|
bab delapan
METAFISIKA PANGAN
“Tiada yang lebih sulit selain membangunkan seseorang yang sedang
berpura-pura tidur lelap.”
—Uskup Desmond Tutu
“Semua makhluk bergemetaran menghadapi penganiayaan. Semua takut mati. Semua
mencintai kehidupan. Lihatlah dirimu di dalam diri orang lain. Maka siapakah
yang dapat engkau sakiti? Perbuatan jahat apakah yang dapat engkau lakukan?”
—Buddha
“Setiap orang, cepat atau lambat, pasti akan menerima sejumlah besar
akibat-akibat.”
—Robert Louis Stevenson
Memakan Getaran-Getaran
Makanan hewani mengandung racun fisik dan metafisika. Racun fisik di dalam
makanan hewani seperti lemak trans, patogen, pestisida, obat-obatan, dan residu
hormon, selain merusak kesehatan tubuh kita, bisa juga mengganggu kita secara
emosi dan kejiwaan. Suasana hati yang cepat berubah, mudah marah, dan hilangnya
konsentrasi adalah efek samping yang terkenal dari obat-obatan dan zat kimia,
dan daya dari zat-zat psikoaktif (yang mempengaruhi pikiran dan tingkah laku)
dimana telah didokumentasikan dengan baik. Kita kini lebih memamahi apa yang
telah Pythagoras ajarkan pada kita: bahwa menyantap makanan hewani akan
menyebabkan efek-efek negatif terhadap kesadaran kita; satu biomekanisme yang
diakui untuk hal ini adalah hormon seks testosteron. Ken Wilber, ahli teori
kesadaran menulis, Kajian pada testosteron—di laboratorium, dari ragam budaya,
secara embrio, dan bahkan apa yang terjadi pada saat wanita diberi suntikan
testosteron karena alasan pengobatan—semuanya merujuk pada satu kesimpulan
sederhana. Saya tidak bermaksud untuk bicara kasar, tetapi kelihatannya
testosteron pada dasarnya memiliki dua unsur, dan hanya dua, yaitu dorongan
utama: untuk bersetubuh atau membunuh.
Dan para pria terbebani dengan mimpi buruk biologis ini hampir pada sejak hari
pertama, sebuah mimpi buruk yang hampir tidak bisa bayangkan oleh wanita
(kecuali jika mereka diberikan suntikan testosteron karena alasan pengobatan,
yang mendorong mereka menjadi tidak terkendali. Seperti yang dinyatakan oleh
seorang wanita, “Saya tidak dapat berhenti memikirkan tentang seks. Tolong,
bisakah Anda menghentikannya?) 1
Kajian-kajian telah berulang kali menunjukkan bahwa tingkat testosteron yang
tinggi terkait kelakuan merusak yang agresif, yaitu tidak sabar, dan mudah
marah.2 Sebagai tambahan, sekarang dipahami bahwa pola makan yang
tinggi lemak hewani dan rendah serat nabati mengarah pada penyimpanan dan
konsentrasi hormon seks seperti testosteron di dalam tubuh. Serat sayur-sayuran,
biji-bijian, dan makanan nabati lainnya mengikat hormon ini untuk bersirkulasi
dan “menjaganya dalam pengendalian”3 melalui GPHS (globulin pengikat
hormon seks), yang bertambah dengan pengasupan makanan nabati. Neil Barnard
menulis, Dalam Kajian Penuaan Pria di Massachusetts, yaitu sebuah kajian luas
dan terus menerus terhadap pria separuh baya dan yang lebih tua di daerah
Boston, para peneliti menemukan bahwa para pria dengan tingkat GPHS yang lebih
banyak dalam darah mereka akan menjadi kurang mendominasi dan agresif. Ini bisa
menjadi semacam acuan bahwa pola makan yang lebih baik dapat membuat Anda
menjadi mudah-bersepaham-dengan pasangan.4
Riset juga telah menunjukkan bahwa anak-anak dengan kekurangan gizi yang sering
ditemukan dalam pola makan yang rendah sayur-mayur, buah-buahan, biji-bijian,
dan kacang-kacangan akan lebih cenderung bersikap antisosial dan kejam begitu
mereka beranjak dewasa.5
Di luar tingkat fisik biomekanisme ini, seperti tingkat hormon, racun, dan
nutrisi, terdapat kekuatan metafisika yang bekerja meskipun itu terabaikan namun
akan tetap bekerja. Racun-racun metafisika —yaitu getaran-getaran terkonsentrasi
dari teror, kesedihan, frustrasi, dan keputusasaan yang terserap ke dalam
makanan-makanan ini—adalah sesuatu yang tak kasat mata dan benar-benar tidak
dikenali oleh ilmu pengetahuan konvensional, namun getaran-getaran tersebut
bahkan mungkin akan lebih mengganggu kita daripada racun-racun fisik karena
getaran-getaran itu bekerja dalam tingkat perasaan dan kesadaran yang merupakan
dimensi yang lebih penting dari diri kita dibanding dengan kendaraan fisik kita.
Dengan membeli atau memesan produk hewani, kita secara langsung menyebabkan
kesengsaraan dan menyebarkan benih-benih kekejaman dan keputusasaan. Sungguh
naif untuk berpikir bahwa benih-benih tersebut akan menghilang begitu saja ke
dalam lapisan udara tipis. Teror, kesakitan, dan frustrasi yang kita timbulkan
terhadap makhluk berperasaan, yang tubuh dan pikirannya tersiksa diluar dari apa
yang bisa bayangkan, yaitu daya luar biasa yang sangat mempengaruhi kita,
penyebab dari siksaan itu dalam berbagai cara. Ketika kita memberi makan sel-sel
yang kita gunakan untuk berpikir dan merasakan dengan daging dan sekresi dari
hewan-hewan yang diteror ini, kita akan menyerap getaran-getaran ketakutan,
penyakit, dan kekejaman, tidak peduli cara apapun yang akan kita gunakan untuk
menyamarkannya dengan kata-kata agar enak didengar atau bisa alihkan perhatian.
Para ahli fisika mulai melirik kebenaran yang telah diutarakan oleh para suci
dan mistik selama berabad-abad, bahwa dunia yang tampak pada kita melalui indra
kita adalah fenomena getaran. Energi yang bergetar dalam rentang tertentu
menjadi terlihat oleh kita sebagai “materi” dan getaran-getaran di luar rentang
itu, meskipun tidak harus berarti terlihat oleh indra kita, namun tetap saja
ada. Apabila kita berdiri di dalam ruangan yang sunyi dan gelap, sebagai contoh,
kita mungkin saja tidak melihat atau mendengar sesuatu, tapi jika kita
menghidupkan radio atau televisi, kita akan tiba-tiba menyadari akan musik,
percakapan, iklan, dan acara-acara TV yang telah ada bersama kita di dalam
ruangan tersebut yang tidak terasa sebelumnya karena kita tidak memiliki
peralatan untuk merasakannya. Dengan cara yang sama, kita bisa memandang sebuah
telur dan menganggapnya hanya sebagai sebuah benda materi, tetapi jika kita
memiliki peralatan intuisi yang diperlukan, kita bisa menjadi jauh lebih sadar
bahwa telur itu adalah sebuah entitas yang bergetar. Meskipun pikiran kita bisa
saja tertutup dari melihat, meraba, atau merasakan telur itu sebagai sebuah
sistem energi getaran, tubuh kita yang juga adalah sebuah sistem getaran, dan
akan terpengaruh olehnya pada tingkatan getaran utama. Tubuh kita akan
mengetahui getaran apa yang ia makan, demikian juga pikiran kita pada tingkat
lebih mendalam yang melampaui kesadaran intelektual kita.
Kita semua mungkin pernah berada pada suatu tempat yang indah tapi jika diri
kita pada saat itu sedang marah, iri hati, atau ketakutan, atau jika orang-orang
yang bersama kita juga demikian, maka kecantikan fisik tidak ada artinya.
Sebaliknya juga demikian. Kegembiraan, kemuliaan, welas asih, energi tinggi, dan
getaran murni dapat mengubah lingkungan fisik manapun menjadi sebuah surga, dan
ketakutan atau kemarahan dapat menjadikan surga apapun (misalnya, Bumi kita)
menjadi sebuah neraka atau penjara. Ketidakmampuan kita untuk mengenali,
menghargai, dan melindungi keindahan spektakuler yang tiada habisnya dari Bumi
kita dan makhluk-makhluknya telah disebabkan oleh ketidakpekaan batin kita
terhadap frekuensi energi yang bergetar—kebebalan yang membuat kita tidak
menjerit atau menangis sewaktu kita menggigit roti sosis atau roti lapis daging
keju.
Pada tingkat frekuensi getaran, tubuh kita mengenali dan bereaksi terhadap
getaran-getaran dari lingkungan dan berbagai situasi, hubungan, emosi, dan
terutama dari apa yang kita makan. Telah diketahui dengan baik selama beberapa
generasi bahwa susu dari ibu yang sedang marah atau terganggu akan sering
membuat bayinya sakit. Sementara itu kebanyakan ilmuwan masih terus membatasi
penelitian mereka pada penjelasan materialis tentang fenomena secara fisika
modern, sebagai contoh, dengan menunjukkan bahwa materi adalah energi dan bahwa
kesadaran adalah fundamental, yang akan jauh lebih fundamental daripada
energi-materi. Prinsip ketidakpastian maupun efek pengamat, yang merupakan dasar
bagi fisika kuantum,6 menandakan bahwa wujud energi-materi tidak
dapat dipisahkan dari kesadaran dan tidak terkondisikan oleh kesadaran; alam
semesta pada dasarnya bukanlah jasmaniah, tetapi merupakan sesuatu yang timbul
dari kesadaran intelektual, kesadaran naluriah. Sebagai contoh, Max Planck,
bapak teori kuantum pemenang Hadiah Nobel, menulis, “Semua materi berasal dan
hidup hanya berdasarkan suatu kekuatan... Kita harus menganggap bahwa di balik
kekuatan ini ada Pikiran sadar dan kecerdasan. Pikiran ini adalah matriks dari
segala materi.”7
Tiga hal jelas ini, yaitu kesadaran, energi, dan materi, pada akhirnya secara
perlahan-lahan diakui sebagaimana adanya: suatu kesatuan. Kesadaran dan
energi-materi saling mengondisikan, saling menembus, dan saling tergantung
dengan cara-cara yang paling mendalam dan penuh misteri. Kesadaran adalah hal
utama dan penting, dan apa yang tampak sebagai energi-materi pada akhirnya
merupakan perwujudan dari kesadaran. Misalanya, Kesadaranlah yang pada akhirnya
dapat menyembuhkan; banyaknya keragaman metode penyembuhan bisa dilihat sebagai
plasebo, seperti yang telah dijelaskan oleh Andew Wei secara panjang lebar dalam
Health and Healing, karena itu semua bekerja hingga pada tingkatan dimana
sang pikiran mempercayai mereka, yaitu dari shamanisme, herbal, akupunktur
hingga pembedahan dan obat-obatan.8 Beberapa bentuk penyembuhan
rohani telah mengenali kebenaran dasar ini, namun institusi yang dibangun oleh
kebudayaan kita masih mencerminkan prasangka materialis dan reduksionis yang
besar dari dasar mentalitas kita yang telah menjadi tidak peka oleh praktik yang
terus-menerus belangsung sejak masa kanak-kanak, dimana telah menghalangi
kesadaran dan kepekaan kita selama mencicipi santapan harian kita.
Begitu kita menjadi semakin sadar akan energi dan getaran-getaran ini, kita akan
melihat secara langsung keterkaitan antara kesadaran dan materi. Kehidupan kita
di tingkat fisik adalah penggambaran dari pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan
kita—kesadaran kita. Beberapa orang yang intuisinya lebih kuat mungkin jauh
lebih peka terhadap informasi energi halus ini dibandingkan kebanyakan orang
awam; inteligensi alamiah mereka merasakan getaran-getaran energi dalam berbagai
situasi dan individu, dan mereka bisa secara langsung mengetahui kesadaran yang
menimbulkan situasi tertentu, atau yang mewujud sebagai suatu kelompok atau
individu. Sebagai contoh, para pengamat sering kagum melihat kijang dan singa
berehat dalam jarak yang dekat satu sama lain dan merasa heran bagaimana kijang
bisa secara rutin merasakan kapan singa-singa itu berbahaya dan kapan mereka
kenyang. Sudah diketahui bahwa orang-orang yang intuitif, demikian juga dengan
kucing, anjing, babi dan banyak satwa lainnya, peka terhadap getaran perasaan
dan niat yang mereka serap dari orang-orang, dan bahwa mereka mempunyai akses
terhadap informasi yang terlupakan oleh kebanyakan kita.9
Jika kita melihat permasalahan lain pada telur, daging babi asap, atau keju yang
kita beli dan makan, kita melihat dengan jelas bahwa itu adalah perwujudan
getaran kehidupan dari kekejaman, kekerasan, perbudakan, teror, dan keputusasaan.
Kesadaran yang tersiksa dari satwa dan kesadaran yang mengeras dari manusia yang
menyiksa makhluk hidup yang berperasaan dan mengeksploitasinya demi uang telah
bercampur dan menciptakan suatu “makanan” yang beracun pada tingkat tertinggi.
Makanan tersebut menimbulkan kekacauan dan penyakit pada dimensi fisik, mental,
emosi, kerohanian, dan sosial dari keberadaan kita. Jika kita bisa melihat
telur, produk susu, dan daging hewan yang diproses, dengan mata tercerahkan yang
dapat melihat melampaui penampilan fisik, kita akan merasa takut dan ngeri
karena gagasan yang menyebabkan kesengsaraan seperti itu, apalagi benar-benar
menyajikannya sebagai makanan kepada orang-orang yang kita kasihi dan juga pada
diri kita.
Banyak budaya mengakui bahwa makanan yang dipersiapkan dengan cinta kasih dan
perhatian penuh kepedulian pada hal-hal yang kecil adalah lebih sehat daripada
makanan yang dipersiapkan dengan sikap acuh tak acuh atau, bahkan lebih buruk
lagi, dengan kejengkelan atau kemarahan. Untuk alasan ini, sebagai contoh, dalam
biara Zen, hanya biksu-biksu yang paling senior dan yang meditasinya telah maju
sekali yang diperbolehkan untuk menyiapkan makanan di dapur biara. Di India,
para ibu telah didorong selama berabad-abad untuk memasak dengan suasana hati
penuh kasih, tenang, dan meditatif sehingga makanan yang mereka sajikan untuk
anak-anak mereka akan memelihara mereka tidak hanya secara fisik, tetapi juga
secara emosional dan kerohanian. Mereka percaya bahwa energi alam semestalah,
atau prana dalam makanan, yang memberi kita energi. Medan getaran dari
orang yang menyiapkan makanan adalah juga sebuah bentuk prana dan dapat
menaikkan atau menurunkan getaran kesehatan makanan. Ada banyak budaya dan agama
lain yang mengakui bahwa makanan adalah sebuah keberadaan penting dari energi
dan kesadaran, dan bahwa apabila makanan itu dipersiapkan dengan cinta kasih,
penuh perhatian, dan rasa syukur, maka getaran ini akan memberkahi dan mendukung
para penerima makanan yang beruntung menyantapnya.
Juga diketahui secara luas bahwa ketika makanan dimakan dengan sikap penuh
perhatian dan penghargaan, itu akan lebih bergizi dibandingkan jika dimakan
dengan keadaan pikiran yang kacau, tergopoh-gopoh, atau kesal. Guru Zen Buddhis,
Thich Nhat Hanh menulis dalam Peace Is Every Step (Damai Adalah Setiap
Langkah), sebagai contoh, “Berkontemplasi pada makanan kita sejenak
sebelum makan, dan makan dengan pikiran penuh perhatian dapat memberi kita
banyak kebahagiaan.”10. Tradisi kaum yogi dan biara telah lama
mengakui manfaat dari makan secara penuh perhatian dan doa sebagai sebuah bentuk
meditasi, berada sepenuhnya pada saat makan yang ada sekarang, dan
berkontemplasi pada asal makanan dan berterima kasih padanya. Praktik ini
dipercaya untuk meningkatkan energi dan nilai nutrisi dari makanan kita dengan
lebih membuka diri kita terhadapnya.
Makan adalah suatu tindakan menghubungkan. Meskipun kita makan sendirian, kita
tidaklah sendirian. Makanan yang kita makan menghubungkan kita dengan segala
irama, kekuatan, dan kelimpahan alam serta alam semesta kita, dan dengan
kehadiran dari mereka yang memelihara dan mengumpulkan makanan yang sedang kita
makan. Ladang, hutan, lautan, sungai, kehidupan liar, petani, dan penjual bahan
pangan, semuanya ada bersama kita dan menjadi bagian dari kita sewaktu kita
mengunyah dan mencerna makanan tersebut. Orang-orang yang kita pikirkan saat
kita sedang mengunyah dan mencerna makanan kita akan menjadi bagian dari kita
juga. Secara lintas-budaya, makanan adalah peristiwa ikatan dan persekutuan
sosial. Ketika kita sedang makan bersama baik sebagai keluarga atau komunitas,
dan terutama jika kita melakukannya dengan sikap apresiasi terhadap makanan dan
kesempatan untuk berkumpul, maka kita telah memperkuat tali ikatan pemahaman dan
cinta kasih di antara kita.
Jika kita mengonsumsi makanan hewani, semua unsur dari energi dan kesadaran ini
akan terhapus oleh kekejaman dan ketakutan yang melekat pada getaran dari
makanan yang kita santap itu. Thich Nhat Hanh mengatakannya secara terus
terang:
Ketika kita makan telur atau ayam, kita akan mengetahui bahwa telur atau ayam
juga bisa mengandung sejumlah besar amarah. Kita sedang memakan amarah, dan
karenanya kita memperlihatkan kemarahan... Jadi sadarilah. Berhati-hatilah
terhadap apa yang Anda makan. Jika Anda memakan amarah, Anda akan menjadi dan
mengekspresikan sikap amarah. Jika Anda memakan keputusasaan, Anda akan
mengekspresikan keputusasaan. Jika Anda memakan frustrasi, Anda juga akan
mengekspresikan frustrasi.11
Karena adanya getaran kekerasan, ketakutan, dan keputusasaan yang begitu kuat
dan nyata di dalam seonggok makanan hewani, maka ketika kita menyiapkan makanan
tersebut, kita tidak akan mungkin bisa melakukannya dengan penuh perhatian,
tetapi akan lebih bersifat mekanis dan secepatnya, agar bisa menghindari
munculnya kepekaan alamiah kita. Kita cenderung menyantap makanan ini dengan
cara yang tidak terhubungkan juga. Untuk mempertahankan kepura-puraan kita bahwa
kita lupa akan horor nyata yang disajikan di piring kita, kita melahapnya dengan
cepat dan membuat diri kita sibuk agar teralihkan pikirannya. Makanan cepat saji
dan industrialisasi adalah hasil yang dapat dipahami dari memakan makanan hewani
selama periode waktu yang lama. Kesibukan dari budaya kita yang agresif dan
orientasi telah membuat kita memandang ke arah luar yang berakar secara historis
dan yang sedang berada dalam ketidaknyamanan kita, dengan cara kita
memperlakukan satwa yang kita makan, dan kekerasan yang kita tanam terhadap
penderitaan mereka.
Makanan, sebagaimana semua zat fisik lainnya, adalah energi dan getaran, dan
merupakan sebuah perwujudan dari kesadaran, dan meskipun penting untuk
menyiapkan, memakan, dan berbagi makanan secara penuh perhatian, kita dapat
melihat bahwa adalah penting untuk memandang lebih mendalam dari hal ini, ke
sumber yang sebenarnya dari makanan kita. Ketika kita memicu kekerasan dan
perbudakan pada saat membeli makanan itu, maka secara tak terelakkan kesadaran
terhadap kekerasan dan perbudakan ini akan tertanam di dalam mental dan jasmani
kita, menumpulkan perasaan kita dan melemahkan upaya kita untuk menyiapkan dan
menyantap makanan secara penuh perhatian dan penuh syukur. Materi, energi, dan
kesadaran adalah tidak terpisahkan, dan kekejaman yang dimasukkan secara tidak
terhindarkan ke dalam makanan hewani adalah racun terkuat yang tak dapat
dikenali, dimana selain dapat merusak kesehatan fisik kita, tapi juga merusak
kesehatan emosi dan kerohanian kita.
Dengan Mata Malaikat
Makanan hewani juga adalah racun bagi kita dan dunia kita untuk alasan lainnya.
Seperti halnya kita harus mengeraskan dan menghilangkan kepekaan diri kita untuk
memproduksi dan memakannya, budaya kita harus menghasilkan orang-orang yang
kejam untuk memanipulasi dan membunuh makhluk yang malang itu. Ketika kita
menjadikannya sebagai tujuan untuk memelihara sifat kejam dan tanpa belas kasih
dalam diri beberapa orang, kita semua merasa disakiti. Dengan berkomplot untuk
berpura-pura bahwa kita tidak mengetahui kesakitan yang kita sebabkan itu, kita
telah mematikan perasaan belas kasih, kecerdasan, dan kreativitas anak-anak kita
dan semua orang.
Kita menghilangkan rasa belas kasih kita di sirkus, rodeo, pacuan, kebun
binatang, dan tempat lainnya dimana hewan-hewan dikurung dan dipergunakan
sebagai hiburan kita. Dalam tempat-tempat seperti ini kebanyakan adalah
kekerasan dan kekejaman tersembunyi dari pandangan umum. Jika kita
berkontemplasi pada tempat-tempat ini secara mendalam dan mendidik diri kita,
bagaimanapun juga hakikat kekerasan yang ada ini akan menjadi nyata dan terasa
mengganggu. Cara satu-satunya, sebagai contoh, untuk membuat satwa yang tidak
dijinakkan seperti gajah, kera, harimau, lumba-lumba, singa laut, dan orka
(sejenis paus) melakukan permainan atau bekerja adalah dengan menimbulkan
kesakitan dan ketakutan melalui pemukulan dan kejutan listrik, dan/atau melalui
pengurangan makanan. Pelatih sirkus diajarkan untuk menguasai gajah dengan
memukul mereka dengan pengait, beruang berdansa karena dari masih bayi mereka
dipaksa untuk berdiri di atas piringan logam yang panas sementara “pelatih”
mereka memainkan musik, dan lumba-lumba akan bermain ketangkasan karena bila
tidak mereka akan menderita sakit akibat kelaparan. Kebun binatang memenjarakan
satwa-satwa yang tak berdosa, membeli dan menjual mereka untuk meningkatkan
pendapatan dan jumlah bayi satwa, yang sejauh ini merupakan atraksi yang paling
menguntungkan, sementara satwa yang lebih tua biasanya berakhir di fasilitas
“kebun berburu” di mana mereka ditembak untuk dipiala oleh para olahragawan di
jarak tembak. Kita menumpulkan rasa kepekaan kita ketika kita memakai hewan
untuk pakaian, perabot, perhiasan, dan produk-produk lainnya. Ini menutup
kesadaran diri kita terhadap horor dan kesengsaraan yang menimpa para makhluk
hidup untuk menghasilkan produk itu. Dan kita melumpuhkan empati kita di dalam
riset ilmiah dan pendidikan, di mana kita saling mengajari bahwa penderitaan
satwa hanyalah memiliki sedikit konsekuensi. Mungkin itu dimulai dengan proyek
menetaskan telur ayam di sekolah, dan berlanjut melalui pembedahan kodok di
laboratorium biologi, dan mencapai puncaknya pada jutaan satwa yang disiksa oleh
para peneliti yang bekerja untuk lembaga militer, industri, ilmiah, dan
pendidikan.
Yang mendasari budaya mematikan nurani ini, tentu saja, adalah makanan-makanan
kita, kegiatan utama sosial kita. Dan untuk membuat makanan tersebut, kita harus
menjalani proses lebih lanjut dalam mematikan nurani dengan memilih dan membeli
produk hewani. Setiap kali kita membuat keputusan membeli telur, cairan, atau
daging hewani, kita telah memaksakan pemutusan hubungan antara konsumen dan apa
yang dikonsumsi. Ketika kita merogoh dompet kita dan membayar daging atau
sekresi satwa, pada saat itu kita secara langsung merangsang terjadinya aksi
kekerasan, ketakutan, perbudakan, kematian, dan penyebaran polusi beracun. Pada
saat itu benih-benih kekerasan telah benar-benar ditabur. Kita adalah bos mafia
yang membayar penembak untuk membunuh, meskipun kita tidak menggunakan pisau,
tetapi baju putih kita tetap terciprat.
Jika kita dapat memandang dunia yang kita tinggali ini dengan mata malaikat,
yaitu dari sosok makhluk yang tercerahkan secara intuisi, dan melihat getaran
energi lebih dari sekedar bentuk fisik saja, kita akan melihat bahwa perang dan
kekerasan di atas Bumi dihasilkan dari sekumpulan tempat yang amat luas di mana
proses mematikan nurani berlangsung: tak terhitung banyaknya dapur, tempat
makan, pemondokan, hotel, restoran, resor, kafetaria, aula penginapan, gerai
cepat saji, supermarket, kedai, gerai daging, mal, gerai es krim, gerai camilan,
kapal, tempat berkemah, tempat pacuan, tempat piknik, sirkus, pusat pertemuan,
pameran, sekolah, stadion olahraga, gereja, kasino, penjara, basis militer,
wisma perawatan, sekolah perawatan, rumah sakit, kebun binatang, dan institusi
mental, di mana daging hewan, telur, dan produk susu dibeli dan dijual,
dipersiapkan dan dimakan. Belas kasih dimatikan dan kebenaran tidak dipedulikan
di dalam hampir setiap rumah, pusat perbelanjaan, dan institusi dalam budaya
kita. Sebelum kita bisa memandang satwa tersebut dengan sebagaimana adanya,
kekuatan-kekuatan yang tak dapat dielakkan ini akan terus mengembangkan
penolakan dan kekerasan dalam setiap pola yang tampaknya sangat tidak
mencurigakan. Bila kita tidak dapat melihat hal ini, dan tetap mengasumsikan
bahwa jalan kehidupan kita adalah waras, berperikemanusiaan, terhormat, dan
ramah, ini hanya akan menunjukkan betapa butanya diri kita.
Malaikat intuisi kita memeriksa dunia kita secara teliti, ia akan melihat
berjuta-juta tempat proses mematikan nurani ini di seluruh komunitas kota,
daerah pinggiran kota, dan desa yang kita bangun. Malaikat juga akan melihat
sejumlah besar pusat-pusat bergetar yang memancarkan ketakutan, kekerasan,
horor, dan frustrasi: puluhan ribu pabrik peternakan, rumah jagal, kandang
ternak, tempat penggemukan hewan, perikanan, dan kegiatan penangkapan ikan di
mana hewan-hewan diperbudak, disiksa, dan secara sadis dibunuh hingga miliaran
ekor setiap tahun. Kebanyakan kegiatan memenjarakan dan membunuh ini hingga
puluhan bahkan ratusan ribu individu, dan meskipun jumlahnya banyak sekali, tapi
tetap tersembunyi dari pandangan umum. Kapal-kapal kematian besar yang mengapung
bekerja di lautan yang jauh. Di luar kota, fasilitas pengolahan daging hewan
dengan sengaja ditempatkan jauh dari jalan utama dan pusat hunian, dipagari agar
orang banyak tidak bisa masuk. Nama-nama dagang disamarkan dan diungkapkan
dengan halus, seperti papan nama “Produk Protein Carolina” yang pernah saya
lihat di sebuah gedung besar yang kelihatannya tidak menyenangkan dan terletak
jauh dari jalan raya. Namun, bagi malaikat intuisi kita, mereka sama sekali
tidak tersembunyi, tetapi berkembang hebat, menjulang tinggi di atas lahan,
intensitas dan volume penderitaan yang bergemuruh di dalam dinding mereka
menggelembung tinggi sebagai medan getaran duka cita, teror, panik, dan
keputusasaan yang mengganggu. Bentuk pikiran tentang penyiksaan, dominasi, dan
perbudakan yang memancar telah menggelapkan langit, menyebar ke komunitas
sekeliling, mencemarkan medan energi dan medan kesadaran yang menghubungkan kita
semua, manusia dan satwa juga. Energi negatif yang sangat besar dan tak
berkurang ini, keputusasaan dan kesakitan dari berjuta-juta individu sensitif
yang dikurung dan dibunuh demi memuaskan kerakusan kita, boleh jadi adalah
pencemaran terserius yang pernah kita sebagai manusia ciptakan. Akibat-akibatnya
menyebar melalui jaringan yang rumit dan luas dari pikiran, energi, dan
kesadaran yang membentuk hubungan kita manusia dengan sesama, dengan satwa dan
alam, dan dengan anak-anak kita, impian kita, dan aspirasi kita.
Banyak orang telah memahami implikasi tragis dari pencemaran medan getaran Bumi
oleh penderitaan yang mendalam dari sesama satwa kita. Tolstoy, sebagai
contohnya, menulis bahwa sepanjang kita masih memiliki rumah jagal, kita akan
tetap memiliki medan perang. Menurut pemenang Hadiah Nobel, novelis Isaac
Bashevis Singer, “Sepanjang orang masih menumpahkan darah makhluk tak berdosa
maka tidak akan ada kedamaian, kebebasan, dan keserasian di antara masyarakat.
Penjagalan dan keadilan tidak dapat tinggal bersama.” Charles Fillmore, salah
seorang pendiri Unity School of Practical Christianity (Sekolah Persatuan
Kristen Praktis) di Kota Kansas, menulis hal berikut pada tahun 1903, Beberapa
tahun yang lalu di San Fransisco banyak orang menderita sakit keras karena
memakan daging yang dibeli dari toko tertentu. Para dokter menyelidiki dan
mereka menemukan bahwa daging dari lembu tertentu adalah penyebabnya, dan diduga
bahwa lembunya dalam keadaan sakit. Penyelidikan lebih lanjut menyatakan bahwa
praduga ini merupakan sebuah kesalahan—hewan itu luar biasa sehat dan kuat—ia
sebenarnya begitu kuat dan bertenaga sehingga ia memperjuangkan hidupnya selama
lebih dari satu jam setelah percobaan pembunuhan terhadapnya dimulai. Ia berada
dalam keadaan gila karena teror dan amarah; matanya memerah, dan mulutnya
berbusa sewaktu sang penyembelih mencoba membantainya. Para dokter memutuskan
bahwa rasa marah dan teror dari lembu inilah yang meracuni dagingnya sama halnya
seperti susu dari ibu yang sedang marah, yang kita ketahui pasti akan membuat
bayinya sakit.
Contoh ini adalah sebuah kondisi berlebihan yang ada dalam bentuk lebih halus
dalam semua daging hewan yang dijual sebagai makanan di pasar-pasar kita.
Sebelum mereka dibunuh, hewan-hewan malang ini dianiaya terlebih dahulu dengan
cara-cara yang hampir susah digambarkan. Kunjungilah kurungan pengiriman,
kereta-ternak, tempat penyimpanan ternak, dan rumah pengemasan, jika Anda
menginginkan bukti dari penderitaan yang dialami hewan-hewan malang ini di
lapangan. Dan semua penderitaan yang begitu hebat ini, lewat hukum getaran
mental simpatik, ditransfer ke dalam daging orang-orang yang memakan tubuh
hewan-hewan tersebut. Rasa takut yang tak tergambarkan, teror dari mimpi buruk,
dan banyak gangguan di perut dan usus yang dialami orang-orang mungkin bisa
dilacak pada sumber yang tidak dicurigai ini.12
Fillmore seratus tahun yang lalu pernah menulis pada masa yang kelihatan pelik,
ketika kita sebenarnya bisa melacak daging pada hewan tertentu. Eric Schlosser,
pengarang Fast Food Nation, mengatakan bahwa dalam salah satu dari
hamburger-hamburger kita mungkin terkandung daging dari puluhan hewan berbeda,
dari berbagai tempat di belahan Bumi ini. Penderitaan yang dialami hewan-hewan
ini tentu saja jauh lebih buruk lagi dewasa ini, dengan adanya kurungan yang
ekstrem, manipulasi obat-obat yang aneh, dan penyembelihan mengerikan yang
dipraktikkan oleh pabrik peternakan yang diindustrialisasikan. Dan ketika kita
dapat membahas secara hati-hati masalah kolesterol dan residu hormon buatan di
dalam makanan hewani ini, maka kesengsaraan belaka yang akan kita makan beserta
efek racunnya yang tidak pernah secara serius dipertimbangkan. Kita dibutakan
oleh budaya materialisme kita, yang tumbuh secara alami dari kebiasaan makan
kita.
Pada tahun 1910 Fillmore menguraikan gagasan awalnya secara panjang lebar dengan
menulis:
Setiap hewan akan berjuang untuk hidupnya. Lalu akan jadi seperti apakah kondisi
mental hewan-hewan yang secara kejam dijejalkan ke dalam kurungan dan mobil yang
penuh sesak, dan akhirnya dicabut nyawanya di tengah lingkungan yang mengerikan?
Apakah akan menjadi lain kecuali bahwa seluruh kesadarannya diresapi oleh
getaran kekerasan dari teror yang beraksi dan terus bereaksi dalam seluruh
wahana kehidupan hewan tersebut dengan apa yang terjadi pada mereka? Anda
mengira bahwa Anda memakan suatu benda materi yang disebut daging, tapi
sebenarnya tidak ada materi yang seperti itu di dalam kenyataannya. Bagi indra
luar Anda, daging itu mungkin tampak sebagai suatu massa yang mati dan kaku,
tetapi seandainya mata jiwa Anda terbuka, Anda akan melihat arus mental yang
merembes ke dalam setiap atom, yang beraksi dan terus bereaksi satu sama lain
dengan cara yang liar dan membingungkan, seperti hewan yang tubuhnya membentuk
satu bagian. Anda membawa masuk ke dalam kuil Anda elemen-elemen yang akan
mengganggunya, elemen-elemen yang sulit untuk Anda selaraskan. 13
Sekalipun kita mencoba menyiapkan dan memakan makanan hewani secara perlahan dan
penuh perhatian, meski pada tampilan dan pikiran kita tenang namun apa yang
sedang kita siapkan dan makan akan terasa mengusik rasa welas asih alami kita
terhadap makhluk-makhluk hidup lain. Dengan menodai hewan, kita menciptakan
medan energi yang menodai diri kita dan memblokir tujuan kita di Bumi ini: yaitu
untuk membuka kebijaksanaan, kasih, dan pemahaman. Sebaliknya, kita telah
menjadi agen keburukan dan kematian, melayani kepentingan para konglomerat
industri raksasa dan perusahaan yang didirikan terutama untuk memaksimalkan
keuntungan dan kekuasaan yang terpusat pada diri mereka semata. Dan kita telah
mengeraskan diri kita sendiri dan anak-anak kita, yang seperti spons polos,
menyerap sikap dan kepercayaan kita kemudian menurunkannya ke anak-anak mereka
sama seperti apa yang dilakukan oleh orang tua dan kakek nenek mereka.
Kedok dan Ketakutan
Pengerasan psikologi kita adalah sebuah tameng yang melindungi diri kita dari
perasaan sedih dan menderita yang harusnya kita rasakan secara alami. Itu
membuat kita semakin kurang sensitif dan menutupi sifat sejati kita. Dengan
pemikiran ini, terasa sangat menarik untuk menguji keberhasilan hebat dari
kampanye iklan kumis susu yang ampuh dan mahal, yang dihasilkan dan dipromosikan
oleh pemerintah kita lewat Fluid Milk Promotion Act of 1990.14
Kumis susu bisa dilihat sebagai kedok prototipe, dan kampanye ini
memberitahukan kita secara mendalam bahwa untuk menyiksa hewan dan memakan
daging serta sekresinya kita harus mengenakan sebuah kedok. Kumis susu putih
kecil itu memicu sebuah pengakuan tanpa sadar bahwa produk susu menutupi
kekejaman parah, namun kebaikan yang berhubungan dengan warna putih memberikan
rasa lega emosional yang sangat kita harapkan. Dengan bekerja pada tingkat tanpa
sadar dari simbol prototipe, industri susu jadi mempromosikan produknya dengan
mengeksploitasi dua perasaan bertentangan kita yang mendalam tentang makanan
hewani, yang ditandai dengan kedok, dan mengubah dua perasaan bertentangan
tersebut ke dalam perasaan lega psikologis atau perasaan terharu dengan
menunjukkan kedok kumis susu sedang dipakai oleh dewa-dewa kebudayaan kita:
figur-figur yang paling terkemuka di bidang atletik, hiburan, ilmu pengetahuan,
dan politik. Kedok itu mewakili budaya kita yang menutupi penderitaan
tersembunyi dibalik industri susu dan dominasinya yang brutal terhadap wanita,
dan karena ini adalah hal terakhir yang kita ingin dukung dan ambil bagian, kita
berpura-pura lupa akan penderitaan yang ada.
Bayangan kekerasan yang tak terlihat ini menghasilkan medan energi yang tak
tertahankan di dalam kebudayaan kita. Semua peneliti hewan mengetahui bahwa
ketakutan adalah salah satu emosi yang paling kuat dan mendasar untuk semua
hewan (termasuk kita), dan ketakutan ekstrem adalah kenyataan yang tak
terhindarkan bagi hewan-hewan di pabrik peternakan dan rumah jagal. Albert
Schweitzer, yang menghimbau kebaikan terhadap hewan, menulis, “Rasa sakit adalah
tuhan yang lebih mengerikan . . . daripada kematian itu sendiri.15
Dengan menimbulkan sejumlah besar rasa sakit akut dan sakit kronis pada hewan
yang kita makan, kita menghasilkan rasa takut akut dan kronis yang sama
besarnya. Kita memakan teror dan dengan demikian menjadi terpesona olehnya,
terpikat oleh hal seram, aneh, dan kasar. Kesukaan kita pada darah, kematian,
teror, dan kekerasan adalah sebuah manifestasi dari bayangan yang ditekan dari
kebrutalan dan pembunuhan besar-besaran terhadap hewan, yang diperhalus dan
digambarkan ke dalam ekspresi di berbagai media massa dan hiburan populer yang
tak terhitung jumlahnya. Kekerasan dan horor di film, novel, dan musik mempesona
dan memikat kita hanya karena kita secara teratur terus memakan kekerasan dan
horor sehingga semua itu menjadi terlibat. Pisau, pedang, dan senjata yang hadir
di berbagai media populer mencerminkan pembunuhan dan tembakan senjata api yang
membisingkan selama 24 jam di rumah-rumah jagal dan pisau panjang yang membunuh
hewan-hewan di sana dan memotong-motong dagingnya untuk konsumsi kita. Meskipun
kita menyembunyikan dan menekan kekerasan itu dari hidangan kita, kekerasan itu
muncul di layar film dan televisi kita, tidak bisa dipungkiri, mempesona dan
begitu menarik bagi kita.
Dengan merayakan dan menanam unsur teror dan kekejaman di media, kita telah
menabur benih yang sama tersebut ke dalam kesadaran kita dan semua itu berbuah
dalam bentuk kekerasan yang lebih jauh. Meningkatnya kekerasan di media,
khususnya televisi, diyakini berhubungan dengan meningkatnya kekerasan pada
anak-anak yang menonton TV. Kekerasan yang kita praktikkan terhadap hewan demi
makanan, diperhalus dan digambarkan lewat media TV sebagai bentuk kekerasan
terhadap orang-orang, yang kemudian menjadi kekerasan oleh anak-anak, terhadap
hewan sebagai target yang paling gampang dan rentan untuk diserang. Memancing,
berburu, menyiksa hewan piaraan, dan menangkap hewan liar adalah beberapa cara
anak-anak mengekspresikan budaya kekerasan yang asing ini, yang selanjutnya
mengesahkan praktik kekerasan terhadap hewan yang paling mudah
diserap—menyembelih dan memakannya. Hubungan antara kekerasan anak–anak terhadap
hewan dan kekerasan terhadap manusia nantinya, sekarang sudah terbukti dengan
baik, lagi-lagi ini merupakan sebuah pengingat lain dari prinsip Pythagoras
bahwa penganiayaan kita terhadap hewan dengan tak terhindarkan akan kembali
mengenai diri kita sendiri sebagai kekejaman terhadap sesama dan penderitaan
yang tiada tara.
Membina Welas Asih
Siklus
kekerasan yang dimulai dari meja makan kita jelas berkumandang di tengah
keluarga kita, masyarakat kita, dan di seluruh relasi kita, mendesir hingga ke
dalam medan kesadaran bersama kita. Seandainya kita mempunyai penglihatan jelas
seperti layaknya malaikat, kita pasti bisa melihat kekerasan itu bergaung di
seluruh planet dengan cara dan dalam dimensi yang tak terhitung. Siapakah diri
kita, dan siapakah semua makhluk serta penjelmaan ini pada akhirnya, semua itu
adalah kesadaran. Kesadaran memanifestasikan kendaraan, yang adalah pewujudan
suci bagi ekspresi, pertumbuhan, dan pengembangan kesadaran. Kita semua adalah
bagian dari sesuatu yang lebih besar, dan kita semua mempunyai tujuan dan
kontribusi unik untuk dilakukan. Ide bahwa kesadaran hanyalah sebuah fenomena
kedua dari materi semata-mata hanyalah sebuah pembalikan yang salah. Ini
adalah mitos dari materialisme yang telah diciptakan dan dipropagandakan oleh
mentalitas dominasi yang dangkal, diteror dan meneror untuk mempertahankan
kebutaannya terhadap rasa sakit tetapi melepaskan pemahaman akan saling
keterkaitan antara semua kehidupan serta hakikat semua makhluk yang pada
dasarnya adalah spiritual. Tidak ada makhluk yang hanya sekedar benda materi
atau objek belaka, dan dengan demikian tak ada makhluk yang pernah bisa menjadi
sebuah komoditas atau barang kepemilikan. Kita semua adalah manifestasi
misterius yang tanpa batas dari kesadaran, dan kedewasaan spiritual yang adalah
suatu kebangkitan dari pembatasan-pembatasan yang melumpuhkan dari materialisme
dan separatisme, yang ditemani oleh perasaan kasih serta welas asih bagi semua
makhluk.
Ide ini telah
diucapkan dengan jelas oleh para mistik, orang suci, dan orang bijak dari semua
tradisi dan budaya sejak zaman dahulu. Dua orang suci pada zaman 2.500 tahun
yang lalu di India–Mahavira, pendiri tradisi Jain, dan Buddha Gautama–telah
menjelaskan kebutuhan spiritual fundamental untuk mengembangkan sikap ahimsa,
atau tidak melukai, dalam hubungan antara pengikut mereka dengan hewan maupun
manusia. Buddha bersabda, misalnya, di sutra Mahaparinirvana, “Memakan daging
akan menghancurkan sikap welas asih yang agung.”16 Penyair suci
Buddhis Tibet pada abad ke-12, Milarepa, menyanyikan, “Dengan membiasakan diri
berkontemplasi pada kasih dan welas asih, saya telah melupakan semua perbedaan
antara diri saya dan yang lain.”17 Mistik Kristen abad ketujuh, Santo
Isaac dari Suriah, bertanya,
Apakah hati yang dermawan itu? Itu adalah hati yang terbakar oleh kasih untuk
semua ciptaan, untuk semua orang, untuk burung-burung, untuk hewan-hewan liar...
untuk semua makhluk hidup. Ia yang mempunyai hati seperti itu takkan bisa
melihat atau memikirkan makhluk lain dengan tanpa meneteskan air mata karena
welas asih yang besar telah mengisi hatinya; sebuah hati yang lembut akan
menjadi tidak bisa tahan bila melihat atau mengetahui segala penderitaan dari
orang lain, bahkan penderitaan paling kecil yang ditimbulkan pada suatu makhluk.
Itulah kenapa orang-orang seperti itu tidak pernah berhenti berdoa untuk
hewan-hewan... karena tergerak oleh rasa kasihan tanpa batas yang menguasai hati
mereka dan telah menyatu dengan Tuhan.18
John Wesley, pendiri Methodisme pada abad kedelapan-belas menulis, “Saya percaya
dalam hati saya bahwa iman dalam Yesus Kristus bisa dan akan membimbing kita
melampaui perhatian khusus untuk kesejahteraan umat manusia ke perhatian yang
lebih luas untuk kesejahteraan burung-burung di halaman kita, ikan-ikan di
sungai, dan segala makhluk hidup di muka Bumi.”19
Orang sufi suci Islam abad ke-19 Misri berkata, “Jangan pernah berpikir orang
lain lebih rendah dari kalian. Bukalah mata batin, dan kalian akan melihat Satu
Kemuliaan yang bersinar dalam semua makhluk.”20
Albert Einstein mengatakannya dengan jelas seperti ini:
Seorang manusia adalah bagian dari keseluruhan, yang kita disebut “Alam
Semesta”, satu bagian yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Dia mengalaminya
sendiri, pemikiran dan perasaannya, sebagai sesuatu yang terpisah dari yang
lainnya—sejenis khayalan optis dari kesadarannya. Khayalan ini adalah sejenis
penjara bagi kita, membatasi diri kita pada keinginan pribadi dan pada kasih
untuk beberapa orang yang terdekat dengan kita. Tugas kita harusnya membebaskan
diri kita dari penjara ini dengan meluaskan lingkaran welas asih kita untuk
merangkul semua makhluk hidup dan seluruh alam ini dengan segala keindahannya.21
Dengan memutuskan cengkeraman materialisme yang membutakan ini, kita bisa
melihat benang halus yang menghubungkan kita semua satu sama lain. Kita semua
tahu bahwa pikiran dan perasaan mempunyai kekuatan. Kita telah melihat, di dalam
kehidupan pribadi dan sosial, betapa efektifnya sebuah perasaan yang kuat dan
pikiran yang jernih dalam memanifestasikan sebuah hasil—karena sebuah medan
energi yang tercipta akan menarik yang lainnya dengan kecenderungan getaran yang
sama, menguatkan lebih lanjut bentuk pikiran yang diberi energi itu. Medan
energi ini akan terus mereproduksi yang sejenis. Ini adalah nyata, sebagai
contoh, Adolf Hitler mengerti kekuatan dari medan pikiran terhadap kesadaran
massal, dan bahwa rekan-rekannya dengan sadar menggunakan simbol-simbol,
semboyan-semboyan, dan pikiran yang terfokus untuk menciptakan sebuah medan
getaran menaklukkan dan keangkuhan yang sangat menarik bagi jutaan orang,
ironisnya, mungkin ini adalah masyarakat yang paling berpendidikan dan nampak
rasional pada masa itu. Keesaan kesadaran manusia juga telah dipertunjukkan
dengan cara-cara yang positif, dan pengaruh dari orang-orang yang tergabung
dalam pemikiran penuh kasih dan doa untuk perdamaian telah terdokumentasi secara
luas. Beberapa peneliti menyebut efek ini sebagai “efek Maharishi”, karena
orang-orang yang dilatih dalam Meditasi Transendental telah melakukan banyak
eksperimen terhadap efek tingkat kejahatan dan indikator sosial lainnya dari
kota-kota tertentu yang ditargetkan, dan dihasilkan oleh sekelompok meditator
yang memancarkan sebuah medan perdamaian dan harmoni yang terfokus.22
Hasilnya cukup mengesankan dan berarti. Beberapa peneliti, seperti Larry Dossey,
M.D., telah mendokumentasikan dan menyelidiki efek doa terhadap penyembuhan
jasmani.23 Penggunaan ilmu pengetahuan materialistis untuk
membuktikan apa yang sudah kita ketahui ini adalah ironis. Materialisme telah
menutupi dan mengabaikan kebenaran bahwa kita semua terhubung, lebih dari
sekedar objek materi terpisah dengan otak yang menimbulkan kesadaran, kita
adalah kesadaran tanpa batas yang bermanifestasi sebagai makhluk hidup dalam
ruang dan waktu. Bukti-bukti untuk ini berlimpah, baik dari ungkapan orang-orang
yang tercerahkan secara spiritual maupun dari dalam hati, pikiran, dan
pengalaman hidup sehari-hari kita sendiri, jika kita membuka mata kita dan
melihatnya! Pengaruh dari berdoa (kesadaran) yang tak dapat dipungkiri dalam
meningkatkan penyembuhan fisik hanyalah salah satu contoh dari hal ini.
Dengan demikian, pencemaran medan kesadaran bersama kita oleh penderitaan
mendalam yang dirasakan oleh miliaran hewan yang dibunuh untuk dijadikan
makanan, adalah fakta yang tidak dikenali yang menghalangi kemajuan sosial kita
dan secara luar bisa memberikan sumbangan pada kekerasan manusia dan peperangan
yang terus terjadi di seluruh dunia. Dengan bergabung bersama untuk berdoa dan
membayangkan perdamaian dunia tentu saja merupakan sebuah gagasan mulia, tetapi
jika kita terus makan di atas penderitaan tetangga kita, kita akan menciptakan
sebuah doa yang monumental dan berkelanjutan untuk kekerasan, teror, dan
perbudakan. Ini adalah doa atas perbuatan kita, dan ini adalah kenyataan yang
dialami oleh miliaran makhluk sensitif yang ada di dalam kekuasaan kita dan
tidak diperlakukan dengan baik.
Sebelum kita mulai menjalani doa untuk perdamaian dan kebebasan dengan memberi
perdamaian dan kebebasan itu juga kepada mereka yang rentan di tangan kita, kita
tidak akan pernah menemukan perdamaian maupun kebebasan. Kegembiraan, kasih, dan
kelimpahan selalu tersedia untuk kita, dan akan selalu hadir di dalam kehidupan
kita sampai pada tingkat di mana kita mengerti bahwa mereka diberikan kepada
kita sebagaimana kita memberikan mereka kepada yang lainnya. Harga yang harus
kita bayar untuk kasih dan kebebasan itu adalah contong (cone) es krim,
bistik, dan telur kopyok (eggnog) yang biasanya kita makan. Secara mental
kita terkondisikan untuk memisahkan makanan kita dari hewan dengan tanpa pikir
panjang telah disiksa untuk menghasilkannya, tapi medan getaran yang tercipta
oleh pilihan makanan kita akan mempengaruhi kita secara luar biasa meski kita
berpura-pura untuk mengabaikannya atau tidak. Berlatih makan dengan penuh
perhatian akan menerangi hubungan-hubungan tersembunyi ini, membersihkan
pikiran, hati, dan perbuatan kita, serta menghilangkan kedok dan pelapis batin
sehingga hal itu akan menjadi cukup jelas terlihat.
Referensi
1. Ken Wilber,
A Brief History of Everything
(Boston: Shambhala, 1966), p. 4.
2. D. Olwens, et al.”Circulating Testosterone Levels and Aggression in
Adolescent Males: A Causal Analysis,”
Psychosomatic Medicine,
50, 1988, pp. 261–272.
3. Neal Barnard,
Eat Right, Live Longer
(New York: Crown Books, 1993).
4. Ibid.
5. Jianghong Liu, et al., “Early Nutrition and Antisocial Behavior,”
American Journal of Psychiatry,
November 2004. See www.newstarget.com/006194.html, also www.usc.edu/uscnews/stories/10773.html.
6. The Heisenberg uncertainty principle is based on the realization in the
1920s that light manifests as a nonlocal continuous wave or as discrete
particles depending on the choice and will of the observer. There is inherent
uncertainty in observation of small particles because it is impossible to
discern simultaneously and with high accuracy both the position and the momentum
of a particle such as an electron or photon. The very act of observing and
measuring inherently changes the nature of the particle wave. The observer
effect is based on the realization by researchers (not just in the “hard”
sciences such as physics, but also in anthropology and other social sciences)
that the act of observation necessarily influences whatever is being observed.
The apparent subject/object split is increasingly seen to be illusory. For more
information on these ideas, see Fritjof Capra,
The Tao of Physics
and
The Turning Point;
Gary Zukav,
The Dancing Wu Li Masters;
Ishtak Bentov,
Stalking the Wild Pendulum;
Fred Alan Wolf,
Mind Into Matter;
Amit Goswami,
The Self-Aware Universe: How Consciousness Creates the Material World;
and others.
7. Cited in Gregg Braden, “Living in the Mind of God,”
Horizons Magazine,
February 2003, p. 9.
8. Andrew Weil,
Health and Healing
(New York: Houghton Mifflin, 1998), pp. 199–254.
9. See J. Alan Boone,
Kinship With All Life
(New York: HarperCollins, 1954), as well as previously cited books by Rupert
Sheldrake.
10. Thich Nhat Hanh,
Peace Is Every Step
(New York: Bantam, 1991), p. 24.
11. Thich Nhat Hanh,
Anger
(New York: Penguin Putnam, 2001), pp. 15–16.
12. Charles Fillmore, “As to Meat Eating,”
Unity Magazine,
October 1903.
13. Charles Fillmore, “Flesh-Eating Metaphysically Considered,”
Unity Magazine,
May 1910.
14. Wendy Melillo, “Doctor’s Group Blasts Milk Ads,”
Adweek,
May 7, 2001, p. 8.
15. “Reverence,”
Albert Schweitzer Fellowship Quarterly,
Fall 1997, p. 27.
16. Shabkar,
Food of Bodhisattvas,
translated by the Padmakara Translation Group (Boston: Shambhala, 2004), p. 60.
17. Lobsang Lhalungpa, tr.,
The Life of Milarepa
(New York: Penguin, 1977), p. 154.
18. Cited in Andrew Linzey,
Animal Theology
(Urbana and Chicago: University of Illinois Press, 1995), p. 56.
19. J. R. Hyland,
God’s Covenant with Animals: A Biblical Basis for the Humane Treatment of All
Creatures
(New York: Lantern, 2000), p. xii.
20. Misri, quoted in Ellen Kei Hua, ed.,
Meditations of the Masters,
cited in Andrea Wiebers and David Wiebers,
Souls Like Ourselves
(Rochester, MN: Sojourn Press, 2000), p. 42.
21. Albert Einstein, letter dated 1950, quoted in H. Eves,
Mathematical Circles Adieu,
1977.
22. Michael Dilbeck, et al., “Consciousness as Field: The Transcendental
Meditation and TM-Siddhi Program and Changes in Social Indicators.”
The Journal of Mind and Behavior,
Winter 1987.
23. See Larry Dossey,
Healing Words: The Power of Prayer and the Practice of Medicine
(New York: Harper, 1994); also
Reinventing Medicine
(New York: HarperCollins, 1999).
|
|