh ketidaktahuan,
ketakutan, dan kurangnya kepedulian. Kesehatan fisik yang bersinar-sinar adalah
harta karun yang sesungguhnya; namun betapa langkanya saat ini, khususnya di
antara kita yang menyalahgunakan hewan sebagai makanan.
Sebenarnya cukup jelas mengapa penyakit jantung dan kanker “terjadi sekeluarga.”
Semua orang dalam keluarga kakinya ada di bawah meja makan yang sama!56
Sebagai anak-anak kita tidak hanya makan seperti keluarga kita tapi juga
menyerap sikap mental dari mereka. Kecuali kita secara metafora meninggalkan
rumah dan meragukan mentalitas budaya makanan kita dan propaganda kompleks
medis-daging yang memperbudak, kita akan menemukan kesulitan untuk melihat misi
unik dan pertumbuhan rohani kita. Kesehatan rohani, seperti kesehatan fisik dan
mental, mendorong kita untuk bertanggung jawab atas hidup kita, dan membaktikan
diri kita kepada alasan yang lebih tinggi daripada keasyikan kita sendiri.
Dengan mengandalkan daging, produk susu, telur, farmasi, dan industri medis yang
enggan membuat kaitan yang telah kita bicarakan, kebudayaan kita telah
menciptakan kondisi ketidakharmonisan dan perbudakan. Peternakan terus mencoba
menghasilkan lebih banyak melalui perkembangbiakan, pengurungan intensif, dan
menggunakan hormon, antibiotik, obat-obatan dan biji-bijian yang “diperkaya”
dengan ikan, kotoran, dan bangkai hewan. Ironisnya adalah: dengan menggemukkan
dan meracuni hewan vegetarian dengan daging, susu, dan telur hewan secara tidak
wajar, kita memperlakukan hewan dan diri kita dengan kejam sampai sakit,
diperbudak, dan mati muda. Ini semua tidak diperlukan, dan kita punya kekuatan
untuk menghentikannya.
Banyak orang yang melihat sekilas uraian di atas, meninggalkan “daging merah”
dan merasa bahwa dengan melakukan hal ini, pada dasarnya telah menjadi
vegetarian dan berpola makan sehat. Tentu saja tidak ada yang lebih jauh dari
kebenaran. Daging babi, ayam, kalkun, bebek, dan hewan-hewan peternakan yang
lain sama berkolesterol tinggi, protein mengasamkan, penderitaan, ketakutan,
adrenalin, dan residu racun dari bahan kimia dan obat-obatan seperti daging
sapi, dan mungkin lebih. Jika daging terjamin “organik,” ia mungkin
memiliki lebih sedikit residu racun, tapi itu masih saja memiliki semua sisa.
Daging dari hewan-hewan yang lebih aneh, seperti burung pegar, burung belibis,
burung unta, burung besar, banteng, rusa, kelinci, kuda, katak, buaya dan
kura-kura, sama juga tidak sehat dan setidaknya menyebabkan penderitaan. Semua
hewan sangat menderita dan tidak semestinya agar kita dapat makan di atas tubuh
mereka yang disiksa.
Yang lain mungkin melangkah lebih jauh, melepaskan seluruh “daging” tapi masih
makan ikan, kerang, produk susu, dan telur—makanan yang mereka percaya lebih
sehat daripada “daging.” Sebelum Anda percaya, lihat lebih banyak pada bab
berikut ini, ini mungkin membantu untuk mengenali kesehatan kita sendiri sebagai
dasar yang penting, mengasyikkan, dan tak tergoyahkan saat ingin berpantang
makanan hewani. Motivasi yang paling kuat dan tahan lama untuk melakukannya pada
akhirnya berdasarkan kepedulian kita terhadap yang lain—dalam hal ini
hewan-hewan yang dipenjara, hewan liar, orang kelaparan, pekerja rumah jagal,
generasi masa depan, beberapa yang rusak karena keinginan kita akan makanan
hewani. Keuntungan dari pola makan nabati bagi kesehatan adalah tambahan dari
sifat kebaikan, sifat kasih dan kesadaran akan kesakitan serta kegelisahan yang
disebabkan oleh makanan hewani yang terjadi karena kita melanggar hukum alam.
Jika motivasi kita satu-satunya untuk tidak mengonsumsi makanan hewani adalah
karena kesehatan kita sendiri, maka kita akan mudah “menipu” sedikit di sana dan
sini dan tak lama setelah itu kembali memakannya lagi. Jika motivasi kita
berdasarkan cinta kasih, itu akan dalam dan abadi, karena kita mengerti bahwa
tindakan kita berakibat langsung terhadap mereka yang rentan. Kita tidak pernah
“berbohong”, karena itu langsung mencelakai yang lain, yang tidak ingin kita
lakukan. Sementara itu ada banyak “mantan vegetarian,” tak percaya bahwa “mantan
vegan” benar-benar vegan; sepertinya meragukan bahwa cinta kasih yang pernah
didapat kemudian hilang.
Alasan utama membahas beberapa dampak negatif memakan produk hewani bagi
kesehatan dalam bab ini adalah untuk membantu kita membebaskan diri dari gagasan
yang salah di mana tubuh kita “membutuhkan” makanan hewani. Kepercayaan yang
keliru ini membuka pintu gerbang menuju kesengsaraan besar yang tak terhitung
banyaknya. Penderitaan yang dialami oleh hewan yang dijadikan makanan,
penderitaan dari mereka yang memakannya dan yang diuntungkannya, penderitaan
dari orang-orang kelaparan yang seharusnya dapat makan dengan biji-bijian yang
diberikan kepada hewan-hewan ini, dan penderitaan yang tak terpikirkan yang
mengganggu ekosistem, makhluk lain, dan generasi masa depan yang semuanya saling
berhubungan. Inilah keterkaitan antara penderitaan dengan kemunduran cinta
kasih, kepedulian, dan kesadaran, yang memanggil sikap pengertian diri kita.
Referensi
1. John McDougall, “Vegan Diet Damages Baby’s Brain—Sensationalism!”
VegNews
March–April 2003, p. 10.
2. E. A. Hooton,
Man’s Poor Relations
(Garden City, NY: Doubleday, 1940), p. 412.
3. Carnivorous animals have over three times as much phosphate of magnesia
in their teeth to harden them as we have: “Human teeth usually contain 1.5
percent phosphate of magnesia, whereas the teeth of carnivores are composed of
nearly 5 percent phosphate of magnesia.” Vasu Murti,
They Shall Not Hurt or Destroy: Animal Rights and Vegetarianism in the Western
Religious Traditions
(Cleveland: Vegetarian Advocates Press, 2003), p. 122.
4. Carnivorous animals have digestive systems three times their body length
while primates, classified as frugivores, have a digestive system twelve times
their body length. Herbivores such as ungulates and ruminants have digestive
systems roughly thirty times their body length. See Ibid., pp. 121–122.
5. Robert O. Young and Shelley R. Young,
The pH Miracle
(New York: Warner, 2002).
6. John McDougall, “Need Potassium? Take Vegetables, Not Pills,”
McDougall Newsletter,
April 2004.
7. Riane Eisler,
Sacred Pleasure: Sex, Myth, and the Politics of the Body
(New York: HarperCollins, 1995), p. 38.
8. National Academy of Sciences Institute of Medicine Dietary Reference
Intakes for Energy, Carbohydrate, Fiber, Fat, Fatty Acids, Cholesterol, Protein,
and Amino Acids (Macronutrients) (2002), cited in Michael Greger,
Carbophobia
(New York: Lantern, 2005, p. 83). Dr. Greger continues, “In their report
condemning trans fats they couldn’t even assign a Tolerable Upper Daily Limit of
intake because ‘any incremental increase in trans fatty acid intake increases
coronary heart disease risk.’ “
9. In
Turn off the Fat Genes
(New York: Harmony, 2001, p. 132), Neil Barnard writes, “The old notion that you
need to carefully combine or ‘complement’ various plant foods to get adequate
protein has been set aside. Both the U.S. government and the American Dietetic
Association hold that, so long as your diet includes a normal variety of plant
foods, you will easily get enough protein, even without any special combining.”
10. V. Messina and K. Burke, “Position of the American Dietetic Association:
Vegetarian Diets,”
Journal of the American Dietetic Association,
97, 1997, pp. 1317–1321.
11. Colin Campbell, interview, 1994, cited in Andrea Wiebers and David
Wiebers,
Souls Like Ourselves
(Rochester, MN: Sojourn Press, 2000), p. 51.
12. John Robbins,
Diet For A New America,
pp. 172–173.
13. Ibid., p. 177.
14. Andrew Weil,
Spontaneous Healing
(New York: Random House, 1995), pp. 145–147.
15. Andrew Weil,
Eight Weeks to Optimum Health
(New York: Random House, 1997), p. 70.
16. Young and Young,
The pH Miracle,
p. 23.
17. Cited in Greg Lawson, “The Broccoli Link,”
Animal Rights Online
newsletter, June 5, 2003; see also http://biology.berkeley.edu/crl/index.shtml.
18. R. Mazess, “Bone Mineral Content of North Alaskan Eskimos,”
Journal of Clinical Nutrition,
27:916, 1974.
19. John McDougall,
McDougall’s Medicine
(Piscataway, NJ: New Century Publishers, 1985), p. 67.
20. For a good overview of the research connecting animal food intake with
disease, and list of primary sources, see John Robbins,
The Food Revolution,
Part 1, pp. 11–150.
21. “A Diet Rich in Profit,”
Adbusters Journal,
November–December 2002.
22. For more details, see Felicia Drury Kliment,
The Acid Alkaline Balance Diet
(New York: Contemporary Books, 2002).
23. J. T. Dwyer, L. G. Miller, N. L. Arduino, et al.”Mental Age and I.Q. of
Predominately Vegetarian Children.”
Journal of the American Dietetic Association,
76, 1980, pp. 142–147. In this study, pediatric developmental tests indicated
that brain development in vegetarian children is normal. In fact, the mental age
of the children advanced over a year beyond chronological age, and mean IQ was
well above average (with an average of 116 points).
24. Plutarch, “On Eating Flesh,”
Moralia,
William Watson Goodwin, ed. (London: S. Low, Son, and Marston, 1870), Vol. 5,
Tract 1.
25. Greg Critser,
Fat Land
(New York: Houghton Mifflin, 2003), p. 170.
26. “A Diet Rich in Profit,”
Adbusters Journal,
November–December 2002.
27. Neal Barnard,
Turn off the Fat Genes,
p. 134.
28. U.S. Department of Agriculture, “A Comparison of Low-Carbohydrate vs.
High-Carbohydrate Diets,” cited in Eve Hightower, “Pasta Preferred,”
E Magazine,
January–February 2003, p. 42.
29. Andrew Weil,
Spontaneous Healing
(New York: Random House, 1995), pp. 145–147.
30. Sheldon Rampton and John Stauber,
Mad Cow U.S.A: Could the Nightmare Happen Here?
(Monroe, ME: Common Courage Press, 1997), pp. 39–51, 210–218.
31. Nicholas Fox,
Spoiled: The Dangerous Truth About a Food Chain Gone Haywire
(New York: Basic Books, 1997), pp. 178–179.
32.
45 Days: The Life and Death of a Broiler Chicken,
Compassion Over Killing, Washington, DC, DVD, 2004.
33. “Factsheet—January 2000,” National Cattlemen’s Beef Association.
34. Gail Eisnitz,
Slaughterhouse: The Shocking Story of Greed, Neglect, and Inhumane Treatment
Inside the U.S. Meat Industry
(Amherst, NY: Prometheus Books, 1997), p. 219.
35. Ibid., p. 175.
36. Ibid., p. 177.
37. Julie Vorman, “US Groups Seek Food Safety Warning Label on Meat,” Reuters
News Service, January 13, 2000.
38. “Microbiologists Battle E. Coli,”
Meat Industry Insights,
October 26, 1999.
39. Eisnitz, pp. 174–175.
40. Ibid., p. 173.
41. Ibid., p. 183.
42. Ibid., p. 167.
43. Ibid., p. 168.
44. Ibid., p. 287.
45. John McDougall, “Diet and Diabetes: The Meat of the Matter,”
EarthSave Magazine,
November 2002, p. 4.
46. Ibid., p. 22.
47. Dean Ornish,
Eat More, Weigh Less,
(New York: HarperCollins, 1993).
48. For an informative and eye-opening discussion of the placebo effect in a
variety of medical and healing modalities, see Andrew Weil,
Health and Healing,
pp. 199–274. See also Lolette Kuby,
Faith and the Placebo Effect
(Novato, CA: Origin Press, 2001).
49. Jeffrey Hildner, “Destination: Healing,”
The Christian Science Journal,
November 2003, pp. 6–7.
50. “Subway: The New King of Fast Food,” Organic Consumers Association, July
2004. See www.organicconsumers.org/corp/subway071504.cfm.
51. Weil,
Eight Weeks to Optimum Health,
p. 104.
52. Brenda Davis and Vesanto Melina,
Becoming Vegan
(Summertown, TN: Book Publishing Company, 2000).
53. World Health Organization Technical Report Series 916.
Diet, Nutrition and the Prevention of Chronic Diseases
(Geneva, 2003).
54.
European Journal of Clinical Nutrition,
57, August 2003, p. 947. Also, USDA,
Food and Nutrient Intakes by Individuals in the United States, by Region,
1994–1996.
Cited in Michael Greger, “Latest in Human Nutrition,”
Dr. Michael Greger’s Monthly Newsletter,
September 2003. (www.drgreger.org/september2003.html).
55. Howard Lyman points out in
Mad Cowboy
(New York: Scribner, 1998, p. 126), that not only does it take enormous amounts
of pesticide-laden grain to make the animal foods we consume, but also that “ .
. . governmental limitations, lax though they are, on the use of pesticides for
human consumption do not apply to crops destined for livestock. The lion’s share
of the agrochemical poisons sprayed into the air and falling onto the ground are
dedicated to the production of meat.”
56. Howard Lyman, author of
Mad Cowboy,
occasionally offers this metaphor in his public addresses.
|
|